Ya Basta!!! (Cukup!!)

Setahun sudah usia pemberontakan ini. Setahun sudah sejak kukatakan “Cukup!” (Meniru Subcomandante Marcos mengucapkan “Ya Basta!”). Cukup untuk penindasan ini, cukup untuk keterkungkungan ini.

Terlalu ekstrim mungkin untuk mengidentifikasikan diriku dengan Marcos dan keluargaku dengan pemerintah Mexico. Tapi somehow itulah yang kurasakan. Di luar dari semua yang telah mereka lakukan untukku, ternyata di dalamnya ada sebentuk penindasan. Jiwa pemberontakku sebenarnya sudah ada entah sejak kapan, tapi baru setahun belakangan ini terlihat jelas.

Sejak bapak meninggal, aku dibesarkan oleh ibu dan saudaraku. Kepadaku selalu ditekankan bahwa mereka telah mengorbankan banyak hal untukku karena aku tak punya bapak lagi. Merekalah yang membiayai sekolah dan hidupku. Somehow menegaskan bahwa aku berhutang budi bahkan hidup pada mereka. Aku tidak boleh berbuat apapun yang tidak dibenarkan oleh mereka, yang tidak sesuai dengan mereka.

Aku harus selalu berbuat benar. Setiap kesalahan sekecil apapun yang akan membuat mereka tidak suka, selalu menjadi siksaan berat bagiku. Perbedaan pendapat dengan mereka harus dihindari, aku harus selalu bersifat kompromistis dan afirmatif terhadap apapun yang mereka katakan.

Tidak boleh ada kesalahan. Sejak SD-SMP hanya rangking satu yang diterima di keluargaku. Suatu saat ketika di SMA ada nilai merah di raporku, dan itu bagaikan bencana besar bagi mereka. Aku harus mencontoh si ini dan si itu karena dia begini dan begitu. Itulah pertama kali aku memperlihatkan jiwa pemberontakku, dengan takut kukatakan “aku adalah aku, aku bukan dia. kalo dia begini begitu ya dia. aku begini.” Sejak saat itu aku diberi cap kekanak-kanakan dan egois.

Banyak sekali hal yang tidak bisa kuingat ketika aku masih di SMA. Saat itulah aku mulai mendapatkan kuliah-kuliah panjang dari kakakku. Aku baru ingat setelah aku kembali tinggal serumah dengannya, yang artinya kuliah-kuliah itupun kembali kudapat. Sebelumnya aku tidak mau ingat. Kusimpan dalam sebuah lemari yang kuncinya kubuang. Dia menyebutnya nasihat. Tapi aku menyebutnya penindasan. (Menulis ini membuatku tidak bisa bernafas, seolah aku masih mengalaminya.) Tidak satupun dari kuliahnya yang kusimpan dalam ingatanku. Kubiarkan mereka lewat begitu saja. Karena memang aku tidak pernah ingin mengingat kembali.

Biasanya malam hari. Ketika semua orang tidur, aku akan dipanggilnya menghadap, kadang di ruang tamu, kadang dia ke kamarku, kadang di mana saja semau dia. Setiap namaku dipanggil, ketakutan datang menyergap. Disuruhnya aku duduk di kursi, biasanya berhadapan dengannya. Dan dimulailah siksaan itu. Tubuhku seperti diikat ke kursi, mulutku dibungkam dan kepalaku tertunduk menatap bumi. Kadang-kadang air mata menetes, tapi lama-lama aku belajar untuk tidak menyianyiakan air mataku. Diikuti gerakan tangan bak seorang orator, dengan gaya seorang polisi yang menginterogasi tersangka, selama berjam-jam dia akan terus berbicara tentang banyak hal. “Kamu seharusnya begini, begitu, kamu tidak seharusnya begini begitu. Kamu salah, kamu tidak pernah dewasa, kamu, kamu dan kamu….” Selama kuliah berlangsung tidak boleh ada interupsi, sanggahan atau pertanyaan. Aku harus diam seribu bahasa, menundukkan kepala dan (berpura-pura) mendengarkan. Jika mulutku sampai mengelurakan satu katapun dia cepat-cepat memotong “Tunggu, sekarang aku yang bicara, kamu yang mendengar. Kalau mau ngomong nanti saja.” Setelah merasa puas (mungkin) dia akan berkata “ok, sekarang giliranmu bicara.”

Aku lebih memilih untuk menutup mulutku rapat-rapat. Sekali pernah kucoba berbicara, mengatakan apa yang ingin kukatakan. Yang terjadi justru siksaan yang lebih berat bagiku. Lebih banyak label akan keluar dan lebih banyak kesalahan akan ditunjukkan olehnya. Tak ada seorangpun yang pernah membelaku. Ketika dia bilang salah, maka semua orang akan bilang salah. Di matanya semua perbuatanku salah. Apapun yang kulakukan tidak akan pernah benar di matanya apalagi membuatnya bangga.

Mungkin tidak adil kalau aku menyalahkan semua orang dalam keluargaku, tapi mereka tidak berbuat apa-apa melihat semua ini. Mereka semua diam saja bahkan cenderung membenarkan dan mendukung. Tidak ada yang berani menghadapinya. Ke-jawa-anku selama ini membuatku diam saja dan menurut. Tidak pantas bagiku untuk melawan orang yang lebih tua, terlebih lagi orang yang sudah sangat berjasa bagi hidupku.

Tiga tahun yang lalu aku “dipaksa” untuk tinggal serumah dengannya. Dan seperti kukatakan di atas, semua itu datang menerpaku lagi. Kuliah adalah masa yang paling menyenangkan bagiku. Aku bisa jadi apapun yang kuinginkan, dan yang pasti jauh dari “kuliah-kuliah” masku. Setahun tinggal di sana kuputuskan untuk pergi. Aku depresi…

Kukumpulkan semangat yang tersisa, dan kusembuhkan diri dari depresi pelan-pelan. Satu setengah tahun yang lalu aku kenal Marcos, dan beberapa orang lain yang sangat membantu dalam kesembuhanku. Sejak setahun yang lalu, kuputuskan untuk benar-benar memberontak. Dan kukatakan cukup terhadap penindasan ini.

Yang kualami adalah kekerasan simbolik. Bagaimana masku yang lebih tua, merasa lebih tahu dan lebih berpengalaman, dalam bahasa Bourdieu memiliki cultural capital melakukan kekerasan terhadapku. Selain cultural capital, dia juga memiliki economic capital. Kepemilikan kedua kapital itulah yang memungkinkannya melakukan hal itu. (Di ruang kuliah, ketika Romo Moko memberikan penjelasan tentang Bourdieu, yang terbayang adalah saat-saat masku memberikan “kuliahnya.”)

Kata Bourdieu, habitus + capital = practice. Dalam kasusku, capital-nya jelas, cultural dan economic capital. Masku lebih tua, secara kultural dan mungkin religius dia mendapatkan banyak hak dari kelahirannya yang lebih dulu dariku, inilah cultural capitalnya. Secara ekonomi dia lebih mapan, dia memberiku tempat tinggal, membiayai sekolahku dan dia memiliki lebih banyak uang dariku, ini economic capitalnya.

Habitus muncul salah satunya dari kebiasaan yang turun-temurun dalam sebuah kultur atau bisa jadi keluarga. Masku yang hobi memberiku “kuliah” adalah sebuah habitus. Kalau dilihat hal itu sudah terjadi sejak belasan tahun yang lalu dan masih berlangsung. Sumbernya dari mana, aku sendiri tidak tahu. Perpaduan habitus dan capital itulah yang membuat satu praktik sosial terjadi. Dalam kasusku sebuah kekerasan (simbolik).

Aku bisa dibilang bersyukur bisa pergi. Jangan sampai perkataan Bourdieu terbukti bahwa kekerasan simbolik adalah pintu gerbang bagi kekerasan fisik, naudzubillah…..


About this entry