Mencari Tuhan

 

Sebelumnya aku tidak pernah mencoba bertanya pada diriku sendiri apalagi kepada orang lain, “Seperti apakah Tuhan itu?” “Lalu bagiamana kita bisa “berhubungan” denganNya? Entah sejak kapan sebagian besar dari kita hanya dikenalkan lalu didoktrin dengan ajaran agama tertentu. Tuhan tidak lebih hanya menjadi tempat kita mengadu ketika ada kesusahan dan kesedihan, tempat menimpakan kesalahan ketika terjadi musibah, tempat meminta sesuatu (untuk diri kita sendiri) dan lain-lain dan lain-lain. Kita dibuat dengan sedemikian rupa mereduksi Tuhan menjadi hal-hal itu. Padahal Tuhan sangat lebih dari semua itu. Itulah mengapa dalam bahasa Indonesia digunakan kata Maha untuk “melukiskan” Tuhan, karena besarnya Tuhan tidak seperti besarnya gunung, tidak seperti besarnya langit, tapi besar yang tidak dapat kita tangkap dengan indra dan logika kita, manusia.

 

Karena Tuhan tidak dapat ditangkap oleh indra dan logika manusia maka, manusia seringkali membuat dan menciptakan Tuhan sendiri atau setidaknya sesuatu yang lebih bisa tertangkap oleh indra dan logika manusia yang dapat mereka jadikan pegangan dalam menghadapi kehidupan mereka. Manusia ingin sesuatu yang “pasti,” karena manusia cenderung malas untuk susah-susah berfikir dan mencari. Kepastian buatan manusia (indra dan logika manusia) itu yang digunakan oleh manusia sebagai pegangan dalam hidup mereka, yang disebut Nietzsche “membunuh Tuhan.” Tuhan dibunuh oleh manusia dengan cara menciptakan “hal-hal” lain yang difungsikan sebagai Tuhan.

 

the_alchemist2

 

Ternyata Tuhan (yang mungkin bisa disamakan dengan Yang Imaginer dalam psikologi Lacanian) memang tidak akan pernah dapat kita tangkap dengan baik, terutama ketika manusia masih berada di alam simbolik yang hampir bisa dipastikan menggunakan simbol-simbol untuk mereduksi dan menggambarkan Tuhan. Tapi bukan berarti manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap orang bisa mencari, mencari dan mencari. Karena dalam pencarian itu sesekali makna Tuhan akan tertangkap. Karena sesekali seseorang yang melakukan pencarian akan memercik keluar dari rantai penandaan simbolik dan tidak tersubjekkan olehnya. Di bahwa ini adalah cerita tentang seseorang bernama Santiago yang mengikuti ‘takdirnya” untuk mencari harta karun.

 

Santiago adalah tokoh dalam novel karya Paulo Coelho yang berjudul The Alchemist. Setelah kucoba menganalisis (secara strukutural) ternayata kutemukan bahwa yang dicari Santiago sebenarnya bukanlah harta karun berupa harta benda, tapi adalah Tuhan yang tidak dia temukan di seminari. Sayang analisis ini masih terlalu kasar untuk bisa dijadikan sebuah tulisan yang utuh, karena (apologi) ini adalah tugas akhir untuk mata kuliah epistemologi ilmu sosial. Mungkin nanti bisa kuperbaiki dan bisa kujadikan satu tulisan utuh tanpa bagan tanpa tabel agar lebih enak dibaca.

 

 

ANALISIS SEMANTIK OPOSISI BINER

  1. Mimpi >< kenyataan
  2. Keyakinan >< keraguan
  3. Kegigihan/persistence >< menyerah
  4. Keberanian >< ketakutan
  5. Pengembara >< penetap
  6. Penyihir >< orang biasa
  7. Manusia >< binatang
  8. Laki-laki >< perempuan
  9. pencipta >< makhluk
  10. Mencari >< menemukan

Oposisi yang muncul dalam novel ini berupa kategori sifat dan bukan kategori umur atau profesi. Tidak ada kategori baik-buruk yang muncul dalam novel ini. Sepanjang cerita diwarnai oleh mimpi, keyakinan, kegigihan dan tekad dari Santiago untuk mewujudkan mimpinya dan mengikuti legenda pribadinya atau dengan kata lain takdirnya. Berikut analisisnya satu persatu :

a. Mimpi >< kenyataan

Mimpi dalam novel ini adalah mimpi yang dialami oleh orang yang sedang tidur, walaupun menurut saya yang dimaksud tidak sekedar mimpi itu. Setiap orang memiliki mimpi yang suatu ingin diwujudkannya. Hanya orang itu memiliki kemauan atau tidak. Mimpi seringkali tingal mimpi layaknya mimpi sekedar menjadi bunga tidur. Tapi bagi sebagian orang, mimpi harus diwujudkan. Kenyataan sering menyita seluruh perhatian dan tenaga yang membuat seseorang melepaskan mimpinya. Freud bilang mimpi adalah via reggia atau jalan pintas menuju unconscious seseorang. Di mana tersimpan hal-hal yang terepresi sekian lama dan hanya bisa muncul lewat mimpi. Santiago memutuskan keluar dari seminari karena dia merasa tidak dapat menemukan Tuhan di sana. Harta Karun dalam mimpinya adalah ”Tuhan” yang dia cari dan akan dia temukan nantinya. Tuhan yang ia temukan kemudian tidak pula semata-mata Tuhan seperti apa yang pernah bisa dibayangkan dengan bentuk ini atau itu, tapi dalam setiap pencarian itulah ada perjumpaan dengan Tuhan. Seandainya Santiago tidak menuruti mimpinya atau dengan kata lain puas dengan kenyataan saat itu saja, maka dia tidak akan mengalami ”perjumpaan dengan Tuhan.” Harta karun dalam mimpi Santiago tidak sekedar harta benda yang di kemudian hari ia temukan. Lebih dari itu, Santiago menemukan banyak harta yang lain, Fatima salah satunya, pelajaran-pelajaran berharga yang ia pelajari selama perjalanan mencari harta karun dan yang ia pelajari dari sang Alkemis. Anak kecil dalam mimpi Santiago yang bermain dengan domba-dombanya lalu memberitahunya tentang harta karun dan membawanya ke Piramida-piramida bisa jadi mewakili takdir yang membuatnya mencari harta karun dan yang ia ikuti.

b. keyakinan >< keraguan Keyakinan pada diri sendiri dan terutama Tuhan menjadi ”satu-satu”-nya jalan untuk mewujudkan segala yang diinginkan manusia termasuk mewujudkan mimpi. Yakin tidak sekedar keyakinan buta tanpa landasan pengetahuan yang mencukupi. Keyakinan terhadap sesuatu tidak jarang membuat seseorang jatuh ke dalam masalah. Keyakinan Santiago akan mimpinya membuatnya harus menyeberangi Gurun Sahara, bersusah payah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, ditawan, dan dirampok sampai 3 kali. Padahal harta karun itu sendiri berada di depan matanya sendiri. Keraguan ternyata memiliki peran yang sangat besar dalam keyakinan seseorang. Setiap keraguan yang muncul hanya akan membuat keyakinan itu semakin besar dan semakin kuat. Seseorang yang tidak pernah meragukan apapun tidak akan pernah meyakini apapun. Dengan merasa ragu maka seseorang akan mencari ”jawaban” dari keraguan itu, dengan demikian pencarian akan terus berlanjut. Di sinilah terlihat bahwa tanpa keraguan, keyakinan tidak akan berarti apa-apa.

c. Kegigihan >< menyerah Ibarat pepatah ”Tak ada hasil tanpa usaha,” atau kata Kahlil Gibran ”Hidup adalah perjuangan,” maka kegigihan adalah usaha yang terus menerus tak kenal lelah dalam menghadapi hidup. Menyerah berarti ditundukkan. Ditundukkan berarti tanpa kebebasan. Menyerah berarti ”mati.” Kegigihan diwakili oleh usaha Santiago yang tak ada hentinya, sementara menyerah diperlihatkan oleh para Settler yang menyerah pada keadaan dan kemudain melepaskan impian mereka.

d. Keberanian >< ketakutan Berani bukan berarti tidak takut pada apapun, tetapi berani melakukan sesuatu walupun merasa takut. Kutipan itu sering terdengar tapi lupa siapa yang mengatakannya. ketakutan bukan berarti sah tidak melakukan apa-apa. Tidak ada keberanian tanpa rasa takut. Seperti kata Saussure, ada pintu karena ada yang bukan pintu, misal kursi, jendela, tembok dll. Maka ada berani karena ada ketakutan. Inilah yang dilakukan Santiago. Pengalamannya yang sedikit (disebut pemula oleh Melkisedek) dan bekal yang sedikit (uang, pengetahuan tentang Mesir dan Afrika) tidak membuatnya takut untuk melangkah.

e. Pengembara >< penetap/settler Seorang penetap/settler adalah orang yang tunduk pada struktur dan tidak berani keluar. Struktur itu menjajah dan membelenggu. Contoh dalam novel itu adalah ayah Santiago, Tukang Roti dan Pemilik Toko Kristal. Mereka adalah para settler. Seperti kata Melkisedek ”Pada akhirnya, pendapat orang tentang penggembala dan tukang roti jadi lebih penting bagi mereka daripada takdir mereka sendiri.” Para settler ini disubjekkan oleh pendapat orang, oleh wacana yang mengatakan bahwa pengembara adalah orang yang begini begitu, contohnya tidur di alam terbuka artinya tidak memiliki rumah, tiiak memiliki penghasilan yang tetap, dengan bahasa sekarang ”tidak memiliki masa depan.” Settler pasti mengikuti gaya hidup tertentu, seorang yang menetap di Andalusia akan bergaya hidup seperti kebanyakan orang Andalusia. Setiap settler sesungguhnya pernah memiliki keinginan untuk menjadi pengembara tetapi mereka memilih untuk tidak melakukannya karena ketiadaan keberanian untuk memercik dan meloncat keluar dari rantai penandaan. Pengembara adalah subjek yang tidak mau ditundukkan oleh struktur. Dia tidak mengikuti satu ”budaya” tertentu. Di halamn 23 : Itulah daya tarik berkelana baginya—dia selalu mendaptkan teman-teman baru, dan dia tidak perlu bersama-sama mereka sepanjang waktu. Kalau kita bergaul dengan orang-orang yagn sama setiap hari, seperti yang dialaminya di seminari, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yagn dikehendaki orang-orang lain, maka orang-orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagiamana seharusnya menjadlai hidup sendiri. Dengan kata lain, pengembara cukup bebas untuk menentukan banyak hal bagi dirinya sendiri tanpa terbebani oleh identitas tertentu. Pengembara memilih sesuatu yang tidak pasti, sedangkan settler lebih memilih jalan aman karena takut akan ketidakpastian. Para settler ”membunuh Tuhan” dengan hanya memegang hal-hal yang pasti saja, sedangkan pengembara adalah mereka yang membiarkan Tuhan hidup tanpa ’mereduksinya” menjadi sesuatu yang pasti yang bisa mereka gantungi setiap saat. Settler artinya tidak mampu memilih takdirnya sendiri sedangkan pengembara adalah kebalikannya. Settler mempercayai sebuah dusta besar : bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yagn terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Menyalahkan nasib atas apa yang terjadi padanya, menyalahkan Tuhan.

f. Penyihir >< Ilmuwan Penyihir mewakili kekuatan di luar kekuasaan manusia tapi di bawah kekuasaan Tuhan yang seringkali atau bahkan selalu tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Sementara ilmuwan adalah orang yang melakukan segala sesuatu berdasarkan rasionya berdasarkan ilmu pengetahuan. Dalam novel ini adalah sang Alkemis sendiri. Dia bisa melakukan banyak hal dan mengetahui lebih banyak dari siapapun. Salah satunya merubah apapun menjadi emas. Berlawanan dengan alkemis yang hanya tinggal di dalam laboratorium dan melakukan banyak percobaan (yang disebut ilmuwan). Sang Alkemis mempelajarinya dari tindakan, dari pengalamannya selama bertahun-tahun. Ilmuwan tidak selalu menjanjikan kebenaran. Faktor-faktor tak terduga bisa saja terjadi sepanjang perjalanan hidup yang tidak dapat diramalkan oleh ilmu pengetahuan (tapi bisa diramalkan oleh penyihir). Sesekali kita juga bisa mempercayai perkataan penyihir walau kebenarannya tidak dapat dibuktikan dengan akal sehat dan tidak berdasarkan logika, serta tidak didapatkan dari langkah-langkah ilmiah. Bisa jadi itu ”suara Tuhan” yang disampaikan lewat mulut penyihir, siapa tahu? Baik penyihir maupun Ilmuwan memiliki dua hal yang sama, yang disebut cultural capital oleh Bourdieu. Penyihir dengan kekuatannya sementara Ilmuwan dengan ilmunya. Penyihir dalam hal ini Sang Alkemis ”menguasai” Santiago dan membuatnya percaya kepadanya dengan cara menunjukkan kemampuannya melihat masa depan, menyihir dan pengetahuannya tentang banyak hal. Begitu pula si pemuda Inggris yagn telah menghabiskan waktu sepuluh tahun di universitas dengan buku yang selalu dibawa kemanapun dia pergi. Penyihir dan Ilmuwan bertarung memperebutkan Santiago.

g. Manusia >< binatang Orang tua berkata bahwa manusia berbeda dengan binatang karena manusia dilengkapi dengan akal-fikiran pada waktu penciptaannya sedangkan binatang tidak. Dalam novel ini diwakili oleh Santiago dan domba-dombanya. Santiago (manusia) adalah gembala bagi domba-dombanya. Dialah yang mengambil keputusan kapan akan kemana, sedangkan domba-dombanya hanya mengikuti saja. ”Domba-domba itu tidak menyadari bahwa setiap hari mereka menempuh jalan baru. Mereka tidak melihat bahwa padang-padangnya barud an musim datang silih bergandi. Mereka hanya peduli tentang makanan dan air.” (hal 17) Jika manusia hanya mempedulikan makanan dan air, artinya hanya mencari makan saja yang mereka kerjakan, lalu apa bedanya manusia dengan binatang? Tidak ada hal lain yang mereka kerjakan kecuali ”mencari makan” yang di jaman ini dikatakan bekerja, yang (lagi) ternyata tidak lagi sekedar mencari makan tetapi menumpuk kekayaan. Entah berapa banyak manusia yang tidak melakukan sesuatupun bahkan sekedar untuk dirinya sendiri, seperti mewujudkan mimpi masa kecilnya, apalagi untuk orang lain, apalagi untuk kemanusiaan. ”Mereka hanya peduli tentang makana dan air (dan sesekali bercinta_pen).”

h. Laki-laki >< perempuan Laki-laki sangat dominan dalam cerita ini. Santiago si pengembara, Melkisedek si Raja Salem, Sang Alkemis, si Tukang Roti, Pemuda Penipu, Pemilik Toko Kristal, pemuda Inggris yang ingin menjadi Alkemis, Kepala suku, pengungsi, semuanya laki-laki. Hanya ada 3 perempuan di sana, Perempuan tua peramal, putri saudagar dan Fatima. Latar tempat yang berada di Mesir yang berjiwa islam mungkin bisa menjadi alasan karena konon katanya islam identik dengan budaya patriarkal, walau saya sendiri tidak sepakat. Tapi novel ini memang menonjolkan maskulinitas. Pengembara adalah seorang lelaki, karena dibutuhkan ketegaran, kegigihan, keyakinan (yang tak goyah), rasionalitas, yang entah oleh siapa hampir tidak pernah dilekatkan pada perempuan. Selain itu ”keterbatasan” perempuan membuatnya menjadi penetap bukan pengembara. Datang bulan pasti menjadi masalah dalam sebuah perjalanan panjang. Fisik yang konon tidak sekuat laki-laki akan menjadi penghalang baginya untuk mencapai tujuan. Perempuan adalah settler, dengan sabar menunggu kedatangan lelaki pengembara untuk datang padanya dengan membawa segala sesuatu yang mereka butuhkan nantinya. Perempuan adalah pasif, tidak kreatif dan aktif melakukan banyak hal. Sementara yang memiliki dan mengejar mimpi adalah laki-laki. Mungkin kebetulan saja Santiago berjenis kelamin laki-laki, tapi ayahnya, si tukang roti dan pemilik toko kristal yang pernah memiliki mimpi tapi tak diwujudkan juga seorang laki-laki. Tak seorang perempuanpun digambarkan memiliki mimpi. Kecuali Fatima yang memimpikan Santiago yang kan datang padanya suatu hari. Pekerjaan yang cocok bagi perempuan salah satunya menjadi peramal, yang tinggal di rumah menunggu pelanggan datang menghampiri dan memberinya uang. Setelah tua perempuan hanya mengandalkan pemberian dari anak-anaknya. Seperti yang terjadi pada perempuan tua peramal. Perempuan hanya menunggu…

i. Pencipta >< Makhluk Pencipta memiliki kekuasaan yang tak terbatas terhadap makhluknya. Dalam hal ini adalah Tuhan. Tuhan ibarat sutradara sebuah sandirwara, sedangkan makhluknya, dalam hal ini adalah manusia, adalah pemain sandiwara itu. Dengan atau tanpa keikutsertaan seorang manusia di dalamnya, sandiwara akan tetap terus berlangsung karena sang sutradara belum menghentikannya. Tapi sutradara memberikan kesempatan kepada seorang manusia untuk menyumbangkan sebaris dialog, atau sebait puisi yang akan mewarnai sandiwara itu. Mungkin itu analogi yang cukup dekat untuk menggambarkan pencipta (Tuhan) dengan makhluk-Nya (manusia). Itu pula yang dilakukan oleh Santiago, menyumbangkan sebaris dialog di panggung sandiwara dengan mengembara dan mencari harta karunnya sendiri. Sang Pencipta bukan berarti tidak ternjangkau oleh makhluk-Nya. Dengan pencarian tiada henti, usaha-usaha mengenali pertanda-pertanda-Nya akan membuat seseorang mampu menjangkaunya.

j. Mencari >< menemukan Pepatah (lagi) bilang yang mencari, yang menemukan. Walau setiap pencarian belum tentu menghasilkan penemuan tetapi setiap pencarian akan memberikan satu kesempatan untuk menemukan sesuatu atau bahkan lebih dari yang kita harapkan sebelumnya. Tetapi orang yang berhenti mencari tidak akan pernah menemukan apa-apa. Mencari adalah hal yang terpenting dalam hidup. Mengutip Subcomandante Marcos, ”Orang yang tidak punya gairah untuk mencari, bercinta, berjuang,..tidak beda dengan mayat hidup.” Kalau Katolik dapat dioposisikan dengan Islam (sebagaimana banyak dilakukan orang) maka oposisi Katolik >< Islam ”seharusnya” muncul dalam novel ini. Karena Santiago adalah seorang Katolik kemudian pergi ke Mesir yang merupakan sebuah negara Islam, dan kemungkinan besar penduduknya beragama Islam. Tapi oposisi itu ternyata tidak muncul. Ternyata Katolik atau Islam tidak penting ketika berhubungan dengan pencarian Tuhan. Novel ini menunjukkan bahwa Tuhan ada di mana-mana, artinya Tuhan tidak hanya di gereja, masjid, seminari, pesantren atau biarawan. Bahkan tidak jarang Tuha tidak ditemukan di tempat-tempat itu, tapi justru di tempat-tempat yang sering kita anggap sederhana, kandang berbahaya atau ganas seperti gurun pasir, lautan luas. Dalam kehidupan sehari-hari yang sering dianggap tak berarti apa-apa dan tidak berpengaruh, tidak jarang di situlah kita bisa ”menemukan” Tuhan, dan berjumpa dengan-Nya.

Catatan : aku belum belajar Nietzsche, tapi gara-gara kakak sering cerita tentang Nietzsche lama-lama aku sedikit paham. Selain itu membaca tulisan-tulisan Gunawan Mohammad (terutama Caping) yang sangat Nietzsche-an itu dengan sendirinya memperkaya perbendaharaan, setidaknya kata kalau belum pengetahuan. 


About this entry