Pembunuhan

Bandung memang dingin. Hari sudah beranjak malam. Ibuku sudah berada di balik selimutnya. Masku datang entah dari mana lalu mengajak ibuku pergi ke tempat tukang pijit di dekat rumahnya. Ia juga mengajakku, katanya kita temani ibu berobat. Tanpa prasangka apapun aku mengiyakan.

Kami bertiga berjalan dalam udara yang dingin. Masku mengetuk pintu berwarna biru yang hanya berselang dua rumah dari rumahnya. Seorang perempuan seumuranku membukakan pintu lalu mempersilahkan kami masuk dan duduk di atas karpet. Ruang tamu itu lebarnya hanya sekitar 3 meter, berisi karpet, akarium kotak di atas meja, kulkas dan 2 jaket kulit yang digantung terpisah di dinding. Pintu ke dalam ditutup dengan tirai berwarna biru senada dengan warna karpetnya. Dinding ruang tamunya dicat berwana biru juga. Pemiliknya mungkin suka warna biru.

Wanita itu duduk sebentar menemani kami. Tak lama, seorang laki-laki berumur akhir 30-an atau awal 40-an keluar dari pintu bertirai itu. Bersarung hijau, baju takwa keabu-abuan dan berpeci. Dengan tasbih di tangan dia duduk berbincang dengan masku. Masku mewakili kami (ibuku pertamanya) mengatakan keluhannya. Kaki dan pinggang pegal, susah berdiri dan sebagainya dan sebagainya. Laki-laki itu menyuruh ibu menjulurkan kakinya, lalu memegang dan memijatnya. Dia berkata “Ini ginjalnya kotor bu, asam uratnya juga naik. Wah ibu punya maag yang sudah kronis ya?” Aku teringat akan pak Miswan, kepada siapa beberapa orang temanku pergi untuk dipijit. Dia bisa mendeteksi berbagai macam penyakit dengan pijitan tangan. Setelah memberi beberapa nasehat agar penyakit ibuku lebih ringan, tiba giliranku untuk “diperiksa.” Dengan cara yang sama dia berkata ada radang di ususku, aku sebaiknya tidak minum es.

Yang berikut ini sungguh mengejutkanku. Tiba-tiba dia seperti tersentak lalu berkata “Wah ini ada penguncinya mas.” Pengunci? Tanyaku dalam hati. Setelah itu dengan berbisik-bisik entah mengucapkan apa, dia seperti menarik sesuatu dari kakiku lalu dibuangnya. Dua atau tiga kali.

“Jadi mas, dalam tubuh adek ini ada pengunci yang dikirim sama orang, supayanya dia tunduk, nurut sama orang itu. Apapun yang dikatakan orang itu akan adek turutin. Saya kasih tahu ya? tapi jangan kaget. Celana dalam adek dicuri sama orang itu.” Setelah berkata demikian dia masuk ke dalam. Dalam hati dan otakku yang ada hanya kutukan, aku mengutuk diriku sendiri yang mau diajak ke sini, mengutuk masku yang masih saja percaya dengan dukun, bahkan ibuku dibawa-bawa. Serasa ingin berlari pulang, tapi dalam hati aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Laki-laki itu keluar dengan membawa segelas air panas dan mangkok. Dia tuangkan 2/3 air ke dalam mangkok, lalu dia pegang jari tengah tangan kiriku. Disuruhnya aku memejamkan mata dan berdoa. Karena penasaran dengan apa yang akan dilakukannya, aku tetap membuka mataku. Masih dengan berbisik-bisik dia mengucapkan entah apa. Aku yang ada di depannya pun tidak dapat mendengarnya. Yang kuingat saat itu hanya tuhan, tuhan dan tuhan. Sambil memohon ampun. Setelah selesai dia suruh aku meminum air yang tersisa di gelas. Ternyata air itu dingin, padahal beberapa menit yang lalu aku bisa melihat uap panasnya mengepul. Dengan bangga dia berkata, “Nah dingin kan? itu artinya penguncinya sudah hilang. air yang baru saja diminum itu sebagai pelindung adek dari kiriman-kiriman orang.”

Wew. Ternyata aku tidak menyadari bahwa tujuan utama adalah mengobati ibu tapi kok malah aku yang jadi perhatian utama…Semakin aku ingin pergi dari tempat itu.

Dukun itu (aku ganti kata gantinya) bertanya siapa nama atasanku. Kutanya balik, atasan persis atau atasan paling tinggi? Dukun itu belum menjawab masku sudah menyebutkan nama atasanku persis. Lalu dengan ewes-ewes lagi dia memutar-mutar mangkok berisi air dan berkata “Adek akhir-akhir ini tidak semangat dalam bekerja, padahal dulu prestasinya baik. Nah ini juga disebabkan oleh kiriman orang tadi. Selain itu dia ingin menikmati hasil kerja adek, dia jadikan adek sapi perahannya. Nanti setelah dari sini Insya Allah adek akan semangat lagi dalam bekerja, karena kiriman orang itu sudah saya hilangkan dan adek sudah saya beri perlindungan.”

What? Dari mana dia dapet ide seperti itu? Dan belum berhenti sampai di situ.

Kembali memutar mangkuk berisi air itu dia bilang ke ibu “Adek ini bu, dia tiga sinar.” Dengan rasa ingin tahu ibuku bertanya “Tiga sinar itu apa?” “Artinya bu, adek ini kalo dapat suami yang benar wah bisa sukses segalanya, tapi kalo jatuh ke tangan yang salah, bisa hancur segalanya.” Ibuku sepertinya mempercayainya, tapi entahlah. Dia berikan nasihat-nasihat kepada ibu dan kami dengan sesekali mengutip ayat ini itu dan hadist ini itu.

Sambil melakukan apa yang disebutnya “ritual” terhadapku, dia bercerita tentang dirinya. Masku dengan bangganya mengatakan padaku bahwa dukun itu dulu sepondok sama Aa Gym. So What??? Lagipula emang Aa Gym pernah mondok? hueheh. Lalu dukun itu bilang pernah pernah di Gontor dua tahun. “Saya dari ponorogo ke banten jalan kaki bu!” (Kurasa tanda seru pas untuk kalimat ini) Sudah mau keluar dari mulutku pertanyaan angkatan berapa? kenal dengan si ini atau si itu ga? Tapi kuurungkan niatku, aku yakin itu hanya akan memperparah situasi saja. Dia juga bercerita siapa saja “tamunya” ada dari Aceh, Palembang (kenapa sih kota ini disebut?), Semarang dan sebagainya dan sebagainya. Artis juga banyak yang datang, untuk ini untuk itu. Tak kuperhatikan lagi.

Aku memilih memperhatikan ikan-ikan dalam akuarium yang sedang bertelur. Tanpa peduli dengan topik percakapan saat itu aku bilang “Ikannya lagi bertelur.” Dan mereka pun mengubah topik pembicaraan. Entah berapa lama kemudian, masku berpamitan sambil menyerahkan uang 250 ribu rupiah. “Ini 150 untuk yang kemaren dan yang ini untuk hari ini.” Wajah dukun itu tentu saja sangat sumringah. Dan aku merasa teramat lega karena semua ini sudah berakhir. Sebelum kami pulang dia berkata besok jamunya bisa diambil.

Pulang ke rumah masku, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya marah dan takut. Aku yakin, mereka berdua saat itu sedang mencari kira-kira siapa yang bisa menjadi tertuduh, siapa yagn telah mencuri cd-ku lalu mengguna-guaninya. Dan aku tahu siapa yang mereka jadikan sebagai tertuduh.

Setelah shalat isya, kurebahkan diriku di kasur dan kuberbisik “Oh Tuhan malam ini aku baru saja membunuhMu.”


About this entry