Konteks Sosio-kultural-politik-ekonomi Inggris dan kaitannya dengan karakter Kajian Budaya

Kajian budaya bisa dikatakan lahir di Inggris. Momentum institusionalnyalah yang membuat sebagian besar orang menyebutnya demikian. Sebelum menjadi negara industri maju, dulu Inggris merupakan negara pertanian dengan menggunakan sistem feodal. Pertumbuhan industri yang mulai muncul di abad XVIII menumbuhkan kelas sosial baru, yaitu kelas pekerja. Kelas pekerja ini sejak kemunculannya luput dari perhatian banyak orang. Berakhirnya Perang Dunia II dan dekolonisasi negara-negara jajahan memberi pengaruh yang sangat besar bagi kemunculan Kajian Budaya. Perang Dunia II berakhir dengan ‘kemenangan’ sekutu. Di Inggris kesempatan mendapatkan pendidikan diperluas tidak hanya untuk mereka dari golongan ‘atas’ namun kelas pekerjapun diijinkan untuk mendapatkan pendidikan lanjut. Selain itu, pendidikan untuk orang dewasa sangat dikembangkan sebagai sarana rekonstruksi paska-perang. Pembukaan kesempatan ini mengakibatkan kemunculan banyak intelektual yang berasal dari kelas pekerja. Dekolonisasi negara-negara jajahan yang mengikuti berakhirnya perang dunia II juga memberikan kesempatakan yang lebih luas penduduk negara bekas jajahan untuk belajar dan mencari pekerjaan di bekas negara penjajahnya. Dalam konteks Inggris, salah satu yang paling besar adalah penduduk India dan Pakistan yang belajar dan bekerja di Inggris.

Pada waktu itu (paska Perang Dunia Kedua) kelompok elit Inggris masih menjadi kekuatan dominan sebagaimana yang terjadi sebelum perang, kelompok elit ini terutama adalah bangsawan, ilmuwan pengusaha dan para intelektual. Dahulu ketika industri belum berkembang, Inggris adalah salah satu negara yang menganut sistem feodal. Ada bangsawan pemilik tanah luas yang menyewakan tanah kepada petani untuk diolah. Ketika industri (benang wol waktu itu) mulai masuk ke Inggris, para petani ini terusir dari tanah-tanah (sewaan) mereka, karena tanah itu dijadikan ladang penggembalaan domba yang bulunya akan dijual ke industri benang wol. Pengusiran ini oleh Marx disebut dengan enclosure. Nah, para petani yang kehilangan tanah ini kemudian menjadi pekerja atau buruh di industri-industri yang baru muncul itu. Buruh atau pekerja berada di lapisan terbawah dari hirarki kelas sosial yang ada di Inggris. Mereka dianggap ‘tidak berbudaya’. Yang dikatakan budaya waktu itu adalah apa yang disebut sebagai high culture, budaya-tinggi, budaya yang hanya bisa dinikmati oleh orang tertentu dalam ruangan privat. Seperti orkestra, opera dan lukisan terkenal karya maestro dunia. Kaum elit ini menunjukkan kekuatannya dengan memberikan legitimasi terhadap dan menunjukkan bentuk dan praktik budaya mereka.

Sementara itu, pertunjukan drama di kedai kopi ataupun orkes pinggir jalan termasuk dalam kategori low-culture, budaya rendah—budaya yang bisa dinikmati siapa saja tapi tidak oleh mereka yang berstatus sosial tinggi. Di sisi lain, terpaan budaya pop Amerika terhadap kaum pekerja ini sangat gencar. Dan kaum pekerja menyerapnya dengan mudah. Inilah yang mengkarakterisasikan budaya kelas pekerja. Tidak sama dengan budaya pop-tradisional namun juga bukan semata-mata budaya pop-Amerika yang diserap serta merta.  Kategorisasi ini tentu saja dibuat oleh mereka kelompok elit untuk melakukan, dalam istilah Bourdieu distingsi sosial, membedakan diri dari kelas pekerja (terutama) dengan memiliki taste budaya yang berbeda. 

Kategorisasi dan peminggiran budaya selain high culture ini merupakan salah satu faktor yang memberikan Kajian Budaya satu karakter yang berbeda dari kajian lain, yaitu subjek kajian (subjek matter)-nya adalah praktik budaya dan relasinya dengan kekuasaan. Tujuan utamanya adalah menunjukkan relasi kuasa dan meneliti bagiamana relasi ini mempengaruhi danmembentuk praktik-praktik kultural. Tumbuh di negara industri juga membuat Kajian budaya berkomitmen pada evaluasi moral masyarakat modern dan membatasi aksi politik. Kajian budaya bukan kajian yang bebas nilai tetapi berkomitmen dengan konstruksi sosial. Sehingga kajian budaya bertujuan untuk memahami dan mengubah struktur dominasi di manapun dominasi itu ada, terutama dalam masyarakat kapitalis industri.

Kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi ini membuat para intelektual kelas pekerja berfikir tentang budayanya sendiri yang bahkan tidak disadari keberadaannya. Para intelektual kelas pekerja ini berusaha meruntuhkan hirarki sosial yang demikian itu, dan sekaligus meruntuhkan ‘kesucian’ high culture dengan merayakan budaya popular kelas pekerja yang otentik. Namun demikian Kajian Budaya bukanlah kajian tentang budaya yang terpisah dari konteks sosial dan politiknya. Kajian Budaya berusaha memahami budaya dalam bentuk-bentuknya yang kompleks dan menganalisa konteks sosial dan politik dalam mana budaya memanifestasikan dirinya. Richard Hoggart dalam bukunya yang berjudul The Use of Literacy di tahun 1975 menunjukkan bagaimana konteks sosial dan politik yang melandasi kemunculan budaya kelas pekerja di Inggris. Hoggart seorang yang berasal dari kelas pekerja. Ia menulis ““sosiologi-budaya”  kelas pekerja dengn menggunakan teori sastra!” (Sunardi 2004: viii, tekanan  asli dari penulis). Tulisan ini memberikan bentuk intelektual bagi Kajian Budaya yang bisa dikenali dengan mudah. Hoggart berpendapat bahwa pembacaan kritis terhadap seni bisa mengungkap “felt quality of life” suatu masyarakat (terjemahan bebas dari Sardar & van Loon, 1999:27). Hoggart adalah salah satu pendiri Centre for Contemporary Cultural Studies di University of Hull.

Dalam buku ini Hoggart menggambarkan tentang kehidupan kelas pekerja sebelum dan sesudah perang.  Perubahan-perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah menjadi pekerja. Hoggart menyimpulkan bahwa budaya popular tradisional (sebelum menjadi pekerja) berbeda dengan budaya kelas pekerja yang berhubungan dengan kondisi sosial kelas pekerja (yang menghasilkan dan mengkonsumsi budaya itu). Karya Hoggart ini menjadi salah satu tonggak penting dalam Kajian Budaya di Inggris. Keberpihakan kelas yang ditunjukkan dalam karya Hoggart ini kemudian menjadi ciri penting Kajian Budaya, baik di Inggris maupun di seluruh dunia.

Eksponen Kajian Budaya yang juga dari kelas pekerja adalah Raymond Williams. Baginya budaya adalah entitas yang iklusif (all-inclusive entity), ‘cara hidup secara keseluruhan’, material, intelktual dan spiritual (Sardar & van Loon, 1999: 29). Ia meneliti konsep tentang budyaa dari Revolusi Industri sampai dengan masyarakat Inggris paska Perang Dunia Kedua. Williams mengatakan bahwa masyarakat Inggris telah mengalami berbagai revolusi: industrialisasi, demokratisasi dan transformasi. Dua founding fathers lain adalah E. P. Thompson dan Struart Hall. E.P. Thompson dalam karyanya The Making of the English Working Class (1978), berusaha mendeskripsikan kemengadaan (come into being) kelas pekerja di Inggris dalam periode sejarah yang spesifik. Dan mengembalikan perhatian masyarakat kepada satu populasi di Inggris yang luput dari perhatian tradisi dominan sejarah konvensional. Dalam karya ini sangat kental dengan tradisi Marxist walau muncul perbedaan di sana sini tentang berberapa konsep.

Stuart Hall adalah yang paling terkenal di antara keempatnya. Ia mengatakan bahwa Kajian Budaya harus mampu menjawab personal teoretis dan politik. Kajian Budaya bisa benar-benar memiliki implikasi praktis terhadap realitas. Walau banyak bertitik tolak dari tradisi Marxist, namun Hall banyak juga memberikan kritik terhadap tradisi ini. Salah satunya bahwa masyarakat tidak hanya ditentukan dan disetir oleh konflik ekonomi saja, namun juga oleh konflik berbasis ras, gender, agama dan wilayah. Sehingga Kajian Budaya memperlihatkan perbedaanya dengan analisis Marxist yang hanya berbasis kelas (ekonomi) dan tidak menyentuh wilayah lain.

Latar belakang para founding fathers Kajian Budaya yang mempengaruhi beragamnya pendekatan yang dipakai, Kajian Budaya disebut inter-disipliner dan bahkan pos-disipliner. Kajian budaya menyerap banyak disiplin yang sudah ada dan kemudian mensintesakannya (Sunardi 2004: x). Bidang kajiannya sama sekali baru. Kajian budaya mengaji bidang yang selama ini berada di marjin atau sama sekali tidak tersentuh, seperti kelas pekerja dan kelompok punk di Inggris. Ada banyak ide kunci yang berasal dari berbagai paradigm teoretis dan metodologis yang berpengaruh dalam kajian budaya, seperti psikoanalisis, strukturalisme, postruturalisme, politik perbedaan dan Marxisme.

Selama fase awal Kajian Budaya di Inggris memang banyak dipengaruhi oleh gerakan New Left. Sehingga, kajiannya banyak dipengaruhi oleh tradisi kiri. Sejak masa penjajahan banyak intelektual dari negara jajahan yang belajar di negara jajahan (dalam konteks ini Inggris), dan lebih banyak lagi setelah terjadi dekolonisasi. Mereka (para intelektual dari negara jajahan ini) memberikan ‘suara’ dan warna yang berbeda dalam kajian budaya di Inggris. Ketika mereka pulang ke negaranya masing-masing, mereka membawa kajian budaya pulang. Dan kemudian meyebarlah Kajian Budaya ke seluruh dunia dan berkembang sesuai kondisi di masing-masing negara. Perluasan ini berakibat pada meluaskan pokok Kajian Budaya, tidak hanya pada kelas pekerja saja (terutama pemuda dari kelas pekerja) namun meluas ke apa yang disebut subkultur, subgroup perempuan, kelompok minoritas dan terpinggirkan , bentuk-bentuk resistensi mereka terhadap kelas dominan. 


About this entry