<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>desire is a desire to be desired</title>
	<atom:link href="http://rumputliar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumputliar.wordpress.com</link>
	<description>It's Just Me, then, who are you?</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Feb 2011 18:46:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rumputliar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>desire is a desire to be desired</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rumputliar.wordpress.com/osd.xml" title="desire is a desire to be desired" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rumputliar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Review Kuliah</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2009/03/14/review-kuliah/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2009/03/14/review-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 04:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>
		<category><![CDATA[reviews]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Ini review kuliah 2 minggu yang lalu dan minggu lalu. Dengan alasan mas Kris (dosen pengampu mata kuliah ini) tidak mengijinkan mahasiswanya membuat catatan, maka review mata kuliah berjudul SEMIOTIKA MEDIA ini jadi sedikit terhambat (it’s a bad excuse). Di minggu pertama seperti biasa ada kontrak belajar. Setelah itu masuk ke mati which was pengantar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=90&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt; &lt;!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Ini review kuliah 2 minggu yang lalu dan minggu lalu. Dengan alasan mas Kris (dosen pengampu mata kuliah ini) tidak mengijinkan mahasiswanya membuat catatan, maka review mata kuliah berjudul SEMIOTIKA MEDIA ini jadi sedikit terhambat (it’s a bad excuse). Di minggu pertama seperti biasa ada kontrak belajar. Setelah itu masuk ke mati which was pengantar masuk ke sesuatu yang bernama semiotika dengan buku yang digunakan sebagai rujukan adalah buku Umberto Eco berjudul <strong>The Theory of Semiotics. </strong><span> </span>Di bagian introduction-nya Eco mengatakan (kudapat ini dari Googlebooks karena belum pernah megang apalagi baca buku ini) kurang lebih bahwa semiotik mempelajari “the whole of culture,” ini yang membuat semiotik terkesan ‘arrogant “imperialism.”’ Dengan kata lain, semiotik telah ‘membunuh’ antropologi, sosiologi dan ilmu lain.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;">“Semiotics is concerned with everything that can be <em>taken </em>as a sign. A sign is everything which can ge taken as significantly substituting for something else. This something else does not necessarily have to exist or to actually be somewhere at the moment in which a sign stands in for it. <em>Thus semiotics is in principle studying everythign which can be used in order to lie</em>. If something cannot be used to tell a lie, conversely it cannot be used to tell the truth: it cannot in fact be used ‘to tell’ at all.” (Eco, 1969 : 7) (penekanan asli dari Eco).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Hanya kutipan itu yang dibahas mas Kris selama hampir 2 jam kuliah. Kalimat pertama menunjukkan bahwa semiotik berhubungan dengan apapun yang bisa di anggap atau digunakan sebagai tanda. Pertanyaannya apa ada yang tidak bisa digunakan sebagai tanda? Apa itu tanda? Pertanyaan ini dijawab oleh kalimat kedua, tanda adalah segala sesuatu yang bisa secara signifikan mengganti sesuatu yang lain. Contoh tanda verbal ‘kursi’ menggantikan suatu benda yang digunakan untuk duduk, bisa terbuat dari kayu atau besi, biasanya berkaki empat walau ada yang tiga. Hal ini mengingatkanku bahwa bahasa bersifat reduktif, benda berkaki empat terbuat dari kayu atau besi yang digunakan untuk duduk itu diwakili oleh satu kata ‘kursi’ yang sebenarnya tidak mampu mencakup seluruh makna benda yang diwakilinya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Jika tanda secara signifikan (significantly) mengganti sesuatu yang lain, pertanyaannya adakah yang tidak secara signifikan? The answer is kalau ada sesuatu yang tidak bermakna bagi seseorang maka tanda itu tidak secara signifikan mengganti sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itu tidak harus ada (exist) atau benar-benar berada di suatu tempat. Misal tanda bahasa ‘Tuhan,’ ‘setan’ kedua kata itu mewakili sesuatu yang tidak dapat kita indrai secara empiris. Artinya, ketika seseorang berkata ‘awas ada setan,’ maka nanti dulu, bisa jadi ia hanya berbohong. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Namun kata Eco, sebaliknya jika satu tanda tidak dapat digunakan untuk berbohong, maka tanda itu juga tidak mengatakan kebenaran, bahkan tidak dapat mengatakan apa-apa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kata kunci belajar semiotik, kata mas Kris, adalah <em>substitute</em> a.k.a. mengganti. Tapi ada satu lagi yang lebih penting, yaitu relasi. Tanda-tanda tidak akan berfungsi tanpa relasi atau berhubungan dengan tanda lain. Kata laki-laki tidak akan bermakna apa-apa tanpa ada kata perempuan. Relasi keduanya dalam bahasa Indonesia dianggap berlawanan. Bahwa lawan kata laki-laki adalah perempuan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pada dasarnya itu saja kuliah semiotika media minggu pertama. Di minggu kedua, mas Kris sudah masuk ke Saussure a.k.a. simbahnya semiotik <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Seperti kita tahu, Saussure sebenarnya tidak pernah menulis buku, <strong>General Course of Linguistic </strong>adalah catatan kuliahnya yang disusun menjadi buku oleh 2 orang mahasiswanya dan diterbitkan setelah Saussure meninggal. Membaca buku ini tidak mudah <span style="font-family:Wingdings;"><span>L</span></span>. Apalagi bagi mereka yang tidak punya latar linguistik. Walaupun dalam beberapa buku dan artikel calo terlihat ‘mudah’. Agar tidak memperumit masalah, reviewku akan seperti buku dan artikel calo itu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;">It is therefore possible to conceive of a science <em>which studies the role of signs as part of social life</em>. It would form part of social psychology, and hence of general psychology. We shall it <em>semiology</em> (from the Greek <em>semeion</em>, ‘sign’). It would investigate the nature of signs and the laws governing them. Since it does not yet exist, one cannot say for certain that it will exist. But it has a right to exist, …. (Saussure, 1986:33) (lagi-lagi versi Googlebooks <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> , penekanan dari Saussure).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saussure bukan ahli semiotik, ia adalah ahli linguistik yang ‘membayangkan’ suatu hari nanti akan ada satu ilmu yang mempelajari tentang peran tanda dalam kehidupan sosial dan hukum-hukum yang mengaturnya yang akan disebut sebagai ‘semiology’ yang ia ambil dari bahasa latin, <em>semeion</em> yang artinya tanda. (Duh dua buku Saussure-ku sedang dipinjam untuk di-copy). Di masanya, linguistik mempelajari bahasa (sistem bahasa) secara diakronis, artinya sebagai suatu sistem yang dinamis yang berubah sepanjang waktu, namun Saussure sebaliknya mempelajari bahasa secara sinkronis, artinya sebagai serangkaian relasi statis yang tidak berhubungan dengan perubahan yang terjadi sepanjang waktu. (masalah ini ada di bagian awal bukunya, tapi belum disinggung mas Kris). Saussure lebih tertarik pada struktur bahasanya dan bukan penggunaan bahasa. Ia membatasi kajiannya pada struktur bahasa atau dalam bahasa Perancis disebut <em>langue</em>, dalam mana bahasa digunakan dalam ujaran (<em>speech</em> atau <em>parole</em>). <em>Langue</em> memiliki struktur tetapi <em>parole </em>bersifat chaotic, berbeda antara satu orang dengan orang lain.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saussure yang berangkat dari linguistik mengatakan bahwa unit dasar bahasa adalah sebuah tanda, yang terdiri dari signifier/signifiant/penanda dengan signified/ signifie/petanda (selanjutnya kita pakai signifier dan signified saja). Signifier berupa imaji-suara, atau grafis(tulisan, gambar) dan signified merupakan konsep atau makna yang ditandainya. Relasi antara keduanya bersifat arbitrer a.k.a. semena-mena. Artinya tidak ada hubungan logis yang mendasarinya. Kata ‘anjing’ tidak berhubungan logis dengan hewan berkaki empat bergigi taring dan berbulu <span> </span>yang diwakilinya. Kata itu bermakna demikian karena para pengguna Bahasa Indonesia bersepakat demikian. Kesepatakan (tak resmi) ini disebut sebagai konvensi. Namun ada tanda bahasa yang dipakai berdasarkan kemiripan dengan sesuatu yang dimiliki oleh sesuatu yang ditandainya. Misal tanda bahasa ‘guk-guk’ digunakan untuk mewakili anjing karena kemiripannya dengan suara anjing. Tanda uditif (suara), bau, dan grafis terutama tulisan bersifat linear, artinya berurutan. Tanda visual (gambar dan gesture) adalah tanda yang bersifat paling tidak linear (atau apa gitu, aku lupa habis ga bikin catetan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Satu hal yang menurut mas Kris ‘dosa besar’ Saussure adalah ia mengatakan bahwa semiologi merupakan bagian dari psikologi sosial, dengan sendirinya merupakan bagian dari psikologi (bisa dilihat di kutipan di atas). Karena memang karena Saussure berfokus pada tanda bahasa yang signified-nya berupa konsep. Dan kalau melihat sirkuit komunikasi Saussure maka tidak heran jika ia menyimpulkan demikian.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;                     &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://rumputliar.files.wordpress.com/2009/03/speech-circuit2.gif?w=110"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-93" title="speech-circuit2" src="http://rumputliar.files.wordpress.com/2009/03/speech-circuit2.gif?w=150&#038;h=110" alt="speech-circuit2" width="150" height="110" /></a></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">(Gambar ini kuambil dari website-nya Daniel Chandler <em>Semiotic for Begginer</em> dalam <a href="http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html">http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html</a> diakses tahun 2003, tapi sampai saat ini masih ada.)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Awal proses ini adalah di otak manusia, ide atau gagasan yang disebut konsep lalu diwakili dengan tanda-tanda linguistik ataupun pola suara. Saussure menulis “<em>Let us suppose that a given concept triggers in the brain a corresponding sound pattern </em>(Saussure, 1986:12) (lagi-lagi versi Googlebooks).” Nah menurut Saussure ini adalah sebuah fenomena psikologis.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=90&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2009/03/14/review-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumputliar.files.wordpress.com/2009/03/speech-circuit2.gif?w=110" medium="image">
			<media:title type="html">speech-circuit2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Kuliah Hari ini : Status Ontologis Etnografi Media (judul dariku :D)</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/25/review-kuliah-hari-ini-status-ontologis-etnografi-media-judul-dariku-d/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/25/review-kuliah-hari-ini-status-ontologis-etnografi-media-judul-dariku-d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 09:15:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>
		<category><![CDATA[reviews]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Hari pertama kuliah Etnografi Media membahas tentang status ontologis etnografi media di hadapan media studies khususnya dan ilmu komunikasi pada umumnya. Poin pentingnya adalah bahwa media studies dan ilmu komunikasi memandang relasi antara audiens dengan media bisa dibilang bersifat linier kata Nico Warrauw. Pemaknaan audiens terhadap media ya berdasarkan pada satu relasi itu saja, tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=86&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari pertama kuliah Etnografi Media membahas tentang status ontologis etnografi media di hadapan media studies khususnya dan ilmu komunikasi pada umumnya. Poin pentingnya adalah bahwa media studies dan ilmu komunikasi memandang relasi antara audiens dengan media bisa dibilang bersifat linier kata Nico Warrauw. Pemaknaan audiens terhadap media ya berdasarkan pada satu relasi itu saja, tanpa melihat faktor lain di luar itu. Etnografi Media melihat relasi itu tidak terjadi dalam ruang kosong, tetapi dalam ruang social-budaya tertentu. Mengutip Raymond Williams (bukunya apa ya?) bahwa sebenarnya relasi audiens dengan media adalah hanya salah satu dari sekian banyak “<em>cultural practice</em>” individu dan bukan satu-satunya. Artinya bahwa pemaknaan audiens terhadap media (content dan program dan bentuk fisiknya) tidak hanya berdasarkan pada satu relasi saja namun ditentukan dan dipengaruhi juga oleh relasi individu dengan faktor lain, dengan kata lain oleh “<em>cultural practice</em>” yang lain.</p>
<p>Yang menarik dari kuliah hari ini adalah bahwa pendekatan ini bisa menunjukkan kritik utama terhadap studi efek dalam tradisi ilmu komunikasi. Selama ini ilmu komunikasi, khususnya media studies dan khususnya studi efek selalu saja memusatkan perhatian kepada media (terutama <em>content</em>). Dah percaya bahwa <em>content</em> dan program media memiliki efek yang sangat besar terhadap audiensnya. Terlepas dari konteks sosial dan kultural audiens. Maka pertanyaanya tidak lagi ‘efek apa yang ditimbulkan oleh program X terhadap anak-anak, atau pelajar atau siapa?’, namun menjadi ‘<em>Under What Condition</em> efek ini bisa muncul?” (istilah <em>Under What Condition</em> kupinjam dari bang Oji (Noer Fauzi tanpa ijin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Kemudian poin penting lainnya adalah bahwa etnografi media tidak hanya memusatkan perhtian pada content, program dan institusi media namun melihat media tidak lebih sebagai barang, komoditas, alat, dan instrument. Artinya tidak menempatkan media sebagai fokus utamanya namun menempatkan media pada posisi sekunder. So, etnografi media lebih berpusat pada konteks sosial-budaya relasi antara audiens dengan media.</p>
<p>Ternyata buku <strong>Mrazek The Engineer of Happy Land</strong> adalah salah satu contoh etnografi media (menyesal aku belum menyelesaikan buku ini). Mrazek menulis tentang fungsi radio dalam masyarakat kolonial (Indonesia). Ternyata cara masayarakat kolonial mengkonsumsi dan menggunakan media (radio) seperti halnya mereka berhubungan dengan (master) pemerintah kolonial. Mereka tidak akan mendengarkan radio dengan baju seadanya, mereka mendengarkan radio seperti layaknya akan bertemu dengan pemerintah (ini cerita Nico Warrouw). Menurutku kata kuncinya ada beberapa, pertama kompleksitas relasi audiens dengan media, konteks social dan budaya audiens dalam menggunakan media (<em>media use</em>) dan mengonsumsi media (<em>media consumption</em>).  Kupikir aku harus menyelesaikan Mrazek, dan terutama membaca buku <strong>The Handbook of Ethnography</strong> yang sangat tebal itu.</p>
<p>Selain Mrazek, Nico juga memberikan beberapa contoh penelitian Etnografi Media oleh beberapa orang yang lain. Subjek kajiannya tetap media (modern), ada yang bioskop ada pula televisi. Contoh-contoh ini melihat bagaimana kelompok masyarakat menggunakan dan menkonsumsi media. Kelompok masyarakat yang menjadi subjek dalam contoh itu adalah orang Tonga, Papua New Guinea dan Nigeria (Other dalam antropologi????). Melihat artikel yang dijadikannya contoh, menurutku sangat antropologis dan bukan cultural studies (sic). Namun karena kuliah ini baru berjalan satu kali, maka aku tidak perlu terlalu mencurigai (semangat cultural studies <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Hal yang tidak kusetujui (walau tidak kuungkapkan) adalah sayangnya etnografi media (dalam Prodi ini) hanya mengaji media modern (kecuali surat kabar) dan tidak memasukkan media (yang dianggap) tradisional, seperti sabung ayam, gandrung banyumasan, ketoprak dll. Mungkin Kajian Budaya dan Media inisebenarnya adalah cultural studies tentang media, ada semangat cultural studies dalam mengaji media (modern) tapi bukan <em>cultural studies</em> (dan) media studies. Porsi <em>media studies</em>-nya lebih besar daripada porsi <em>cultural studies</em>. Entah benar entah tidak tapi kalau begini Kajian Budaya dan Media ini tidak jauh berbeda atau bahkan mungkin sama dengan antropologi media. Agak sinis mungkin, tapi melihat dosen yang mengajar di prodi ini didominasi oleh dosen antro dan media studies dan bukannya dosen cultural studies. Antropologi dan <em>cultural studies</em> sama-sama mengaji kebudayaan, tapi antropologi adalah <em>study about culture</em> bukan <em>cultural studies</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=86&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/25/review-kuliah-hari-ini-status-ontologis-etnografi-media-judul-dariku-d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REVIEW KULIAH EKONOMI POLITIK MEDIA</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/24/review-kuliah-ekonomi-politik-media/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/24/review-kuliah-ekonomi-politik-media/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 15:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/24/review-kuliah-ekonomi-politik-media/</guid>
		<description><![CDATA[Ekonomi Politik Media adalah nama mata kuliah hari ini. Di hari pertama ini Pak Heru membahas beda antara ekonomi politik dengan politik ekonomi, yang ternyata menandai dua mahzab besar ilmu ekonomi. Dalam ‘peta’ ilmu sosial (dan ilmu ekonomi) ada dua aliran besar ideology yaitu yang disebut dengan ‘kanan’ dan ‘kiri.’ Ilmu ekonomi aliran kanan punya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=83&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Ekonomi Politik Media adalah nama mata kuliah hari ini. Di hari pertama ini Pak Heru membahas beda antara ekonomi politik dengan politik ekonomi, yang ternyata menandai dua mahzab besar ilmu ekonomi. Dalam ‘peta’ ilmu sosial (dan ilmu ekonomi) ada dua aliran besar ideology yaitu yang disebut dengan ‘kanan’ dan ‘kiri.’ Ilmu ekonomi aliran kanan punya ‘simbah’ yang namanya Adam Smith, dengan<span>  </span>ekonomi liberal. Dalam bukunya yang dikenal dengan <strong>An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation</strong> atau yang lebih dikenal dengan <strong>The Wealth of Nation </strong>(yang belum pernah kubaca <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ), Adam Smith menulis tentang satu sistem perekonomian yang bebas, campur tangan negara (state) dibatasi sehingga akan tercipta pasar yang bebas. Bagi Adam Smith tujuan utama dari sebuah sistem perekonomian adalah tercapainya kemakmuran (wealth). Kemakmuran bisa dicapai dengan terciptanya pasar bebas. Setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama dalam pasar, faktor utamanya adalah kepemilikan kapital. Kemiskinan muncul karena seseorang ‘lack of capital’ alias tidak memiliki modal, maka dalam perekonomian ini penyelesaian kemiskinan adalah dengan memberikan kredit kepada kaum miskin. Mekanisme pasar menjadi hal yang utama, Adam Smith menyebut mekanisme pasar itu sebagai ‘invisible hands.’ Dalam mekanisme pasar ini harga dicapai melalui pertemuan antara <em>supply</em> dan <em>demand</em>. Ekonomi liberal berikut turunannya (neo-liberal, Keynesian) menganut asas <em>laizes faire</em> alias kebebasan bagi setiap individu untuk mengejar dan memenuhi kepentingannya. Dengan demikian seperti dikatakan di atas, setiap individu memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kemakmuran. Dengan memakmurkan individu maka kemakmuran negara akan tercapai. (versi singkat teori Adam Smith)</p>
<p class="MsoNormal">Karl Marx muncul sebagai orang yang mengkritisi ekonomi liberal Adam Smith. Marx tidak menjadikan pasar sebagai faktor utama namun justru negara-lah yang seharusnya mengatur pasar. Ia melihat mekanisme yang seperti ekonomi liberal sangat tidak adil, menimbulkan kesenjangan dan eksploitasi. Negara harus diberikan peran sentral dalam mengatur perekonomian. Sistem perekonomian yang demikian disebut sebagai sistem ekonomi sosialis. Tujuan utama perekonomian ini adalah untuk mencapai keadilan (justice) dan bukan kemakmuran/wealth.<span>  </span>Inilah mahzab kedua ilmu ekonomi yang menelorkan konsep ekonomi politik bukan sebaliknya politik ekonomi. Pendekatan ekonomi politik melihat ke-salingterkait-an antar-institusi politik dan ekonomi. Selain itu juga melihat siapakah yang paling diuntungkan dari sebuah relasi ekonomi dan tindakan ekonomi. (versi singkat teori Marx)</p>
<p class="MsoNormal">Ilmu ekonomi pada masa awal pertumbuhannya berusaha diakui sebagai ‘science’ atau ilmu layaknya ilmu pasti. Pada waktu itu ada perdebatan antara ilmu pasti yang dianggap sebagai ‘hard science’ dan ilmu sosial dianggap (oleh mereka penganut ilmu pasti) sebagai ‘soft science.’ Karena pada waktu itu ‘regime of significance’ yang berkuasa adalah mereka yang berada di ilmu pasti. Ilmu pasti berdasarkan pada postulat atau dalil, nah ilmu ekonomi jika ingin dianggap sebagai ilmu harus memiliki dalil juga. Maka dalil pertama dan utama adalah hukum pasar (SUPPLY and DEMAND). Namun, ilmu ekonomi tidaklah mempelajari fenomena alam yang tunduk pada hukum alam. Ilmu ekonomi mempelajari fenomena humaniora/kemanusiaan yang tidak tunduk pada hukum alam namun tunduk pada interest individu, artinya tidak dapat diprediksi layaknya cuaca dan sulit untuk dibuat postulat yang pasti akan berlaku demikian (ceteris paribus). Karena tidak mungkin menjadi sama seperti ilmu pasti, maka ilmu ekonomi mengadopsi logika dan metode ilmu pasti. Satu hal yang tidak diperhatikan oleh ilmu ekonomi dengan dalil dan logikanya adalah realitasnya. Contohnya, di masa krisis ini seharusnya semua orang suspend membeli, namun kenyataanya justru mobil mewah semakin laris.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Economics</em> (ilmu ekonomi) yang demikian menjadi mahzab <em>mainstream </em>yang diajarkan di fakultas-fakultas ekonomi, sering dikenal dengan pendekatan politik ekonomi. Sedangkan perekonomian sosialis yang menelorkan pendekatan ekonomi politik menjadi <em>economics school of thought</em> sendiri yang tentu saja tidak mainstream.</p>
<p class="MsoNormal">Paul Ormerod menulis buku berjudul ‘<strong>The Death of Economics</strong>’ (belum pernah kubaca juga). Ormerod berpendapat bahwa ilmu ekonomi sudah mati, ilmu ekonomi tidak digunakan untuk menyejahterakan orang banyak namun justru digunakan untuk memperkaya individu tertentu. Ilmu ekonomi sangat mendukung perekonomian yang berorientasi pada pertumbuhan, peningkatan produktivitas dan efisiensi. Dalil-dalil yang dianggap niscaya terjadi dan bisa diterapkan dalam kondisi apapun ternyata tidak mampu mengatasi realitas yang terjadi di masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal">Melihat uraian di atas, menurut pemahamanku politik ekonomi adalah bagaimana menggunakan/mengatur/memanfaatkan ekonomi untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan ekonomi politik jauh berbeda dari itu. Nampaknya buku yang mendesak untuk dibaca adalah buku Adam Smith <strong>The Wealth of Nation</strong>, Paul Ormerod ‘<strong>The Death of Economics,</strong>’ Karl Marx ‘<strong>Kapital I, II, III’</strong>. Membaca <strong>Kapital</strong> tanpa Adam Smith tidak mungkin, karena buku itu berisi kritik Marx terhadap Smith, dan disitulah muncul teoretisasi Marx tentang orang-orang yang melaksanakan perekonomian seperti yang didalilkan oleh Smith, yaitu kaum kapitalis.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=83&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/24/review-kuliah-ekonomi-politik-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang dilakukan Iklan pada Audiens?</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/20/apa-yang-dilakukan-iklan-pada-audiens/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/20/apa-yang-dilakukan-iklan-pada-audiens/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 05:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Lacan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Analisis Psikoanalitis Lacanian pada Iklan Pond’s Flawless White versi miniseri Bunga My Flawless Moment Titik Mula Langkah kaki bersepatu gemerlap membuka episode pertama iklan miniseri Pond’s Flawless White yang berjudul ‘My Flawless Moment.’ Ternyata langkah kaki itu adalah milik Bunga Citra Lestari, brand ambassador produk ini, yang membintangi iklan  bersama dengan kekasih yang sekarang menjadi suaminya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=75&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Analisis Psikoanalitis Lacanian pada Iklan <em>Pond’s Flawless White</em> versi miniseri Bunga <em>My Flawless Moment</em></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-81" title="wallpaper1-11" src="http://rumputliar.files.wordpress.com/2009/02/wallpaper1-11.jpg?w=300&#038;h=225" alt="wallpaper1-11" width="300" height="225" /></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Titik Mula </strong></p>
<p class="MsoNormal">Langkah kaki bersepatu gemerlap membuka episode pertama iklan miniseri Pond’s Flawless White yang berjudul ‘My Flawless Moment.’ Ternyata langkah kaki itu adalah milik Bunga Citra Lestari, <em>brand ambassador</em> produk ini, yang membintangi iklan<span>  </span>bersama dengan kekasih yang sekarang menjadi suaminya Ashraff Sinclair. Dihujani lampu <em>blitz</em>, sorot kamera dan tepuk tangan riuh, Bunga melangkah menuju Ashraff yang menunggu di ujung lorong. Di tengah jalan, Bunga berhenti dan berbalik melihat ke arah kamera dan tersenyum. Adegan ini menjadi opening title iklan miniseri yang terdiri dari 3 episode.</p>
<p class="MsoNormal">Episode pertama bercerita tentang saat pertemuan pertama Bunga dengan Ashraff. Ashraff diminta menggantikan seseorang untuk mewawancarai Bunga yang sedang berada di Kuala Lumpur untuk promosi album. Karena lama menunggu, Bunga sudah akan beranjak ketika Ashraff datang. Episode yang berdurasi 2 menit 3 detik ini diakhiri dengan Bunga sudah kembali ke Indonesia dan menemukan sepotong kertas di belakang tv di kamarnya.</p>
<p class="MsoNormal">Episode kedua dimulai dengan opening title, kemudian flashback episode sebelumnya. Dalam iklan panjang berdurasi 2 menit 4 detik ini diperlihatkan ketika Ashraff melamar Bunga di Bali, dan persiapan pernikahan mereka. Episode ini ditutup dengan adegan mereka berdua yang tidak mendapatkan gedung untuk pernikahan mereka, dan Bunga merajuk.</p>
<p class="MsoNormal">Episode ketiga juga dibuka dengan opening title yang sama, dan diikuti juga oleh flashback dua episode sebelumnya. Berdurasi 2 menit 2 detik, sebagian besar berisi foto-foto pernikahan Bunga dan Ashraff. Sebelumnya ditunjukkan bagaimana Ashraff memberikan kejutan kepada Bunga dengan membawanya ke gedung yang diinginkan Bunga yang sebelumnya dikabarkan <em>fully-booked</em>. Di akhir episode ini adegan Bunga dan Ashraff lengkap dengan pakaian pengantin berwarna putih berlari menuju mobil dikelilingi banyak orang. Adegan Ashraff mencium pipi bunga di dalam mobil menutup miniseri ini.</p>
<p class="MsoNormal">Iklan berbentuk miniseri termasuk baru di Indonesia. Dengan durasi yang tidak sebentar—untuk ukuran iklan—tentu saja membutuhkan biaya yang sangat besar. Selain biaya pembuatan iklan yang membengkak, biaya pemasangannya pun akan tinggi, ratusan juta bahkan sampai miliaran per tahunnya. Namun bukan tanpa perhitungan produsen mau mengeluarkan uang miliaran untuk belanja iklan. Menurut majalah SWA, Pond’s menguasai 40% pasar produk <em>skin lightening</em> (SWA <span class="copy02">Jumat, 23 November 2007)</span>. Dan Unilever sebagai produsen merk skin lightening ini semakin kokoh posisinya di pasar produk jenis ini dengan mendapatkan penghargaan <span>Indonesian Customer Satisfaction Award Index (ICSA Index) 2008 yang diselenggarakan oleh Majalah SWA bekerjasama dengan Frontier Indonesia untuk 11 produknya dan salah satunya adalah Pond’s (<a href="http://news.okezone.com/">http://news.okezone.com</a>). Tahun 2006 penjualan produknya di seluruh dunia mencapai angka 21,8 miliar dollar, keuntungan bersihnya mencapai 4,9 miliar dollar (</span><a href="http://www.articlearchives.com/chemicals/specialty-chemicals-industry-specialty-mfg/735993-1.html">http://www.articlearchives.com/chemicals/specialty-chemicals-industry-specialty-mfg/735993-1.html</a>). Dan angka itu adalah yang terbesar di antara produsen lain di dunia.</p>
<p class="MsoNormal">Iklan tidak pernah tidak politis. Selalu ada motif tertentu di dalamnya. Tujuan utamanya adalah memasarkan produk yang diiklankan atau yang sering disebut dengan kampanye pemasaran. Iklan dibuat dengan sengaja untuk menyampaikan ‘pesan’ tertentu kepada <em>target audience</em> dan <em>target market</em>-nya. Memberi informasi tentang suatu produk atau jasa, menawarkannya dan kemudian membujuk untuk membeli adalah fungsi utama iklan. Bentuk dan medianya kini semakin beragam bersama dengan perkembangan teknologi informasi. Dari yang bentuk yang paling sederhana, seperti promosi dari mulut ke mulut sampai dengan iklan dalam bentuk digital. Audiens dan pasar yang menjadi sasarannya semakin tersegmentasi mengikuti varian produk yang semakin tersegmentasi juga.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Target market</em> dan <em>target audience</em> pun merespon iklan itu dengan positif. Hasil survei yang dilakukan oleh Spire Research &amp; Consulting belum lama ini menunjukkan, remaja berusia 13-18 tahun memang mengetahui dan menyukai Pond’s. Setidaknya, dari 1.000 responden di lima kota besar (Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar), sebesar 40%-nya menyatakan mengetahui dan 18%-nya menyukai merek Pond’s (<a href="http://agungdsp.wordpress.com/page/2/">http://agungdsp.wordpress.com/page/2/</a>).</p>
<p class="MsoNormal"><span><span>Dampak iklan sudah lama menjadi perdebatan panjang dan beragam klaim diutarakan dalam berbagai konteks. Salah satunya adalah perdebatan tentang pelarangan iklan rokok, pemilik pabrik rokok mengklaim bahwa iklan rokok tidak mendorong seseorang untuk merokok namun justru sebaliknya. Di sisi lain para penentang iklan mengklaim bahwa iklan meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat. Dalam ranah ilmu komunikasi penelitian tentang dampak berada di bawah tradisi efek. Banyak penelitian efek sebelumnya yang berfokus pada efek media—iklan—terhadap perilaku, terutama anak-anak. Anak-anak usia di bawah 4 tahun belum dapat membedakan antara acara televisi dengan iklan, dan belum dapat menentukan benar tidaknya pesan yang diterimanya( terjemahan bebas dari </span></span><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Advertising">http://en.wikipedia.org/wiki/Advertising</a>).</p>
<p class="MsoNormal">Beberapa teori efek media terhadap perilaku berusaha menjelaskan bagaimana mekanisme iklan dalam mencapai tujuannya, yaitu membuat seseorang membeli produk yang ditawarkannya. Salah satunya yang disebut dengan <span> </span>McGuire Model, yang membagi persuasi media atau iklan dalam hal ini menjadi enam tahap yaitu :</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">presentation, pesan persuasif ditampilkan kepada      anggota audiens</li>
<li class="MsoNormal">attention, audiens memberikan perhatian kepada pesan      itu</li>
<li class="MsoNormal">comprehension, audiens memahami pesan itu</li>
<li class="MsoNormal">yielding, seseorang menolak, menerima atau menyetujui      argumentasi yang ditampilkan dalam pesan itu;</li>
<li class="MsoNormal">retention, setelah menerima pesan dan meninggalkan      situasi komuniktif, audiens harus mengingat pesan persuasif itu;</li>
<li class="MsoNormal">overt behavior, audiens itu harus berperilaku seperti      yang diharapkan</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">(sumber : <span>Grossberg, Lawrence dkk, 2006)</span></p>
<p class="MsoNormal">Model ini baru bisa menjelaskan bagaimana audiens kemudian menjadi konsumen suatu produk tetapi belum mampu menunjukkan mengapa audiens menjadi konsumen produk itu. Model ini juga belum mampu menunjukkan bagaimana sebenarnya iklan bekerja dalam diri seseorang, apa yang dibangkitkannya, apa yang dilakukan iklan terhadap diri seseorang. Nah, pertanyaan inilah yang akan berusaha dijawab dalam tulisan ini. Pertama, hasrat dan kecemasan apa yang dibangkitkan oleh iklan miniseri Pond’s ‘My Flawless Moment,’ kedua bagaimana mekanisme interpelasi hasrat iklan tersebut, dengan kata lain mencari <em>possibility of subject position</em> audiens di hadapan iklan tersebut. Dengan menjawab pertanyaan itu maka akan bisa diketahui sebenarnya diskursus siapakah yang ‘berbicara’ dalam iklan itu, dan itu adalah pertanyaan ketiga. Iklan ini akan dilihat menggunakan 4 teori diskursus psikoanalisa Lacanian.</p>
<p class="MsoNormal">Tulisan ini akan dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama, adalah titik awal tulisan ini berisi deskripsi iklan yang akan dilihat. Bagian kedua berisi semacam genealogi hasrat (sic), bagian ketiga tentang 4 teori diskursus Lacan, dan bagian terakhir berisi temuan dan kesimpulan.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Tentang Hasrat </strong></p>
<p class="MsoNormal">Hasrat muncul karena menginginkan sesuatu. ‘Sesuatu’ itu dalam teori Lacan disebut object <span>a</span>, yaitu yang luput dari simbolisasi. Namun ‘<em>desire, strictly speaking, has no object. In its essence, desire is a constant search for something else, and there’s no speciable object that capable of satisfying it, in other words, extinguishing it’</em> (Fink, 1995:90). Hasrat pada dasarnya terjebak dalam pergerakan dialektis dari satu signifier ke signifier yang lain. Tidak akan terjadi fiksasi hasrat, artinya hasrat hanya akan tumbuh semakin besar dan semakin besar, karena hasrat memang tidak akan pernah terpenuhi.</p>
<p class="MsoNormal">Anak mengalami simbolisasi ketika ia memasuki tatanan simbolik. <em>Psychosexual development</em> terdiri dari tiga register, Imajiner, Simbolik dan <em>Real</em>, setiap subjek atau bisa dianalogikan dengan seorang anak mengalami ketiga tatanan ini. Kehidupan awal anak adalah tatanan Real, utuh, bulat sempurna. Anak belum dapat membedakan dirinya dengan orang lain, subjektivitasnya belum terbentuk, ia dan ibunya adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Ketika pertama kali melihat imajinya dalam cermin dan seseorang—ibu atau pengasuh atau bapaknya alias liyan—mengatakan padanya bahwa imaji dalam cermin itu adalah dirinya, anak mulai mengidentifikasikan dirinya dengan imaji itu, anak masuk ke dalam tatanan Imajiner.<span>  </span>Saat itulah pertama kali ego si anak terbentuk. Ego dalam pengertian Freud, ego adalah penjaga yang membenturkan hasrat tidak sadar yang terepresi dengan faktor dari luar—terutama norma, dan nilai. Momen pembentukan ego ini adalah momen yang menurut Lacan akan terus bekerja dalam rentang hidup manusia, dimensi imajiner dalam hidup psikis manusia, yaitu kecenderungan untuk mengidentifikasikan diri dengan the ideal selves (Adian dalam Bracher).</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Anak masuk ke dalam tatanan simbolik ketika ia pertama kali menggunakan bahasa dan dibahasakan. Sejak saat itulah anak menjadi subjek, subjek bahasa. Dan seumur hidupnya ia akan menjadi subjek bahasa. Subjek bagi Lacan adalah subjek yang selalu berkekurangan. Subjektivitas anak memisahkannya dari ibunya, perpisahan ini menimbulkan <em>Lack</em> atau kekurangan, kekurangan yang tidak akan pernah terpenuhi. Karena selalu berkekurangan inilah maka subjek Lacan bukanlah subjek yang penuh, utuh dan bulat. Subjek Lacan adalah subjek yang selalu dalam proses menjadi, hasil tarik menarik antara ego dengan <em>unconscious</em>. Di sinilah letak pembalikan subjek Descartes atau ego cogito. Subjek Descartes adalah ego, hasil bentukan liyan dan konstruksi sosial di luar diri subjek. Dalam adagium “aku befikir maka aku ada” ‘aku’ adalah ego dan bukan subjek. Oleh Lacan adagium itu dibalik menjadi ‘aku tidak berfikir atau aku ada.’ Berfikir dengan mengada tidak mungkin bersamaan. Karena berfikir selalu menggunakan bahasa. Ketika subjek menggunakan bahasa, maka lagi-lagi ia menjadi subjek bahasa dan tidak mungkin mengada. Bagi Lacan ketika subjek menjadi subjek bahasa, maka subjek tidak pernah bisa mengada. Ego adalah buatan tangan yang didorong oleh hasrat untuk memiliki identitas (Ardian dalam Bracher).</p>
<p class="MsoNormal"><em>Lack</em> yang muncul akibat keterpisahan anak dari ibunya menyebabkan munculnya hasrat. Hasrat untuk selalu memenuhi <em>lack</em> itu. Hasrat tidak hanya muncul pada diri anak namun juga pada diri sang ibu (liyan). Karena pada dasarnya ‘<em>the subject is caused by Other’s desire </em>(Fink, 1995: 50).’ Yang diharapkan oleh keduanya adalah mereka bisa memenuhi lack satu sama lain, sehingga akan terjadi kepenuhan lagi seperti masa sebelum simbolisasi, reuni the Real. Namun hal itu tidak akan pernah terjadi, anak tidak akan pernah mampu memenuhi lack sang ibu dan sebaliknya. Perpisahan ini menimbulkan trauma. <em>Trauma implies fixation or blokage. Fixation always involves something which is not symbolized, language being that which allows for substituion and displacement </em>(Fink1995 : 26).</p>
<p class="MsoNormal">Ayah adalah aktor ketiga dalam hubungan harmonis anak dengan ibunya. Ayahlah yang memisahkan anak dari ibunya, entah menyuruh ibunya menyiapkan makan malam atau aktivitas lain. Ayah bisa berwujud ayah secara fisik atau ayah simbolik. Ayah simbolik disebut oleh Lacan sebagai <em>Name-of-the-Father</em>. Ayah simbolik adalah representasi jejaring kultural yang lebih luas dan tabu sosial atau incest (Ardian dalam Bracher). <span>  </span></p>
<p class="MsoNormal">Kembali ke hasrat. Bracher (2005) membagi hasrat menjadi dua jenis, yaitu hasrat memiliki dan hasrat menjadi. Pembagian ini berdasarkan pembedaan Freud tentang dua harsrat, yaitu hasrat libido nasistik dan libido anaklitik. Hasrat narsistik berbentuk cinta dan identifikasi, sementara hasrat anaklitik terkait dengan hasrat untuk mendapatkan kesenangan. Dalam setiap tatanan terdapat empat bentuk hasrat yaitu :</p>
<p class="MsoNormal"><span>1.<span>      </span></span>hasrat narsistik pasif. Seseorang bisa berhasrat untuk menjadi objek cinta Liyan</p>
<p class="MsoNormal"><span>2.<span>      </span></span><span> </span>hasrat narsistik aktif. Seseorang bisa berhasrat menjadi Liyan—hasrat di mana identifikasi merupakan suatu bentuk tertentu, sementara cinta atau pemujaan adalah bentuk Liyan yang lain.</p>
<p class="MsoNormal"><span>3.<span>      </span></span>hasrat anaklitik aktif. Seseorang bisa berhasrat untuk memiliki Liyan sebagai cara mendapatkan pemuasan.</p>
<p class="MsoNormal"><span>4.<span>      </span></span>hasrat narsistik pasif. Seseorang bisa berhasrat untuk menjadi hasrat orang lain atau dimiliki Liyan sebagai objek dari sumber kepuasan Liyan.</p>
<p class="MsoNormal">(Bracher, 2005: 30-31)</p>
<p class="MsoNormal">Identifikasi penting bagi subjek, karena dengannya subjek bisa mendapatkan pengakuan dan mengalami perubahan dalam diskursus. Bahasa memainkan peran penting dalam membentuk identifikasi mendasar dan struktural yang mencirikan identitas. …identifikasi mendorong kita untuk merasa dan bertindak dengan cara tertentu dan yang juga bisa membentuk ulang atau mengubah identifikasi dasar kita sehingga akan mengubah subjektivitas dan perilaku kita juga (Bracher 2005). Hasrat dan identifikasi adalah faktor penting yang membentuk subjektivitas seseorang. Bracher (2005) mengatakan bahwa identifikasi adalah modus bekerjanya hasrat. Dan identifikasi penting dalam proses interpelasi.</p>
<p class="MsoNormal">Budaya memiliki kekuatan interpelatif. Interpelasi bermakna pemanggilan atau penempatan subjek pada posisi tertentu. Hasrat adalah faktor utama dalam interpelasi, hasratlah yang dimainkan dalam interpelasi. Maka untuk memahami bagaimana budaya mempengaruhi manusia, yang menjadi pusat perhatian bukanlah pengetahuan melainkan hasrat. Dalam tatanan simbolik, interpelasi dilakukan dengan menggunakan <em>master signifier</em>(penanda utama), yaitu kata-kata pembawa identitas kita, misal laki-laki atau perempuan. Budaya melakukan interpelasi saat bekerja pada hasrat dalam tatanan simbolik adalah dengan cara memberikan kesempatan atau mencegah subjek menikmati pemuasan narsistik pasif di dalam lingkungan diskursus yang dikendalkan oleh master signifier. Kedua, adalah dengan dengan mendefinisikan <em>master signifier </em>dan dengannya membangkitkan hasrat kita untuk melakukan identifikasi dengan Liyan simbolik.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam tatanan imajiner, interpelasi dilakukan melalui citra atau imaji. Imaji dalam cermin yang pertama kali seorang anak lihat adalah imaji yang kuat yang mendasari kehidupan anak selanjutnya. Imaji atau citra membentuk landasan tempat berdirinya tatanan Simbolik dalam subjektivitas individu, batang tempat tumbuhnya penanda-penanda yang ada dalam bahasa yang baru dikuasai si anak (Bracher 2005:45). Identifikasi dengan imaji (dalam cermin) adalah inti dari hasrat yang berada dalam tatanan imajiner ini.</p>
<p class="MsoNormal">Baik simbolik, imajiner maupun real sebenarnya memiliki ambiguitas, sebagai masa perkembangan psikoseksual seseorang dengan tatanan yang ada dalam kehidupan seseorang. Bracher mengatakan bahwa kita perlu membedakan tatanan Real sebagai tahap perkembangan psikoseksual dengan Real sebagai landasan organik subjektivitas yang dibentuk oleh tubuh kita yang mendasari semua dorongan (2005:57). Simbolisasi tidak pernah lengkap atau benar-benar selesai, selalu ada yang luput, selalu ada yang tertinggal. Yang luput dan tertinggal dari simbolisasi ini disebut oleh Lacan sebagai R<span>2</span> atau Real<span>2. </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Objek <span>a </span>adalah sisa atau pengingat atas kesatuan ibu dan anak. Hubungan antara <em>split subject</em> dengan objek <span>a </span>inilah yang disebut fantasi. Simbolisasi merepresi banyak hal, penikmatan atau <em>jouissance</em> yang dulu dimiliki anak sebagian besar terepresi oleh tatanan simbolik. Jouissance yang terepresi ini tersimpan dalam bentuk fantasi dalam diri split subject atau Lacan merumuskannya demikian $ <span><span>à</span></span> <span>a. </span>Lack yang muncul akibat perpisahan tidak hanya terjadi pada anak, namun juga pada mOther (ibu yang Liyan juga). Lack dalam mOther memunculkan hasrat, hasrat mOther (ibu-Liyan) inilah yang memunculkan hasrat subjek. Karena subjek berhasrat untuk dihasrati oleh mOther. <em>Jouissance</em> adalah apa yang menggantikan kesatuan mOther(ibu-Liyan)-anak, kesatuan yang tidak pernah sesempurna seperti sebelum anak mengalami simbolisasi.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>4 Diskursus Lacan </strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Tujuan utama kritik kebudayaan adalah untuk melakukan perubahan sosial. Untuk mencapai tujuan ini maka yang harus dilakukan adalah menyelidiki bagaimana suatu diskursus bekerja. Pemahaman semacam itu bisa diperoleh melalui kajian Lacan mengenai empat struktur dasar diskursus yang masing-masing menghasilkan empat pengaruh sosial : 1) mendidik/mengindoktrinasi; 2) mengatur/memberi perintah; 3) menghasrati/memprotes; 4) menganalisis/mentransformasikan/merevolusi (Bracher, 2005:79).</p>
<p class="MsoNormal">Ada empat posisi dalam setiap diskursus yaitu (Fink 1995:131) :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">agent</span> <span>   </span><span>   </span><span><span>à</span></span><span>      </span><span style="text-decoration:underline;"><span>    </span>other___</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">truth<span>                 </span>product/loss</p>
<p class="MsoNormal">Ruas kiri adalah ruas pembicara, sendangkan ruas kanan adalah penerima. Posisi agen ditempati oleh S<span>1</span>, posisi yang memerintah atau dominan, signifier yang bukan-bukan (<em>nonsensical signifier</em>), signifier yang tidak tahu datang dari mana, yaitu <em>master signifier</em>. Pada posisi liyan atau other ditempati S<span>2</span>, yaitu sistem pengetahuan. Produk yang dihasilkan adalah objek <span>a</span>, <em>jouissance</em>. Pada posisi <em>truth</em> ada <em>split subject</em> atau subjek terbelah yaitu $.</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Posisi yang seperti di atas menunjukkan diskursus penguasa atau <em>master’s discourse</em>. Posisi-posisi ini sama dengan dialektika tuan-budak Hegel. Pada posisi agen ada S<span>1</span>, <em>master</em> atau tuan. Tanpa alasan yang jelas ia harus dipatuhi, karena kita lebih baik demikian. Tuan tidak perlu justifikasi apapun bagi kekuasaannya, memang demikian. Tuan menunjuk ke budak yang berada di posisi liyan. Budak belajar banyak dari tuannya, lama-lama ia akan semakin pandai dan menguasai pengetahuan. Namun tuan tidak pernah peduli dengan pengetahuan yang diperoleh budak, selama si budak masih tetap patuh kepadanya. Hasil dari relasi tuan dengan budak ini adalah <em>surplus value</em>, nilai lebih yang dihisap oleh tuan dari budaknya. Tuan tidak boleh menunjukkan kelamahan, namun bagaimanapun ia adalah subjek bahasa. Kebenaran itu disembunyikan dalam subjek yang terbelah (split subject/ $) dalam diskursus tuan.</p>
<p class="MsoNormal"> <span>                        </span><span>                        </span><span style="text-decoration:underline;">S</span><span style="text-decoration:underline;"><span>1</span></span><span>  &#8211;&gt;</span><span>  </span><span style="text-decoration:underline;">S</span><span style="text-decoration:underline;"><span>2</span></span></p>
<p class="MsoNormal">                                                $<span>              </span><span>a</span></p>
<p class="MsoNormal">Jika posisi-posisi itu digeser satu langkah searah jarum jam, maka akan menjadi diskursus universitas. Dalam diskursus universitas strukturnya sebagai berikut :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">S</span><span style="text-decoration:underline;"><span>2</span></span><span>  &#8211;&gt; </span><span> </span><span style="text-decoration:underline;"><span>a</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">S<span>1</span><span>         </span>$</p>
<p class="MsoNormal">Pada diskursus ini S<span>2</span> atau pengetahuan menggantikan tempat ‘tuan’ atau master pada posisi dominan atau memerintah. Pengetahuan yang sistematis adalah otoritas paling tinggi. Pengetahuan memeriksa <em>surplus value</em> (<span>a) </span>dan memberikan justifikasi terhadap praktik penghisapan yang dilakukan oleh kapitalis.<span> </span>Produk atau surplus value ini adalah <em>split subject</em>. Karena agen dalam diskursus universitas adalah subjek yang mengetahui.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Jika posisi itu digeser satu langkah maka akan menjadi struktur diskursus sang analis. Namun sebelum membahas diskursus sang analis kita geser 2 langkah struktur itu dan akan kita dapatkan struktur diskursus histeris. Lacan dalam Bracher mengatakan bahwa jika seseorang ingin menjadi subversif, maka ia perlu mendekati ‘lubang tempat keluarnya master signifier’. Dengan demikian perubahan sosial baru akan terjadi. Diskursus ini disebut demikian karena contoh yang paling jelas adalah neurosis historis, di mana gejala fisiknya tampil dengan jeals dalam penolakan subjek untuk mengada—secara harfiah adalah menyerahkan tubuhnya kepada—penanda-penanda utama yang membentu posisi subjek, sehingga melalui bahasa, masyarakat tampil pada individu (Lacan, XII : 107).<span>  </span>Split subject yang teralienasi dan terepresi dalam diskursus penguasan dan universitas tampil dan menjadi dominan dalam diskursus historis. Subjek terbelah antara <span>a </span>dengan master signifier. S<span>2</span> berada di posisi penerima pesan subjek hiteris dengan diminta menanggapi <em>master signifier</em>S<span>1</span>, sebuah makna yang aman, yang bisa mengatasi kecemasan dan menghasilkan identitas yang stabil. S<span>2</span> masih adalah pihak yang berpengetahuan, dalam terapi psikoanalisis posisi ini ditempati oleh analis, atau lebih tepatnya psikoanalis. Strukturnya menjadi seperti ini :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span>  </span><span><span> </span></span><span style="text-decoration:underline;">$</span><span><span>  </span><span> </span><span>  &#8211;&gt;</span></span><span> <span>  </span></span><span style="text-decoration:underline;"><span> </span>S</span><span style="text-decoration:underline;"><span>1</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span><span>   </span>a</span><span>      </span><span>        </span>S<span>2</span><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Diskursus terakhir dari Lacan adalah diskursus sang analis. Strukturnya demikian :<span>                     </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span>  </span><span><span> </span><span style="text-decoration:underline;">a</span></span><span style="text-decoration:underline;"> </span><span><span>  </span><span> </span><span>   &#8211;&gt;</span></span><span> <span>   </span></span><span style="text-decoration:underline;">$ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span><span>   </span></span>S<span>2</span> <span>             </span>S<span>1</span></p>
<p class="MsoNormal">Objek <span>a</span> penyebab hasrat, adalah agen dalam diskursus ini, menempati posisi dominan atau yang memerintah. Subjek ($) mengandaiakan aleniasinya sendiri, memisahkan diri dari <em>master signifier</em>dan menciptakan master signifier-nya sendiri. Maka menurut Lacan diskursus sang analis inilah yang bisa menawarkan cara yang paling efektif untuk mencapai perubahan sosial dengan melawan psikologi dan sosial yang diterapkan melalui bahasa (Bracher 2005: 99).</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Hasrat dalam iklan Pond’s Flawless White</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Tokoh utama dalam iklan miniseri ini adalah Bunga yang menawarkan cerita cinta yang tanpa cela (<em>flawless</em>), pernikahan yang tanpa cela dengan orang yang tanpa cela juga. Dengan titipan pesan dari Pond’s bahwa Bunga mendapatkan semua yang tanpa cela karena iapun tanpa cela, karena (lagi) Bunga memakai produk tanpa cela <em>Pond’s flawless white</em>. Bunga adalah seorang artis sinetron, pemain film dan terakhir dia bernyanyi dengan mengeluarkan album. Kini ia membintangi iklan produk <em>skin ligtening</em>, atau pencerah kulit.</p>
<p class="MsoNormal">Iklan ini bekerja di 3 wilayah atau register atau tatanan yaitu simbolik, imajiner dan real. Dalam masing-masing tatanan, iklan menginterpelasi subjek dengan modusnya masing-masing, yaitu master signifier, imaji dan fantasi. Mari kita lihat bagaimana iklan ini bekerja di ketiga tatanan itu.</p>
</div>
<p><span><br />
</span></p>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal"><strong>Bagan 1. 12 Hasrat dalam 3 tatanan <span> </span></strong><strong></strong></p>
<table class="MsoTableGrid" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="107" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Tatanan </span></strong></p>
</td>
<td width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Narsistik aktif </span></strong></p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Narsistik pasif </span></strong></p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Anaklitik aktif</span></strong></p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Anaklitik pasif </span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="107" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Simbolik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Interpelasi melalui <em>master signifier</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
</td>
<td width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>         </span></span></span>Hasrat untuk mengidentifikasi diri dengan   Liyan Simbolik</p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>     </span></span></span>Hasrat untuk dicintai, dikenali dan difikirkan   oleh Liyan Simbolik</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>     </span></span></span>Hasrat untuk memiliki sebagai cara pemuasan   diri</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>     </span></span></span>Hasrat untuk dihasrati tatanan simbolik   sebagai salah satu pembawa master signifier</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="107" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Imajiner</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Interpelasi melalui Citra atau imaji </span></strong></p>
</td>
<td width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>        </span></span></span>Hasrat untuk mencintai dan mengagumi citra   pibadi liyan—sampai pada titik di mana hasrat itu membuat subjek ingin   menjadi liyan secara ragawi</p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>     </span></span></span>Hasrat untuk dikagumi atau diidealisasikan   karena penampilan fisik seseorang sampai tahap dicintai dan diidentifikasi</p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>     </span></span></span>Hasrat seksual aktif</p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>        </span></span></span>Hasrat untuk menjadi tubuh yang dihasrati   orang lain sebagai sarana bersuka-ria. (hasrat untuk mirip orang lain secara   ragawi)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="107" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Real </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Interpelasi melalui Fantasi</span></strong></p>
</td>
<td width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>        </span></span></span>Fantasi menjadi objek yang dicintai Liyan,   objek</p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>  </span></span></span>Hasrat untuk mengagumi atau mencitai objek <span>a</span> yang ada di pihak lain dan   berupaya mempersatukan atau melakukan identifikasi dengannya.</p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>  </span></span></span>Hasrat untuk memiliki sebagai sarana sukacita   seseorang, objek <span>a </span>yang   mewujud pada orang, benda atau aktivitas di luar subjek.</p>
</td>
<td width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span><span>·<span>     </span></span></span>Fantasi mengejawantahkan objek <span>a </span>sehingga Liyan berhasrat untuk   memilikinya sebagai sarana bersukacita.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal">Disarikan dari Bracher 2005</p>
</div>
<p><span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span><span> </span>Dalam wilayah imajiner iklan ini menginterpelasi melalui imaji-imaji visual yang ditampilkannya. Imaji Bunga dalam iklan ini sama dengan dalam kehidupan nyatanya, sebagai pemain sinetron bintang film dan penyanyi. Bunga dalam iklan ini adalah gambaran subjek yang memiliki hasrat narsistik pasif. Bunga adalah artis yang memiliki hasrat untuk dikagumi dan diidealisasi karena penampilan fisiknya. Inilah hasrat narsisitik pasif—hasrat untuk dikagumi atau diidealisasikan karena penampilan fisik seseorang sampai tahap dicintai dan diidentifikasi. Hasrat ini sering dibangkitkan dalam diri audiens juga, dan sering membentuk motivasi di balik hasrat imajiner narsistik pasif audiens untuk menjadi seperti artis. Audiens mengidentifikasikan diri dengan artis, karena audiens ingin menjadi objek kekaguman dan ditiru, seperti yang terjadi pada artis itu. Jadi ketika Bunga yang seorang artis memakai produk bernama Pond’s Flawless White, maka ia berhasrat untuk ditiru oleh audiensnya. Dan hasrat audienspun dimainkan dengannya.</p>
<p class="MsoNormal">Hasrat narsistik aktif adalah hasrat untuk mencintai dan mengagumi citra pribadi liyan—sampai pada titik di mana hasrat itu membuat subjek ingin menjadi liyan secara ragawi. Subjektivitas audiens, terutama remaja perempuan terpanggil untuk mencintai dan mengagumi pribadi Bunga, dan dengan meniru apa yang dilakukannya subjek sampai pada titik ingin menjadi sama persis seperti Bunga. Salah satunya dengan memakai Pond’s Flawless White, yang membuat Bunga bisa memiliki kulit yang putih bersih.</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Iklan ini bak cermin bagi subjek-audiens, tempat mereka mencari imaji yang bisa diidentifikasi menjadi identitasnya. Dalam imaji Bunga audiens bisa menemukan ego idealnya, yang merupakan imaji seseorang di mana subjek-audiens menemukan kepenuhan—pemenuhan—yang paling besar atas <em>Lack</em>-nya. Gabungan antara imaji (di luar) dengan identitas (di dalam) diri subjek inilah yang membuatnya merasa penuh dan utuh.</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Saat imaji Bunga bertemu dengan hasrat audiens dalam tatanan imajiner, maka subjek akan merasa memiliki kecantikan, kulit putih, senyum Bunga, gaya bicara Bunga, rambut, mata, hidung, dan tinggi badannya. Dan iklan itu berkata, “Bunga mendapatkan semua itu dengan menggunakan Pond’s Flawless White, jadi jika kamu ingin menjadi sepertinya kamu juga harus memakai produk ini.”</p>
<p class="MsoNormal">Dalam iklan ini diceritakan bagaimana Bunga bertemu Ashraff, pemuda Malaysia yang terpesona olehnya. Walau tidak sevulgar film porno atau gambar di majalah playboy, namun imaji Bunga dalam iklan ini tampil sebagai objek yang dihasrati secara seksual oleh Ashraff, dengan kata lain, membangkitkan hasrat seksual liyan. Adegan Ashraff yang terus menerus memandang Bunga, memeluknya, menciumnya adalah gambaran bagaimana Ashraff menghasrati Bunga secara seksual. Hasrat ini adalah hasrat anaklitik aktif, di mana imaji Bunga membangkitkan hasrat seksual Ashraff.</p>
<p class="MsoNormal">Hasrat narsistik aktif, yaitu hasrat untuk mirip orang lain secara ragawi, mengandung hasrat anaklitik pasif—hasrat untuk mirip orang tertentu yang dimotivasi oleh hasrat untuk secara ragawi dihasrati oleh orang lain. Jadi, Bunga dihasrati—secara seksual—oleh Ashraff, membangkitkan hasrat audiens untuk menjadi seperti Bunga yang dihasrati secara seksual. Jadi ada dua hasrat yang bekerja, identifikasi untuk dihasrati dan untuk dihasrati itu sendiri. Produk berjudul Pond’s Flawless White <em>an sich</em> tanpa menggunakan Bunga sebagai endosernyapun sudah mampu membangkitkan hasrat ini. Yaitu dengan memakai produk ini maka, subjek-audiens (perempuan) akan lebih putih dan cantik, dengan demikian, akan lebih banyak laki-laki yang menghasrati. Dengan Bunga sebagai endoser, maka hasrat itu akan bekerja semakin kuat dengan identifikasi tadi.</p>
<p class="MsoNormal">Hasrat, seperti dikatakan di atas tidak memiliki objek. Yang ada hanya fantasi tentang <em>joussance</em> atau penikmatan yang didapatkannya dari objek yang menimbulkan hasrat itu. Dalam wilayah real interpelasi bekerja melaluli fantasi itu. Dalam iklan Pond’s diperlihatkan bagaimana Ashraff menatap Bunga, tatapan (gaze) merupakan manifestasi dari hasrat Liyan. Tatapan atau gaze Ashraff kepada Bunga menjadi fantasi subjek-audiens, fantasi ingin ditatap dengan cara seperti itu juga oleh Ashraff. Fantasi ini adalah fantasi anaklitik aktif.</p>
<p class="MsoNormal">Menjadi objek gaze laki-laki, dan dipanggil oleh laki-laki (sebagai Liyan) merupakan fantasi anaklitik pasifnya. Fantasi menjadi objek tatapan laki-laki karena sudah lebih cantik dalam 7 hari, kemudian dipanggil, diajak berkenalan adalah fantasi subjek-audiens. Sementara itu fantasi narsistik aktifnya adalah bagaimana subjek-audiens bisa memenuhi <em>lack</em> dalam diri liyan. <em>Lack</em> liyan dalam hal ini laki-laki adalah cinta, subjek-audiens berfantai menjadi objek yang dicintai liyan—dengan cara menjadi lebih cantik dan lebih putih. fantasi narsistik pasifnya adalah subjek-audiens berusaha menyukai dan mencintai putih dan cantiknya bunga dan berusaha mengidentfikasikan diri dengan itu semua.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam tatanan simbolik, iklan bekerja melalui <em>master signifier</em>atau penanda utama. <em>Master signifier</em>adalah penanda yang bukan-bukan, yang datangnya tanpa sebab tanpa alasan. Penanda yang tidak pernah membutuhkan justifikasi apapun dan legitimasi dari siapapun untuk menjadi <em>master signifier</em>. <em>master signifier</em>berada dalam tatanan simbolik, ia berupa kata-kata pembawa identitas, seperti perempuan, laki-laki. Ia merupakan penanda yang diletakkan subjek pada identitasnya—pada setiap penanda diidentifikasikn seorang-subjek. Melalui master siginifier inilah diskursus menjadi bisa dibaca.</p>
<p class="MsoNormal">Liyan Simbolik (bisa Tuhan, Masyarakat atau Alam) dalam konteks ini adalah masyarakat dan konstruksinya, saat ini masyarakat dan media mencintai dan menyukai perempuan-perempuan cantik. Liyan Simbolik bisa juga berwujud laki-laki dalam budaya yang patriarkhis. Mereka (laki-laki dalam budaya patriarkhis) sungguh menyukai dan mencitai perempuan cantik berkulit putih. Penanda utama perempuan cantik yang dikonstruksi oleh Liyan Simbolik adalah berkulit putih, berambut lurus, bertubuh langsing. <em>Master signifier</em>muncul dari dorongan diri untuk menjadi diri sendiri, menjadi utuh, mendapatkan identitas di mana saya bisa mengenali diri saya sendiri dan dikenali liyan. Dorongan itu membuat subjek-audiens mengkonstruksi ego-ideal (ego yang seperti dikonstruksikan masyarakat), dengan harapan dicintai dan diakui oleh Liyan (hasrat narsistik pasif). Jadi dengan berusaha menjadi putih, cantik, langsing, maka subjek-audiens berharap dicintai Liyan Simbolik, artinya diterima dan diakui keberadaannya oleh masyarakat, dan ia sendiri merasa eksis. Dalam iklan ini, Bunga (karena cantik dan putihnya) diterima, diakui dan dicintai oleh Liyan Simbolik laki-laki, baik yang direpresentasikan oleh Ashraff, maupun laki-laki dalam arti kolektif. Begitu pula yang terjadi dengan subjek-audiens yang hasrat narsistik pasifnya dibangkitkan. Mereka akan berusaha untuk diterima, diakui dan dicintai Liyan Simbolik—masyarkat dan laki-laki dengan menjadi putih dan cantik.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal">Kemudian subjek-audiens akan merasa tertarik untuk mengidentifikasikan diri dengan orang, karakter, dan imaji yang terkait dengan satu atau lebih penanda utama yang membentuk ego-idealnya (hasrat narsistik aktif). Subjek-audiens (perempuan) akan mengagumi dan memuja artis yang putih bersih tak ternoda, tanpa melihat kemungkinan apakah artis itu akan tetap dipuja ketika ia tidak cantik lagi. Subjek-audiens sangat mengagumi Bunga yang memiliki satu atau lebih karakter perempuan cantik. Liyan Simbolik akan memberikan penghargaan atau reward kepada subjek yang ia cintai, selain penerimaan dan pengakuan (Bunga yang sangat diterima dan dipuja oleh masyarakat) adalah kehidupan yang sempurna tanpa cela. Liyan Simbolik Tuhan-pun akan memberikan banyak hal kepada perempuan yang cantik tidak hanya lahir tapi juga batinnya (kata orang <em>inner beauty</em>). Namun jangan salah, <em>inner beauty</em> tidak lain dan tidak bukan adalah konstruksi masyarakat (dan media). Apapun yang ada dalam fikiran subjek adalah konstruksi, karena bagaimanapun subjek alias manusia berfikir menggunakan bahasa dan bahasa adalah konstruksi.</p>
<p class="MsoNormal">Hasrat anaklitik aktif adalah hasrat untuk memiliki objek yang menubuhkan penanda tertentu. Hasrat ini berhubungan dan sebagian datang dari hasrat narsistik aktif. Dalam menubuhkan atau mewujudkan penanda tertentu, subjek juga mengambil hasrat khusus, karena penanda-penanda ini dihasrati oleh Liyan. Agar dihasrati oleh Liyan maka subjek-audiens harus Hasrat anaklitik pasif dalam tatanan simbolik yang dibangkitkan oleh iklan ini berupa hasrat untuk menjadi pembawa salah satu master signifier, pembawa identitas cantik agar dihasrati Liyan Simbolik. Membeli dan memakai <em>Pond’s Flawless White</em> akan memberikan <em>sense-of-identity</em> bagi subjek-audiens. Putih adalah pembawa identitas cantik, menjadi putih menjadi keinginan utama, cara menjadi putih adalah dengan <em>Pond’s Flawless White</em>.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Diskursus siapa yang berbicara?</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>            </span></strong>Untuk mengetahui diskursus siapa yang berbicara maka kita perlu mengetahui <em>possibility of subject position</em>-nya.<span>  </span>Dengan cara menggunakan skema 4 diskursus Lacan itu. Siapa yang mengisi masing-masing posisi. Diagramnya adalah seperti ini :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">agent</span> <span>   </span><span>   </span><span><span>à</span></span><span>      </span><span style="text-decoration:underline;"><span>          </span>other<span>       </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">truth<span>                 </span>product/loss</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Di posisi agen adalah media. Media yang sebenarnya mencakup beberapa entitas, yaitu produsen produk (<em>Pond’s Flawless White</em>), biro iklan yang membuat iklan dan televisi sebagai media ditayangkannya iklan. Namun yang ultimat dari ketiganya adalah produsen produk karena dialah terutama yang memiliki motif paling besar dari keterjualan produk ini. Walaupun media dan biro iklan mendapatkan keuntungan (finansial) dari keterjualannya, namun bisa dibilang keuntungan itu tidak langsung atau hanya <em>by-product</em> dari keuntungan produsennya.</p>
<p class="MsoNormal">Iklan dalam Media ini menyapa, atau memanggil atau menginterpelasi penontonnya, yang kemudian diharapkan menjadi pembeli. Hasil dari relasi antara media dengan penonton iklan ini adalah identitas yang diidentifikasi oleh subjek. Identitas yang tidak dapat diartikulasikan dengan kata-kata. Sesuatu yang tak dapat dijangkau. Produsen mengatakan kepada audiens iklan untuk membeli produknya agar audiens mendapatkan kulit yang putih, karena kulit yang putih menandai cantiknya seseorang, seperti Bunga yang ada dalam iklan. Namun, media adalah agen palsu. Kekuatan yang sebenarnya berada di bawahnya. Disembunyikan oleh agen palsu ini. Dorongan yang sebenarnya adalah motif keuntungan (finansial) sang produsen, dengan kata lain ini adalah kepentingan kapitalis. Media tidak peduli apakah audiens menjadi lebih baik atau tidak, sehat atau tidak dengan memakai produk yang diiklankannya, yang penting audiens tetap membeli dan memakai.</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Iklan ini menjanjikan sebuah cerita cinta (baca: objek <span>a</span>) yang tak tercela bagi siapapun yang memakai <em>Pond’s Flawless White</em>, seperti yang dimiliki oleh Bunga. Sesuatu yang tidak mungkin di dapat oleh audiens dengan hanya memakai dan membeli <em>Pond’s Flawless White</em>. Identifikasi dengan imaji Bunga ini oleh audiens dijadikan pemenuhan atas <em>lack</em> dalam subjektivitasnya. Identifikasi ini dijadikan pembenaran bagi fantasinya.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;">S</span><span style="text-decoration:underline;"><span>1</span></span><span> &#8211;&gt; </span><span>  </span><span style="text-decoration:underline;">S</span><span style="text-decoration:underline;"><span>2</span></span><span><span>                  </span></span><span style="text-decoration:underline;">iklan/media</span><span>  </span><span>                &#8211;&gt;</span><span>  </span><span>                  </span><span style="text-decoration:underline;">subjek audiens</span></p>
<p class="MsoNormal"> $<span>          </span><span>a<span>        </span></span>keuntungan finansial <span>                 </span><span>    </span>kehidupan cinta yang <em>flawless</em></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Diagram di atas menunjukkan siapa atau apa yang berada pada masing-masing posisi dalam matriks diskursus Lacan. Iklan/media adalah <em>master signifier</em>, di mana audiens bisa menemukan penanda-penanda yang mewakili identitasnya. Subjek audiens ‘mencantolkan’ identitasnya pada <em>master signifier</em>itu. Subjek audiens membentuk ego ideal yang dihasratinya dengan salah satunya melihat imaji dalam <em>master signifier</em>. Di posisi other atau liyan ada subjek-audiens. Iklan/media ini menyapa atau memanggil subjek-audiens, yang dalam dialektika tuan-budak Hegel diisi oleh budak. Subjek-audiens belajar dari iklan ini, tentang informasi-informasi yang disampaikannya.</p>
<p class="MsoNormal">Dari relasi ini dihasilkanlah <span>a,<span>  </span></span>seperti dikatakan sebelumnya merupakan sesuatu yang tak mungkin diraih oleh subjek-audiens. Yaitu kehidpuan cinta yang <em>flawless</em> atau sempurna, tanpa cela. Namun iklan/media menyembunyikan kebenaraan, yaitu motif finansial dari produsen produk atau kapitalis. Dengan demikian diskursus yang berbicara dalam iklan ini adalah diskursus penguasa, dalam hal ini kapitalis yang berusaha mendapatkan keuntungan (finansial) dan mengakumulasi kapital.</p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Daftar Bacaan :</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> <span style="font-weight:normal;">Bracher, Mark, Jacques Lacan, Diskursus dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik Budaya Psikoanalisis, Cetakan Pertama, Jalasutra, Yogyakarta, 2005</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"> Fink, Bruce, The Lacanian Subject, Between Language and Jouissance, Princeton University Press, New Jersey, 1995</p>
<p class="MsoNormal"> Miller, Jacques-Alain (ed), The Seminars of Jacques Lacan Book I, Cambridge University Press, Cambridge, 1988</p>
<p class="MsoNormal"> Miller, Jacques-Alain (ed), The Seminars of Jacques Lacan Book II, Cambridge University Press, Cambridge, 1988</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Referensi :</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> <span style="font-weight:normal;"><a href="http://chaucer.library.emory.edu/carroll/lacan_pages/lacan_text.html">http://chaucer.library.emory.edu/carroll/lacan_pages/lacan_text.html</a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"> <span> </span>Verhaeghe, Paul, From Impossibility to Inability: Lacan’s Theory on the four discourses, dalam <a href="http://www.psychoanalysis.ugent.be/pages/nl/artikels/artikels%20Paul%20Verhaeghe/From%20Impossibility%20to%20Inability.pdf">http://www.psychoanalysis.ugent.be/pages/nl/artikels/artikels%20Paul%20Verhaeghe/From%20Impossibility%20to%20Inability.pdf</a> diakses Januari 2008, 2009</p>
<p class="MsoNormal"> Parker, Ian, Lacanian Discourse Analysis in Psychology: seven<span> theoretical Elements dalam <a href="http://tap.sagepub.com/">http://tap.sagepub.com</a> diunduh 14 November 2007</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1"></a> Tugas Akhir Mata Kuliah Teori Kritis, Prodi Kajian Budaya dan Media Universitas Gajah Mada. Dosen Pengampu: Dr. Heru Nugroho</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=75&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/20/apa-yang-dilakukan-iklan-pada-audiens/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumputliar.files.wordpress.com/2009/02/wallpaper1-11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">wallpaper1-11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konteks Sosio-kultural-politik-ekonomi Inggris dan kaitannya dengan karakter Kajian Budaya</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/20/konteks-sosio-kultural-politik-ekonomi-inggris-dan-kaitannya-dengan-karakter-kajian-budaya%ef%80%aa/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/20/konteks-sosio-kultural-politik-ekonomi-inggris-dan-kaitannya-dengan-karakter-kajian-budaya%ef%80%aa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 04:57:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Kajian budaya bisa dikatakan lahir di Inggris. Momentum institusionalnyalah yang membuat sebagian besar orang menyebutnya demikian. Sebelum menjadi negara industri maju, dulu Inggris merupakan negara pertanian dengan menggunakan sistem feodal. Pertumbuhan industri yang mulai muncul di abad XVIII menumbuhkan kelas sosial baru, yaitu kelas pekerja. Kelas pekerja ini sejak kemunculannya luput dari perhatian banyak orang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=71&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Kajian budaya bisa dikatakan lahir di Inggris. Momentum institusionalnyalah yang membuat sebagian besar orang menyebutnya demikian. Sebelum menjadi negara industri maju, dulu Inggris merupakan negara pertanian dengan menggunakan sistem feodal. Pertumbuhan industri yang mulai muncul di abad XVIII menumbuhkan kelas sosial baru, yaitu kelas pekerja. Kelas pekerja ini sejak kemunculannya luput dari perhatian banyak orang. Berakhirnya Perang Dunia II dan dekolonisasi negara-negara jajahan memberi pengaruh yang sangat besar bagi kemunculan Kajian Budaya. Perang Dunia II berakhir dengan ‘kemenangan’ sekutu. Di Inggris kesempatan mendapatkan pendidikan diperluas tidak hanya untuk mereka dari golongan ‘atas’ namun kelas pekerjapun diijinkan untuk mendapatkan pendidikan lanjut. Selain itu, pendidikan untuk orang dewasa sangat dikembangkan sebagai sarana rekonstruksi paska-perang. Pembukaan kesempatan ini mengakibatkan kemunculan banyak intelektual yang berasal dari kelas pekerja. Dekolonisasi negara-negara jajahan yang mengikuti berakhirnya perang dunia II juga memberikan kesempatakan yang lebih luas penduduk negara bekas jajahan untuk belajar dan mencari pekerjaan di bekas negara penjajahnya. Dalam konteks Inggris, salah satu yang paling besar adalah penduduk India dan Pakistan yang belajar dan bekerja di Inggris. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada waktu itu (paska Perang Dunia Kedua) kelompok elit Inggris masih menjadi kekuatan dominan sebagaimana yang terjadi sebelum perang, kelompok elit ini terutama adalah bangsawan, ilmuwan pengusaha dan para intelektual. Dahulu ketika industri belum berkembang, Inggris adalah salah satu negara yang menganut sistem feodal. Ada bangsawan pemilik tanah luas yang menyewakan tanah kepada petani untuk diolah. Ketika industri (benang wol waktu itu) mulai masuk ke Inggris, para petani ini terusir dari tanah-tanah (sewaan) mereka, karena tanah itu dijadikan ladang penggembalaan domba yang bulunya akan dijual ke industri benang wol. Pengusiran ini oleh Marx disebut dengan <em>enclosure</em>. Nah, para petani yang kehilangan tanah ini kemudian menjadi pekerja atau buruh di industri-industri yang baru muncul itu. Buruh atau pekerja berada di lapisan terbawah dari hirarki kelas sosial yang ada di Inggris. Mereka dianggap ‘tidak berbudaya’. Yang dikatakan budaya waktu itu adalah apa yang disebut sebagai <em>high culture</em>, budaya-tinggi, budaya yang hanya bisa dinikmati oleh orang tertentu dalam ruangan privat. Seperti orkestra, opera dan lukisan terkenal karya maestro dunia. Kaum elit ini menunjukkan kekuatannya dengan memberikan legitimasi terhadap dan menunjukkan bentuk dan praktik budaya mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sementara itu, pertunjukan drama di kedai kopi ataupun orkes pinggir jalan termasuk dalam kategori <em>low-culture</em>, budaya rendah—budaya yang bisa dinikmati siapa saja tapi tidak oleh mereka yang berstatus sosial tinggi. Di sisi lain, terpaan budaya pop Amerika terhadap kaum pekerja ini sangat gencar. Dan kaum pekerja menyerapnya dengan mudah. Inilah yang mengkarakterisasikan budaya kelas pekerja. Tidak sama dengan budaya pop-tradisional namun juga bukan semata-mata budaya pop-Amerika yang diserap serta merta. <span> </span>Kategorisasi ini tentu saja dibuat oleh mereka kelompok elit untuk melakukan, dalam istilah Bourdieu distingsi sosial, membedakan diri dari kelas pekerja (terutama) dengan memiliki <em>taste</em> budaya yang berbeda.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kategorisasi dan peminggiran budaya selain <em>high culture</em> ini merupakan salah satu faktor yang memberikan Kajian Budaya satu karakter yang berbeda dari kajian lain, yaitu subjek kajian (subjek matter)-nya adalah praktik budaya dan relasinya dengan kekuasaan. Tujuan utamanya adalah menunjukkan relasi kuasa dan meneliti bagiamana relasi ini mempengaruhi danmembentuk praktik-praktik kultural. Tumbuh di negara industri juga membuat Kajian budaya berkomitmen pada evaluasi moral masyarakat modern dan membatasi aksi politik. Kajian budaya bukan kajian yang bebas nilai tetapi berkomitmen dengan konstruksi sosial. Sehingga kajian budaya bertujuan untuk memahami dan mengubah struktur dominasi di manapun dominasi itu ada, terutama dalam masyarakat kapitalis industri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi ini membuat para intelektual kelas pekerja berfikir tentang budayanya sendiri yang bahkan tidak disadari keberadaannya. Para intelektual kelas pekerja ini berusaha meruntuhkan hirarki sosial yang demikian itu, dan sekaligus meruntuhkan ‘kesucian’ <em>high culture</em> dengan merayakan budaya popular kelas pekerja yang otentik. Namun demikian Kajian Budaya bukanlah kajian tentang budaya yang terpisah dari konteks sosial dan politiknya. Kajian Budaya berusaha memahami budaya dalam bentuk-bentuknya yang kompleks dan menganalisa konteks sosial dan politik dalam mana budaya memanifestasikan dirinya. Richard Hoggart dalam bukunya yang berjudul <em>The Use of Literacy</em> di tahun 1975 menunjukkan bagaimana konteks sosial dan politik yang melandasi kemunculan budaya kelas pekerja di Inggris. Hoggart seorang yang berasal dari kelas pekerja. Ia menulis ““sosiologi-budaya”<span>  </span>kelas pekerja dengn menggunakan teori sastra!” (Sunardi 2004: viii, tekanan<span>  </span>asli dari penulis). Tulisan ini memberikan bentuk intelektual bagi Kajian Budaya yang bisa dikenali dengan mudah. Hoggart berpendapat bahwa pembacaan kritis terhadap seni bisa mengungkap “felt quality of life” suatu masyarakat (terjemahan bebas dari Sardar &amp; van Loon, 1999:27). Hoggart adalah salah satu pendiri Centre for Contemporary Cultural Studies di University of Hull. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam buku ini Hoggart menggambarkan tentang kehidupan kelas pekerja sebelum dan sesudah perang.<span>  </span>Perubahan-perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah menjadi pekerja. Hoggart menyimpulkan bahwa budaya popular tradisional (sebelum menjadi pekerja) berbeda dengan budaya kelas pekerja yang berhubungan dengan kondisi sosial kelas pekerja (yang menghasilkan dan mengkonsumsi budaya itu). Karya Hoggart ini menjadi salah satu tonggak penting dalam Kajian Budaya di Inggris. Keberpihakan kelas yang ditunjukkan dalam karya Hoggart ini kemudian menjadi ciri penting Kajian Budaya, baik di Inggris maupun di seluruh dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Eksponen Kajian Budaya yang juga dari kelas pekerja adalah Raymond Williams. Baginya budaya adalah entitas yang iklusif (all-inclusive entity), ‘cara hidup secara keseluruhan’, material, intelktual dan spiritual (Sardar &amp; van Loon, 1999: 29). Ia meneliti konsep tentang budyaa dari Revolusi Industri sampai dengan masyarakat Inggris paska Perang Dunia Kedua. Williams mengatakan bahwa masyarakat Inggris telah mengalami berbagai revolusi: industrialisasi, demokratisasi dan transformasi. Dua founding fathers lain adalah E. P. Thompson dan Struart Hall. E.P. Thompson dalam karyanya <em>The Making of the English Working Class</em> (1978), berusaha mendeskripsikan kemengadaan (come into being) kelas pekerja di Inggris dalam periode sejarah yang spesifik. Dan mengembalikan perhatian masyarakat kepada satu populasi di Inggris yang luput dari perhatian tradisi dominan sejarah konvensional. Dalam karya ini sangat kental dengan tradisi Marxist walau muncul perbedaan di sana sini tentang berberapa konsep. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Stuart Hall adalah yang paling terkenal di antara keempatnya. Ia mengatakan bahwa Kajian Budaya harus mampu menjawab personal teoretis dan politik. Kajian Budaya bisa benar-benar memiliki implikasi praktis terhadap realitas. Walau banyak bertitik tolak dari tradisi Marxist, namun Hall banyak juga memberikan kritik terhadap tradisi ini. Salah satunya bahwa masyarakat tidak hanya ditentukan dan disetir oleh konflik ekonomi saja, namun juga oleh konflik berbasis ras, gender, agama dan wilayah. Sehingga Kajian Budaya memperlihatkan perbedaanya dengan analisis Marxist yang hanya berbasis kelas (ekonomi) dan tidak menyentuh wilayah lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Latar belakang para founding fathers Kajian Budaya yang mempengaruhi beragamnya pendekatan yang dipakai, Kajian Budaya disebut inter-disipliner dan bahkan pos-disipliner. Kajian budaya menyerap banyak disiplin yang sudah ada dan kemudian mensintesakannya (Sunardi 2004: x). Bidang kajiannya sama sekali baru. Kajian budaya mengaji bidang yang selama ini berada di marjin atau sama sekali tidak tersentuh, seperti kelas pekerja dan kelompok <em>punk</em> di Inggris. Ada banyak ide kunci yang berasal dari berbagai paradigm teoretis dan metodologis yang berpengaruh dalam kajian budaya, seperti psikoanalisis, strukturalisme, postruturalisme, politik perbedaan dan Marxisme. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selama fase awal Kajian Budaya di Inggris memang banyak dipengaruhi oleh gerakan New Left. Sehingga, kajiannya banyak dipengaruhi oleh tradisi kiri. Sejak masa penjajahan banyak intelektual dari negara jajahan yang belajar di negara jajahan (dalam konteks ini Inggris), dan lebih banyak lagi setelah terjadi dekolonisasi. Mereka (para intelektual dari negara jajahan ini) memberikan ‘suara’ dan warna yang berbeda dalam kajian budaya di Inggris. Ketika mereka pulang ke negaranya masing-masing, mereka membawa kajian budaya pulang. Dan kemudian meyebarlah Kajian Budaya ke seluruh dunia dan berkembang sesuai kondisi di masing-masing negara. Perluasan ini berakibat pada meluaskan pokok Kajian Budaya, tidak hanya pada kelas pekerja saja (terutama pemuda dari kelas pekerja) namun meluas ke apa yang disebut subkultur, subgroup perempuan, kelompok minoritas dan terpinggirkan , bentuk-bentuk resistensi mereka terhadap kelas dominan. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=71&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/20/konteks-sosio-kultural-politik-ekonomi-inggris-dan-kaitannya-dengan-karakter-kajian-budaya%ef%80%aa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setadewa, Indonesia dalam Burung-Burung Manyar</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/01/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar-2/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/01/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 15:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Lacan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/01/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar-2/</guid>
		<description><![CDATA[  Ayah menamaiku.  Ibu memimpikanku. Dan aku memimpikan sebuah nama yang bukan namaku (Nukila Amal, Cala Ibi) Pendahuluan             Membaca Burung-Burung Manyar (selanjutnya BBM) karya Romo Mangun tidak bisa dilepaskan dengan sejarah revolusi Indonesia. Tiga bagian roman ini dibuat berdasarkan tahun, padahal roman ini bukanlah sebuah kronik. Tahun-tahun untuk masing-masing bagian baru akan bermakna bila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=42&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal" align="center"><em>Ayah menamaiku. <span> </span>Ibu memimpikanku. Dan aku memimpikan sebuah nama yang bukan namaku</em></p>
<p class="MsoNormal" align="right"><em><span lang="SV">(Nukila Amal, <strong>Cala Ibi</strong>)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Pendahuluan<em></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV"><span>            </span></span></strong><span lang="SV">Membaca Burung-Burung Manyar (selanjutnya BBM) karya Romo Mangun tidak bisa dilepaskan dengan sejarah revolusi Indonesia. Tiga bagian roman ini dibuat berdasarkan tahun, padahal roman ini bukanlah sebuah kronik. Tahun-tahun untuk masing-masing bagian baru akan bermakna bila dihubungkan dengan revolusi Indonesia. <span> </span>Bagian I, antara tahun 1934-1944 berhubungan dengan akhir kekuasaan Belanda di Nusantara yang ditandai oleh pendudukan Jepang pada tahun 1942. Bagian II, antara tahun 1945-1950 adalah masa kemerdekaan. Kelahiran negara bangsa yang diberi nama Indonesia. Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Bagian III antara tahun 1968-1978 sudah masuk Orde Baru. Ada loncatan antara Bagian II dengan Bagian III, yaitu hilangnya periode antara tahun 1951-1967, yang merupakan akhir Orde Lama, dan munculnya Orde Baru. Periode ini nampaknya sengaja dihilangkan untuk menghindar dari pembicaraan tentang kejatuhan Orde Lama yang ditandai dengan peristwa berdarah Oktober 1965. Entah mengapa Romo Mangun menghindar dari membicarakan hal tersebut. Romo Mangun ”mengungsikan’ tokoh utamanya ke luar negeri selama periode itu, dan kembali lagi setelah Orde Baru. Strategi literer yang menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>BBM juga merupakan cara pandang yang berbeda terhadap hal-hal yang berhubungan dengan revolusi; Belanda, Jepang, Indonesia dan bahkan Nasionalisme. BBM menempatkan tokoh utamanya pada posisi yang pro-Belanda, hal yang ”tidak wajar” di tengah masa revolusi. Ketidakwajaran inilah yang akan dikaji oleh tulisan ini dengan cara melihat kondisi-kondisi apa yang memunculkannya. Kalaulah Seto adalah representasi dari Indonesia, maka dengan cara menelusuri <em>psychonalitic situation</em><span>  </span>Seto kita akan mendapatkan <em>possibility of subject position</em> Indonesia sejak kelahirannya sampai masa jaya Orde Baru. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Berikut penelusuran kondisi-kondisi yang signifikan yang terdapat dalam roman Burung-Burung Manyar. Disajikan bagian per bagian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <strong><span lang="SV">Bagian I (1934-1944)</span></strong><span lang="SV"> <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Adalah Setadewa, hasil perkawinan campur antara seorang Jawa dan Belanda, atau disebut totok. Anak kolong Magelang yang hobi berenang telanjang di selokan tangsi <em>kebak</em> <em>tai</em>. Sangat tidak sesuai dengan darah ningrat dari Papinya dan darah Indo dari Maminya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> 
<a href='http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/01/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar-2/88c2c3aa3b819ae70ffc1ba0735348a51/' title='88c2c3aa3b819ae70ffc1ba0735348a51'><img width="62" height="96" src="http://rumputliar.files.wordpress.com/2009/02/88c2c3aa3b819ae70ffc1ba0735348a51.jpg?w=62&#038;h=96" class="attachment-thumbnail" alt="88c2c3aa3b819ae70ffc1ba0735348a51" title="88c2c3aa3b819ae70ffc1ba0735348a51" /></a>
</p>
<p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Papiku loitenant keluaran Akademi Breda Holland. Jawa! DAN Keraton! &#8230; Soalnya, Papi suka hidup bebas model Eropa dan barangkali itulah sebabnya juga, ibu kandungku seorang nyonya yang, menurut babu-babu pengasuhku, totok Belanda Vaderland sana. &#8230;yang blak-blakan sering mengindoktrinasi, bahwa aku ini anak Jawa Inlander belaka. Sama seperti mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Teto menggambarkan Papinya sebagai pribadi yang ambivalen: ingin berada di dua tempat pada satu waktu yang bersamaan. Satu kakinya berada di Jawa dan Keraton, kaki yang lain berpijak pada ’hidup bebas model Eropa;’ menyangkal identitasnya sebagai orang Jawa dan bahkan Keraton dengan memilih belajar di Akademi Breda Holland. Mengidentifikasi diri dengan seorang Eropa, artinya menemukan tempat bagi hasratnya untuk menjadi berbeda dan sekaligus mengkonstruksi dan memberikan pembenaran bagi fanstasinya akan satu identitas. Ia menghasrati tempat Liyan, sang penjajah. Dengan menikahi seorang perempuan Belanda, Papi merasa setara dengan orang Belanda. Hubungan laki-laki berwarna (<em>coloured men</em>) dengan perempuan kulit putih (<em>white women</em>) biasanya melibatkan fantasi akan kesetaraan. Seperti Soekarno yang memacari seorang kulit putih dan Pram yang menyetubuhi gadis Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">&#8230; Dan tegak dia di samping para perwira Belanda yang menjulang tinggi, menajwab salut dari pasukan-pasukan berkuda yang berparade membawa mirtrayir di bawah iringan lagu-lagu Mars fanfare peleton musik tentara. Sempurna dah! Asal anda jangan melihat wajah beliau. Benar-benar Jowu deh. &#8230; Jangan main-main. KNIL lagi!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">White but not quite</span></em><span lang="SV">. KNIL dalam Bahasa Indonesia artinya Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Papinya adalah seorang letnan KNIL, tentu saja berpakaian layaknya seorang tentara Belanda. ”Berpakaian gala, jas tutup putih dengan kancing-kancing perak berukiran huruf W dan dua bintang perak di kerah. Bertopi model panci doyong beledu hitam berpelisir kencana serta berjambul bulu-bulu kasuari.” lengkap dengan pedangnya yang terbuat dari perak bertali kuning. Tidak lagi dapat dibedakan. Namun wajahnya tetap wajah seorang jawa. Di satu pihak membangun persamaan di pihak lain mempertahankan perbedaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sedangkan Maminya yang konon Belanda, ia gambarkan justru menyukai hal-hal yang berbau klenik, kehidupan ningrat di keraton, dan berlaku bak putri keraton. Maminya menyukai saat ia disembah-sembah layaknya ratu. Maminya sangat paham tentang primbon-primbon Jawa. Hal ini membuatnya dianggap tidak sombong sebagai seorang nyonya Belanda, dan dianggap menghargai warisan nenek moyang. Teto justru mengambil sikap yang sangat berbeda. Ia tidak menjadi seperti Papinya yang ’sangat Eropa’ namun ia juga tidak menyukai hal-hal yang berbau Jawa, apalagi ningrat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <span>            </span>Adalah Atik, Den Rara Puri Mangkunegaran, putri Bapak dan Ibu Antana. Anak emas dari Bogor ini hobinya membaca dan mengamati burung. Hobi ini menurun dari Ayahnya yang seorang ilmuwan. Ibunya seorang ningrat yang moderat, tidak menikahi pangeran atau kaum istana. Sehingga Atik tidak dididik dengan cara ningrat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span><span> </span>Jepang datang. Belanda mengalami banyak kekalahan di negaranya sendiri. Di tahun 1940 Belanda sudah menyerah kepada Jerman. Kekalahan demi kekalahan membuat posisi Belanda di Hindia semakin lemah, dan memberi kesempatan bagi Jepang untuk semakin mengokohkan pengaruhnya di Hindia. Jepang datang pada mulanya sebagai pembeli (atau berpura-pura) yang bertransaksi dengan pemerintah Hindia Belanda. Di kemudian hari Jepang menuntut diberikan agar Belanda memberi ruang untuk pengaruh dan kehadirannya di wilayah Hindia Belanda. Namun Belanda menolaknya dan membekukan aset-aset Jepang di Hindia. Jepang mulai menyerang Malaya dan Thailand. Maka Belanda kemudian menyatakan perang dengan Jepang pada 8 Desember 1941. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Kedatangan Jepang di Hindia sungguh mengacaukan kehidupan banyak orang. Terutama kehidupan Teto. Papinya ditahan selama beberapa bulan sebagai tawanan perang Jepang. Setelah dibebaskan mereka harus pindah rumah, keluar dari kompleks militer. Waktu itu Teto sudah bersekolah di SMT (Sekolah Menengah Tinggi) atau setingkat SMA sekarang di Semarang. Papinya tiba-tiba menghilang. Maminya mengungsi ke Solo. Beberapa bulan kemudian, Teto menemukan Maminya ada di Jakarta di rumah keluarga Antana, orang tua Atik. Teto dan Maminya kemudian memilih tinggal di Jakarta. Atas desakan Maminya, Teto masuk ke Sekolah Tinggi Kedokteran Daigakku sambil bekerja untuk menghidupi mereka berdua. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Kepala Kenpetai yang bertanggung jawab atas nasib Papinya memberi ultimatum. Harus memilih satu di antara 2, Papinya dibunuh atau Maminya bersedia menjadi gundik Jepang. Maminya memilih yang kedua. Teto tidak mampu memahami tetapi ia menerimanya. Membuatnya semakin membenci Jepang. Mami adalah ibu yang melahirkan, membesarkan dan mendidiknya. Jepang telah memisahkannya dari Mami. Jepang telah membuat Belanda memutuskan pergi dari Hindia, mengaku kalah oleh Jepang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Moment perpisahan dengan Maminya adalah moment yang sangat traumatis bagi Teto. Seketika itu menimbulkan <em>lack</em> dalam dirinya. <em>Lack </em><span> </span>atau ketidakpenuhan inilah yang kemudian menimbulkan <em>desire</em> atau hasrat untuk terus mencari, mencari dan mencari. Namun <em>lack</em> tidak akan pernah terpenuhi, sehingga pencarian akan terus dilakukan. Berpisah dengan Mami berarti Teto siap untuk masuk ke dalam wilayah simbolik artinya siap dibahasakan, menjadi subjek bahasa. Mau tidak mau Teto harus berpisah dengan Mami agar bisa bersosialisasi, agar mampu berbahasa, mampu berkomunikasi dengan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal">O, Mamiku yang kasihan. Sungguh aku tidak pernah tahu, apakah aku harus merangkul menciummu dengan bangga, ataukah harus membunuhmu dengan benci.</p>
<p class="MsoNormal">Melemahnya kekuatan Belanda di Hindia akibat kedatangan Jepang dimanfaatkan oleh para pejuang anti-Belanda. Pejuang Aceh justru melakukan kontak dengan militer Jepang, yang dianggapnya sama musuh Belanda. Jepang datang sebagai ’saudara tua’ yang akan membebaskan Hindia dari penjajahan Belanda disambut gembira oleh banyak pihak. Namun dikemudian hari baru terbukti tidak demikian adanya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Sejak itu aku bersumpah untuk mengikuti jejak Papi; menjadi KNIL, membebaskan negeri yang indah ini dengan rakyatnya yang bodoh, pengecut tetapi baik hati itu, segala orang di kolong jembatan dan mental-mental serba kampungan dari hasutan dan pengaruh jahat yang menyebut diri nasionalis, tetapi mendukung bandit-bandit yang membuat Mamiku menjadi gundik.”</span></p>
<p class="MsoNormal">Bagi Teto kaum nasionalis sama bersalahnya dengan Jepang dalam perpisahannya dengan Maminya. Ia membalikkan keadaan. Bahwa negeri ini dijajah memang iya, tetapi bukan oleh Belanda namun oleh Jepang. Maka Belanda dengan KNIL-nya lah yang akan membebaskan rakyat dari Jepang, dan hasutan kaum nasionalis yang mendukung Jepang. Teto kemudian memilih menjadi KNIL, mengambil posisi yang sebisa mungkin bertentangan dengan Jepang dan kaum nasionalis namun lebih ”dekat’ dengan Maminya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pada saat yang hampir bersamaan dengan perginya Mami dari kehidupan Teto, Atik lulus ujian masuk SMT. Atik sedang mempersiapkan masa depannya. Pendidikan adalah modal utama untuk memperbaiki nasib. Kelulusan Atik dalam ujian masuk SMT menandai kemunculan bibit-bibit nasionalisme dan kaum nasionalis. Atik adalah nasionalis Jawa ningrat berpendidikan tinggi yang pada awal abad 20 menjadi peletak dasar nasionalisme yang di kemudian hari bernama Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Bagian II (1945-1950)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lima belas Agustus 1945 Jepang menyerah kalah kepada sekutu setelah dijatuhi 2 bom atom. Kesempatan ini digunakan oleh kaum nasionalis untuk menyatakan kemerdekaan satu negeri yang diberi nama Indonesia. Sebagai ”pemenang” Perang Dunia Kedua, Sekutu merasa ”berhak’ atas apa yang ditinggalkan oleh musuhnya, Jepang. NICA (Netherland Indies Civil Administration) atau Pemerintah Penguasa Hindia Belanda adalah bentukan Sekutu yang menerima penyerahan diri Jepang dan melucuti militer Jepang. Belanda dan sekutu masih menyebut wilayah ini dengan Hindia atau Indie atau East Indies. Namun Soekarno dan kaum nasionalis berani menyatakan diri bahwa negara yang kemerdekaannya mereka proklamasikan bukan benama Hindia atau Indies tetapi Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Demikian halnya dengan Teto, kepergian Maminya membuat Teto berani membuat nama sendiri untuknya. Ia tidak lagi menggunakan nama pemberian kedua orang tuanya; Setodewo tetapi dipanggil Teto, yang menurutnya merupakan logika orang Jawa yang aneh. Nama itu ia tinggalkan karena menurutnya seperti nama anak kecil. Ia tidak lagi bersama Maminya, ia sudah dewasa sehingga tidak lagi nyaman menyandang nama Teto. </span><span lang="SV">Seta berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya putih, sedangkan dewa ya dewa. Nama itu tentunya lekat dengan identitas jawa, yang kini menjadi salah satu wilayah Republik. <span> </span>Karena darah Belanda juga mengalir dalam tubuhnya, maka Teto mengganti namanya dengan nama yang lebih berkesan Eropa, nama yang lebih dekat dengan Maminya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">”Zo, zo&#8230;.jadi kau anak dari Marice,” ia (Verbruggen) berkata agak bengong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">“Mari duduk&#8230;.siapa? Yan, Piet, Karel? Atau Willem?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Leo” (Saya tidak mau menyebut nama Teto. Kok seperti anak kecil).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Teto bergabung dengan NICA. Dengan Tegas Teto mengatakan bahwa ia bukan budak Belanda. NICA hanyalah alat baginya, sebagaimana Republik bagi kaum nasionalis. Teto menjadi KNIL, tentara bayaran Belanda yang membonceng NICA menyusul kekalahannya atas Jepang. NICA adalah bentukan sekutu pemerintahan bentukan sekutu. Teto bertemu dengan Mayoor Verbruggen, teman lama sekaligus rival Papinya dalam mendapatkan Marice, Mami Seto. Verbruggen kemudian menjadi teman baik Teto. Teto atau Leo memohon diperbolehkan masuk Tentara Kerajaan. Namun oleh Mayoor Verbruggen Leo ditawari untuk masuk KNIL saja, tentara sewaan Hindia Belanda, yang disebutnya sebagai gerombolan bandit VOC.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Walaupun sudah menjadi tetara KNIL, Leo atau Teto tidak berarti melupakan Atik. Ia masih selalu merindukannya. Beberapa kali ia kunjungi rumah di Kramat, namun sudah kosong. Leo tidak tahu di mana Atik dan keluarga Antana sekarang. Dalam surat yang ditinggalkannya di lubang kunci, Atik menulis bahwa ia sekarang bersama ayahnya bekerja di kantor perdana menteri RI. Ini semakin mempertegas posisi keduanya yang saling berseberangan. Atik berada di pihak musuh Leo. Namun Leo atau Teto tetap merindukannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">&#8230; Sebab aku benar-benar bayi pada saat itu. Menangis memohon hidup. Memohon perempuan. Perempuan bukan dalam arti yang dinikmati, tetapi perempuan merupakan syarat mutlak agar aku hidup. &#8230; Aku butuh Atikku agar aku hidup terus. Tetapi gadis itu ada di pihak musuhku. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Sejak Maminya ’hilang’ Teto kehilangan arah. Ketidakpenuhan yang diakibatkan oleh keterpisahannya dengan Mami masih tetap saja ada, walaupun Teto sudah berusaha memenuhinya. Teto terus saja mengunjungi rumah di Kramat itu. Di sana ia menemukan biara tempatnya mengasingkan diri, menemukan ”dunia yang baru untuk bertahan diri.” Dalam kunjungannya yang ke sekian kali, Teto akhirnya bertemu Atik di rumah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Atik jelas bukan adik. Ia praktis pengganti Mamiku. Di dalam pangkuan pengganti Mamiku itu aku menangis, tolol dan menjijikkan&#8230;. Kepada siapapun aku akan malu. Tetapi kepada Atik aku sanggup telanjang dan ditelanjangi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Atik adalah Ibu Pertiwi. Ibu pertiwi yang diperebutkan Belanda, Jepang dan kaum nasionalis. Ibu yang akan memberikan kehidupan baru bagi Teto. Atik adalah perempuan sumber kehidupan Teto. Teto tidak lagi bisa mendapatkan tetes kehidupan dari Maminya yang sudah dianggap meninggal baik oleh Verbruggen maupun Teto sendiri. Namun, kini Atik berada dalam cengkraman tangan kaum nasionalis, yang ia anggap sebagai musuh. Maka semakin menjadi saja kebencian Teto terhadap kaum nasionalis, ”yang merenggut satu-satunya harapan dan tumuan jiwaku ayng merana ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IT">Teto berada di antara Mami dan Atik. </span><span lang="SV">Tarik menarik gambar Mami dan Atik membuat Teto terombang-ambing. <em>Lack</em> akibat ditinggalkan Mami coba ia penuhi dengan Atik, namun tidak juga mampu mengisi ketidakpenuhan itu. Gambar tentang Mami dalam diri Teto tidak akan dapat diubah, menetap dan kuat. Teto tidak akan penah bisa lari dari Mami dan imaji tentangnya. Di lain pihak Atik menariknya dengan sangat kuat. Atik menawarkan kehidupan baru, dengan identitas baru yang tidak dibayang-bayangi Mami. Teto tidak mampu menjatuhkan pilihan satu di antara dua. Kepada Mami ia sudah tidak bisa, namun pergi ke Atik pun tidak memungkinkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sembilan Belas Desember 1948, Belanda melancarkan serangan yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda. Serangan itu ditujukan ke Yogyakarta. Atik kebetulan sedang berkendaraan dengan Ayahnya. Di jalan, mobil yang mereka tumpangi diberondong peluru oleh sebuah pesawat terbang bermoncong merah. Ayahnya tidak terselamatnya. Atik kehilangan ayahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Teto memimpin pasukan untuk menguasai Yogyakarta. Hanya dalam beberapa jam pasukannya mampu mengusai Istana dan ”Soekarno, Hatta Syahrir danorang tua Haji Salim dan siapa lagi ditawan.” Baginya ini adalah perang suci, namun kemenangan yang diraihnya tidak memberikan kepuasan namun justru kekecewaan. Bagaimanapun ini bukan kemenangan siapa-siapa, ini adalah kemenangan Kapitain Setadewa, dengan bayaran harus kehilangan Larasati. Belanda kembali menguasai tanah ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Maminya ternyata masih hidup, belum meninggal seperti yang ia percayai selama ini. Maminya berada di Rumah Sakit Jiwa di Magelang. Teto mengetahuinya dari Mayoor Verbruggen yang ia buntuti ketika mengunjungi maminya. Mayoor itu mengajak Teto menemuinya. Namun, jangankan memberikan pelukan pelepas rindu, Maminya tidak mengenali Teto lagi, Mayoor Verbruggen juga tidak. Mami tidak lagi bisa menghubungkan siapa dan apa. Yang keluar dari mulutnya hanyalah ”Ya, segala telah kuberikan. Segala telah kuberikan. Tetapi mereka mengingkari janji.” Ternyata Jepang telah membunuh Papinya setelah Mami memilih menjadi gundiknya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <strong>Bagian III (1968-1978)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Teto kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan doktornya di Harvard University. Teto kini bekerja di perusahaan bernama Pacific Oil Wells Company. Teto kembali ke Indonesia, kembali ke Yogyakarta. ”Untuk menyusuri kembali sejarah hidupku yang lampau penuh kepahitan, kekalahan, dan kesialan itu?” Teto mengunjungi makam Papi dan Maminya.<span>  </span>Teto tidak hanya mengunjungi Yogyakarta yang dulu pernah ditaklukkannya bersama pasukannya, namun Teto juga mengunjungi Magelang. Menyusuri jalan sepanjang kali manggis, selokan tempatnya berenang telanjang, sampai di Juranggede, di mana Atik dan Ibunya pernah mengungsi semasa revolusi dulu. Perjalanan kembali ke ’masa lalu’, mengunjungi situs-situs traumatis adalah upaya Teto untuk menegosiasikan ingatan-ingatan pahitnya agar menjadi lebih familiar dan mudah dipahami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Kepustakaan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Amal, Nukila, <em>Cala Ibi,</em> Cetakan Pertama, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004</span></p>
<p class="MsoNormal">Childs, Peter, &amp; Williams, R.J. Patrick, <em>An Introduction to Post-Colonial Theory</em>, Prentice Hall, London 1997</p>
<p class="MsoNormal">Fink, Bruce, <em>The Lacanian Subject, Between Language and Jouissance</em>, Princeton University Press, New Jersey, 1997</p>
<p class="MsoNormal">Gandhi, Leela, <em>Postcolonial Theory, A Critical Introduction</em>, Allen &amp; Unwin, New South Wales, 1998</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jurnal Kebudayaan Kalam no 11, Sastra dan Representasi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jurnal Kebudayaan Kalam no 14, Pascakolonialisme dan Sastra</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Mangunwijaya, Y.B., <em>Burung-Burung Manyar</em>, Cetakan kelima belas, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2007</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <a href="http://www.gimonca.com/">www.gimonca.com</a><span>  </span>diakses 27 November 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=42&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2009/02/01/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>No Whitening Campaign : Menciptakan Mitos Tandingan*</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2009/01/30/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2009/01/30/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 05:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Semiotics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[           Jika anda pergi ke supermarket pada bagian kosmetik dan sabun, anda hampir tidak akan dapat menemukan produk yang tidak mengandung pemutih. Mulai dari sabun mandi, sabun muka, hand and body lotion, sampai dengan bedak dan pelembab wajah. Iklan produk berpemutih ini di media, cetak sampai digital dan luar ruang sangat gencar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=38&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span>           </span>Jika anda pergi ke supermarket pada bagian kosmetik dan sabun, anda hampir tidak akan dapat menemukan produk yang tidak mengandung pemutih. Mulai dari sabun mandi, sabun muka, hand and body lotion, sampai dengan bedak dan pelembab wajah. Iklan produk berpemutih ini di media, cetak sampai digital dan luar ruang sangat gencar. Hampir tidak ada lagi celah untuk lolos dari terpaan iklan produk berpemutih. Produk-produk ini terutama ditujukan bagi perempuan. Merekalah yang dianggap perhatian terhadap penampilan, dan ‘dibuat’ demikian oleh para produsen produk.</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk pemutih kulit di Indonesia meningkat secara signifikan. Jenis produk pemutih pun bertambah hingga mencapai 47 jenis. Mengutip data AC Nielsen, pada kurun waktu Januari 2002-Desember 2003, produk pemutih Ponds White Beauty-Skin Lightening di Indonesia meningkat drastis hingga 110 persen, dari Rp 46 miliar menjadi Rp 97 miliar (Kompas, Mei 2008).</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Media sebagai salah satu agen perubahan sosial tidak memberikan pencerahan bagi audiens yang disasar sebagai konsumen produk berpemutih itu, yaitu perempuan. Media cenderung memberikan afirmasi dan dukungan bagi pemakaian produk itu. Contohnya, majalah-majalah perempuan menampilkan artikel bagaimana memilih produk pemutih yang aman. Pemilihan bakat yang tampil di mediapun cenderung memilih perempuan berkulit putih.</p>
<p class="MsoNormal">Media membentuk cara pandang kita terhadap dunia, membentuk <em>sense</em> kita identitas kita, dan membentuk kesadaran kita akan kelas, identitas, nilai-nilai hidup seperti mana yang baik dan mana yang buruk. Media mendefinisikan identitas kita, membentuk subjektivitas kita. Termasuk pandangan kita tentang mana yang cantik dan mana yang tidak.</p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Media adalah promotor utama dari produk-produk pemutih ini. Media didominasi oleh perempuan cantik berkulit putih. Mulai dari presenter berita sampai dengan artis sinetron dan bintang iklan tentu saja. Media telah menciptakan apa yang oleh Barthes disebut dengan mitos, bahwa cantik itu putih. Bahkan ada salah satu iklan produk pemutih kulit yang berbentuk testimoni yang mewawancarai beberapa pria tentang bagaimana gambaran mereka tentang wanita cantik. Dalam iklan itu mereka mengatakan dengan verbal bahwa cantik itu putih. Mitos perempuan cantik adalah yang berkulit putih sangat diperkuat oleh ‘gaze’ atau pandangan laki-laki terhadap perempuan seperti dikatakan di atas. Bagaimanakah mitos ini bekerja pada diri perempuan—terutama di Indonesia—sehingga mereka berbondong-bondong memborong produk berpemutih dan bagaimana membongkar mitos ini untuk ‘membebaskan’ perempuan dari cengkeramannya, dan mengutip St. Sunardi (2004) bahwa mitos hanya bisa dilawan dengan menciptakan mitos baru, apakah dengan no whitening campaing bisa menjadi mitos baru untuk melawan mitos ‘cantik itu putih’? ketiga pertanyaan inilah yang akan berusaha dijawab dalam tulisan ini.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Tradisi Efek penelitian Media </strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Tawaran iklan produk pemutihpun beragam dengan janji-janji selangit. Tapi memang demikianlah iklan. Tidak ada yang tidak bermotif, tidak ada yang tidak politis. Namun bagaimana bekerjanya iklan sehingga bisa sampai membuat seseorang melakukan apa yang diinginkan, yaitu membeli dan menggunakan produk itu masih banyak diperdebatkan. Dalam kajian media masalah ini berada dalam tradisi efek, yang salah satunya membahas tentang efek media terhadap perilaku. Salah satu yang terkenal adalah McGuire Model, yang membagi persuasi media atau iklan dalam hal ini menjadi enam tahap yaitu :</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">presentation, pesan persuasif ditampilkan kepada      anggota audiens</li>
<li class="MsoNormal">attention, audiens memberikan perhatian kepada pesan      itu</li>
<li class="MsoNormal">comprehension, audiens memahami pesan itu</li>
<li class="MsoNormal">yielding, seseorang menolak, menerima atau menyetujui      argumentasi yang ditampilkan dalam pesan itu;</li>
<li class="MsoNormal">retention, setelah menerima pesan dan meninggalkan      situasi komuniktif, audiens harus mengingat pesan persuasif itu;</li>
<li class="MsoNormal">overt behavior, audiens itu harus berperilaku seperti      yang diharapkan</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">(sumber : <span>Grossberg, Lawrence dkk, 2006)</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>            </span>Tahapan ini terkesan mekanistis dan tidak mempertimbangkan faktor lain dalam pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan atau berperilaku seperti yang diharapkan oleh pesan itu. Selain McGuire Model ada banyak lagi teori tentang Efek, seperti Teori Kultivasi George Gerbner dan Jarum Hipodermis-nya Katz dan Lazarfeld. Namun teori efek banyak yang tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar situasi saat dilakukan penelitian. Dan tidak mampu menjelaskan apa yang membuat seseorang melakukan tindakan itu ketika situasinya dirubah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Saussure dan Barthes </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>            </span>Salah satu teori kontemporer tentang media adalah semiologi Roland Bathes. Barthes mengembangkan teorinya dari Saussure. Dengan kata lain tidak mungkin mempelajari Barthes tanpa mengenal Saussure terlebih dahulu. Saussure adalah seroang Linguist berkebangsaan Swedia-Perancis. Ia mengemukakan teori tentang tanda atau sign. Secara sederhana, Saussure mengatakan bahwa tanda terdiri dari dua elemen signifier dan signified. Signifier adalah imaji atau suara, sedangkan signified adalah konsep yang diwakilinya. Saussure juga mengatakan bahwa ada dua tingkat pemaknaan yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pemaknaan pertama yang menghasilkan makna yang sesungguhnya, sedangkan konotasi menghasilkan makna yang ditempelkan kemudian secara politis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>            </span>Barthes mengembangkan lebih lanjut. Bahwa ada pemaknaan tingkat ketiga. Pemaknaan ini menghasilkan mitos, atau yang dianggap oleh Barthes sebagai ideologi yang dominan. Bathes mengatakan bahwa signifier membentuk ekspresi sedangkan signified membentuk content atau isi. Setiap wilayah terdiri dari lapis <em>form</em> atau bentuk dan lapis <em>substance</em> atau substansi</span><span>. </span><span>Skema di bawah ini menunjukkan tiga tingkat pemaknaan itu. Dan nantinya akan digunakan sebagai ‘alat’ untuk membongkar mitos bahwa cantik itu putih. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="108" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Sr</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>(Expression)</span></p>
</td>
<td colspan="2" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><!--[if gte vml 1]&gt;      &lt;![endif]--><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="196" height="52"><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div class="shape">
<p class="MsoNormal"><span>Denotasi (S= R(E,C)) </span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><span>Sd</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>(Content)</span></p>
</td>
<td colspan="2" width="156">
<p class="MsoNormal"> </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="228" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>SIGN</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Sr</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>FORM </span></p>
</td>
<td colspan="2" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="196" height="52"><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div class="shape">
<p class="MsoNormal"><span>Konotasi (S= R(EC,C)) </span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><span>Sd</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>CONCEPT </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="228" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Expression </span></p>
</td>
<td colspan="2" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Content </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="126" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Form </span></p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Substance </span></p>
</td>
<td width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Form </span></p>
</td>
<td width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Substance </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="5" width="384" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>SIGN</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Myth </span><span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="108"> </td>
<td width="18"> </td>
<td width="102"> </td>
<td width="72"> </td>
<td width="84"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><span>      </span>Dimodifikasi dari Sunardi (2004)</p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Identitas dan Interpelasi </strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut Althusser (dalam Sardar 2008) ideologi adalah representasi hubungan imajiner individu dengan kondisi riil eksistensi mereka. Manusia berhubungan dengan kondisi riil eksistensi mereka melalui praktik ideologi. Ideology adalah praktik berdimensi hidup dan material. Ideologi memiliki kostum, ritual, perilaku, pola pikir tertentu. Negara menggunakan Ideological Apparatuses (ISAs) untuk mereproduksi ideology melalui praktik dan produksi: (mengorganisir) agama, system pendidikan, keluarga, politik, media, dan industri budaya. </span><em>All ideology has the function (which defines it) of &#8216;constructing&#8217;</em> <em>concrete individuals as subjects.&#8221;</em> Subjek dari praktik material ideologi. Subjektivikasi dilakukan dengan ‘pemanggilan’ atau interpelasi. Menarik perhatian, kemudian memaksa individu untuk menciptakan makna (interpretasi) dan membuat mereka berpartisipasi dalam praktik itu.<span>  </span><span>Pemanggilan atau interpelasi adalah kemampuan ideologi untuk menempatkan individu pada posisi tertentu dalam representasi-representasi realitas. Interpelasi digunakan untuk menggambarkan bagaimana kode-kode tertentu—misalnya kode sinema atau kode agama—menempatkan subjek pada posisi tertentu yang mendefinisikan subjektifitas dan pengalaman dunia mereka. Ideologi selalu berhubungan dengan relasi kuasa tertentu, artinya ideologi mendistorsi kenyataan bagi kepentingan mereka yang berkuasa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ideologi nampak natural dan universal, menyembunyikan hubungannya antara kepentingan kelompok sosial atau kekeuasaan tertentu dalam masyarakat.<span>  </span>Ideologi membingungkan karena ia menciptakan realitas yang diwakilinya. Ideologi efektif hanya jika ia dianggap sesuatu yang biasa (<em>taken for granted</em>), sebagai kebenaran yang tidak dipertanyakan lagi, dan natural. Ideologi dominan mendefinisikan realitas yang taken <em>for granted</em> mayoritas besar orang dalam suatu masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> Membongkar mitos</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>            </span>Hubungan signifier dengan signifiednya adalah arbitrer, kata Saussure. Arbitrer artinya tidak memiliki hubungan logis apapun. Itu jika di tingkat pertama pemaknaan. Ketika di tingkat kedua, hubungan itu tidak lagi arbitrer, tapi politis dan bermotif. Melekatkan makna cantik pada putih tidak begitu saja terjadi. Ada kode tertentu yang membuat signifier putih bisa ditempeli dengan signified cantik. Di tingkat ketiga, putih adalah cantik sudah menjadi mitos. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ada</span><span> tiga cara membaca mitos. Pertama sebagai pembaca mitos, Barthes<span>  </span>menyebutnya sebagai pengurai (dechiper) seperti menggunakan skema di bawah ini. Cara kedua adalah menjadi pembuat mitos dengan jalan mengembalikan signification ke makna literal, dan oleh karena itu, kita mengembalikan kekuatan simbolis darit anda tingkat pertama (Sunardi, 2004). Cara ketiga, dengan menjadi konsumen mitos.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="108" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Sr</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Putih </span></p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="196" height="52"><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div class="shape">
<p class="MsoNormal"><span>Denotasi (S= R(E,C)) </span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><span>Sd</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Putih </span></p>
</td>
<td width="156">
<p class="MsoNormal"> </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="228" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>SIGN</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Sr</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Putih </span></p>
</td>
<td width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="196" height="52"><span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div class="shape">
<p class="MsoNormal"><span>Konotasi (S= R(EC,C)) </span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span><span>Sd</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Cantik </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="384" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>SIGN</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Myth </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Putih itu cantik </span><span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bahasa mitis melakukan naturalisasi dan mendehistorisasi. Dengan kata lain mitos bersifat tidak natural dan historis. Artinya, putih itu cantik yang sudah menjadi mitos ini bersifat tidak natural, ia dikonstruksi oleh sesuatu atau seseorang di luar sana. Mitos ini juga bersifat historis. Kita bisa melacak bagaimana mitos ini bisa terbentuk. Mitos disebut sebagai signifying system yang siap dipakai dalam berbagai situasi dengan maksud dan kepentingan si pemakai (Sunardi 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sistem mitis adalah <em>signifying system</em> yang dipakai sebagai <em>sign vehicle</em> bagi ideologi. Dengan kata lain mitos putih itu cantik yang dikonstruksi oleh media merupakan kendaraan ideologi tertentu. Dalam hal ini ideologi partriakhis industri media yang mendefinisikan perempuan dari warna kulitnya, dari produk apa yang dipakainya dan dari pandangan laki-laki tentang perempuan cantik adalah yang putih. Selain itu dalam industri media ada capital uang dalam jumlah besar yang beredar. Permasalahan konstruksi mitos yang cantik adalah yang berkulit putih tidak bisa kita lepaskan dari kepentingan modal global. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk menganalisis mitos yang harus ditekankan adalah pada pemaknaan tingkat kedua atau konotasinya. Dalam menganalisis mitos Barthes ingin menekankan kode yang dipakai lewat sistem semiotik dan bukannya realitas (<em>reference</em>) yang ditunjuk oleh sistem bahasa (Sunardi, 2004). Dengan demikian kita perlu memperhatikan kode-kode yang dipakai dalam kelompok masyarakat tertentu. <em>A code is a rule or convention that associates a signifier with a certain signified or meaning</em> (Gripsrud, 2002). Aturan atau konvensi ini tidak dalam bentuk tertulis layaknya undang-undang atau peraturan hukum. Kode tercipta dari kesepatakan yang berasal dari kebiasaan dalam suatu komunitas pengguna bahasa, musik, atau gambar yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kode-kode dalam masyarakat inilah yang dimainkan oleh media untuk menginterpelasi subjektivitas audiensnya. Interpelasi oleh media, dalam hal ini adalah iklan produk pemutih, adalah dengan menempatkan subjek dalam sistem representasi yang mendefinisikan subjektivitasnya. Jadi iklan produk pemutih ini menempatkan subjek seolah-olah subjek adalah apa yang ada dalam iklan itu. Misalnya iklan Pond’s versi Bunga Citra Lestari. Iklan ini menempatkan subjek pada posisi layaknya Bunga Citra Lestari jika subjek menggunakan Pond’s. Jadi subjek merasa ialah yang direpresentasikan oleh iklan itu. Ialah yang menjadi ‘author’ dari sistem penandaan yang sedang dilihatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Subjek/audiens tidak akan menyadari terjadinya proses interpelasi. Ia menganggap semua itu sebagai suatu hal yang biasa (taken for granted). Bahwa ia memakai Pond’s itu adalah keinginannya, bukan keinginan orang atau pihak lain. Bahwa ia membeli Pond’s juga bukan keinginan orang lain tetapi keinginannya sendiri. Padalah ia telah menjadi subjek produk tersebut, bahwa subjektivitasnya sudah ditentukan oleh Pond’s, ditentukan dengan dengan membeli dan memakai Pond’s. Bahwa subjektivitasnya ditentukan oleh kulit yang nampak olehnya lebih putih setelah memakai Pond’s. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Subjek berasal dari kata sub dan jetare dalam bahasa latin, yang artinya menundukkan diri, atau ditundukkan. Menjadi subjek Pond’s berarti dituntukkan oleh Pond’s, ditundukkan oleh imaji kulit putih Bunga Citra Lestari, ditundukkan oleh pandangan Ashraf Sinclair—yang mewakili pandangan laki-laki. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span>No Whitening Campaign</span></em></strong><em><span></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>            </span>Begitu maraknya kampanye iklan produk berpemutih di media saat ini, dari yang cetak sampai digital sampai luar ruang semakin memperkuat mitos yang dikonstruksi oleh media bahwa yang cantik yang berkulit putih. Media mengkontruksi identitas audiensnya jika tidak sebagai pasar atau konsumen dari produk yang diiklankannya maka sebagai komoditas yang dijual media kepada pengiklan dalam bentuk <em>rating</em> dan <em>share</em>. Keduanya hanya memberikan keuntungan baik bagi media maupun bagi pengiklan. Semakin banyak orang membeli produk yang diiklankan artinya semakin banyak orang mengkonsumsi media, semakin tinggi juga share dan rating, maka semakin banyak uang akan mengalir ke kantong pemilik media dan produsen produk. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika dilihat dari segi keuntungan yang didapat oleh perempuan sebagai konsumen terbesar produk pemutih dan mungkin juga media maka nampaknya tidak ada keuntungan yang benar-benar bisa didapatkan oleh perempuan dengan mengkonsumsi produk berpemutih. Lagipula, jika perempuan eksistensi dan identitasnya masih ditentukan oleh media, lalu apa gunanya perjuangan kaum feminis yang memperjuangkan kesetaraan kesempatan bagi perempuan untuk beraktivitas di luar sektor domestik. Bak keluar dari mulut buaya masuk mulut singa, lepas dari ‘dominasi’ laki-laki masuk ke dalam dominasi pasar.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nampaknya seseorang harus segera melakukan sesuatu. Mengutip St Sunardi (2004), untuk melawan mitos hanya bisa dengan menciptakan mitos baru. Dalam kasus ini misalnya bahwa yang tidakpun cantik. Memang setiap budaya memiliki konsep cantik sendiri-sendiri, namun saat ini ideologi yang dominan di Indonesia adalah bahwa yang putihlah yang cantik. Petanyaannya adalah bagaimana agar konsep cantik selain putih ini bisa menjadi ideologi yang dominan? Ataukah mungkin kita biarkan saja begini? Tidak usah melakukan apa-apa, toh nanti pasar akan bosan juga dengan produk berpemutih dan ganti dengan produk lain…….</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Daftar Pustaka </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gripsrud, Jostein, <em>Understanding Media Culture</em>, Arnold, London, 2002</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Grossberg, Lawrence dkk, <em>MediaMaking, Mass Media in a Popular Culture</em>, Edisi kedua, Sage Publication, London, 2006 </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sardar, Ziauddin, <em>Membongkar Kuasa Media</em>, Cetakan Pertama, Resist Book, Yogyakarta, 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Sunardi, St. Semiotika Negativa, Cetakan kedua, Buku Baik, Yogyakarta, 2004</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Referensi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/04/01554311/mitos.superior.dan.mental.inlander">http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/04/01554311/mitos.superior.dan.mental.inlander</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://www.healthyplace.com/Communities/Personality_Disorders/narcissism/althusser.html">http://www.healthyplace.com/Communities/Personality_Disorders/narcissism/althusser.html</a> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B.html">http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B.html</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://www.aber.ac.uk/media/Modules/MC30820/represent.html">http://www.aber.ac.uk/media/Modules/MC30820/represent.html</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://www.uiowa.edu/~commstud/resources/critical_authors.html">http://www.uiowa.edu/~commstud/resources/critical_authors.html</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/">http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a name="_ftn1" href="/KULIAHKOE/TWO%20GUSS/No%20Whitening%20Campaign.doc#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span>*</span></span></span></a> Tugas Akhir Mata Kuliah Media dan Politik Representasi dan Media, Gender dan Seksualitas, Prodi Kajian Budaya dan Media, UGM</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=38&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2009/01/30/setadewa-indonesia-dalam-burung-burung-manyar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembunuhan</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2008/01/05/pembunuhan/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2008/01/05/pembunuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 06:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just Write]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/2008/01/05/pembunuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Bandung memang dingin. Hari sudah beranjak malam. Ibuku sudah berada di balik selimutnya. Masku datang entah dari mana lalu mengajak ibuku pergi ke tempat tukang pijit di dekat rumahnya. Ia juga mengajakku, katanya kita temani ibu berobat. Tanpa prasangka apapun aku mengiyakan. Kami bertiga berjalan dalam udara yang dingin. Masku mengetuk pintu berwarna biru yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=37&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bandung memang dingin. Hari sudah beranjak malam. Ibuku sudah berada di balik selimutnya. Masku datang entah dari mana lalu mengajak ibuku pergi ke tempat tukang pijit di dekat rumahnya. Ia juga mengajakku, katanya kita temani ibu berobat. Tanpa prasangka apapun aku mengiyakan.</p>
<p><span id="more-37"></span>Kami bertiga berjalan dalam udara yang dingin. Masku mengetuk pintu berwarna biru yang hanya berselang dua rumah dari rumahnya. Seorang perempuan seumuranku membukakan pintu lalu mempersilahkan kami masuk dan duduk di atas karpet. Ruang tamu itu lebarnya hanya sekitar 3 meter, berisi karpet, akarium kotak di atas meja, kulkas dan 2 jaket kulit yang digantung terpisah di dinding. Pintu ke dalam ditutup dengan tirai berwarna biru senada dengan warna karpetnya. Dinding ruang tamunya dicat berwana biru juga. Pemiliknya mungkin suka warna biru.</p>
<p><!--more-->Wanita itu duduk  sebentar menemani kami. Tak lama, seorang laki-laki berumur akhir 30-an atau awal 40-an keluar dari pintu bertirai itu. Bersarung hijau, baju takwa keabu-abuan dan berpeci. Dengan tasbih di tangan dia duduk berbincang dengan masku. Masku mewakili kami (ibuku pertamanya) mengatakan keluhannya. Kaki dan pinggang pegal, susah berdiri dan sebagainya dan sebagainya. Laki-laki itu menyuruh ibu menjulurkan kakinya, lalu memegang dan memijatnya. Dia berkata &#8220;Ini ginjalnya kotor bu, asam uratnya juga naik. Wah ibu punya maag yang sudah kronis ya?&#8221; Aku teringat akan pak Miswan, kepada siapa beberapa orang temanku pergi untuk dipijit. Dia bisa mendeteksi berbagai macam penyakit dengan pijitan tangan. Setelah memberi beberapa nasehat agar penyakit ibuku lebih ringan, tiba giliranku untuk &#8220;diperiksa.&#8221;  Dengan cara yang sama dia berkata ada radang di ususku, aku sebaiknya tidak minum es.</p>
<p><!--more-->Yang berikut ini sungguh mengejutkanku. Tiba-tiba dia seperti tersentak lalu berkata &#8220;Wah ini ada penguncinya mas.&#8221; Pengunci?  Tanyaku dalam hati. Setelah itu dengan berbisik-bisik entah mengucapkan apa, dia seperti menarik sesuatu dari kakiku lalu dibuangnya. Dua atau tiga kali.</p>
<p>&#8220;Jadi mas, dalam tubuh adek ini ada pengunci yang dikirim sama orang, supayanya dia tunduk, nurut sama orang itu. Apapun yang dikatakan orang itu akan adek turutin. Saya kasih tahu ya? tapi jangan kaget. Celana dalam adek dicuri sama orang itu.&#8221; Setelah berkata demikian dia masuk ke dalam. Dalam hati dan otakku yang ada hanya kutukan, aku mengutuk diriku sendiri yang mau diajak ke sini, mengutuk masku yang masih saja percaya dengan dukun, bahkan ibuku dibawa-bawa. Serasa ingin berlari pulang, tapi dalam hati aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.</p>
<p>Laki-laki itu keluar dengan membawa segelas air panas dan mangkok.  Dia tuangkan 2/3 air ke dalam mangkok, lalu dia pegang jari tengah tangan kiriku. Disuruhnya aku memejamkan mata dan berdoa. Karena penasaran dengan apa yang akan dilakukannya, aku tetap membuka mataku. Masih dengan berbisik-bisik dia mengucapkan entah apa. Aku yang ada di depannya pun tidak dapat mendengarnya. Yang kuingat saat itu hanya tuhan, tuhan dan tuhan. Sambil memohon ampun. Setelah selesai dia suruh aku meminum air yang tersisa di gelas. Ternyata air itu dingin, padahal beberapa menit yang lalu aku bisa melihat uap panasnya mengepul. Dengan bangga dia berkata, &#8220;Nah dingin kan? itu artinya penguncinya sudah hilang. air yang baru saja diminum itu sebagai pelindung adek dari kiriman-kiriman orang.&#8221;</p>
<p>Wew. Ternyata aku tidak menyadari bahwa tujuan utama adalah mengobati ibu tapi kok malah aku yang jadi perhatian utama&#8230;Semakin aku ingin pergi dari tempat itu.</p>
<p><!--more-->Dukun itu (aku ganti kata gantinya) bertanya siapa nama atasanku. Kutanya balik, atasan persis atau atasan paling tinggi? Dukun itu belum menjawab masku sudah menyebutkan nama atasanku persis. Lalu dengan ewes-ewes lagi dia memutar-mutar mangkok berisi air dan berkata &#8220;Adek akhir-akhir ini tidak semangat dalam bekerja, padahal dulu prestasinya baik. Nah ini juga disebabkan oleh kiriman orang tadi. Selain itu dia ingin menikmati hasil kerja adek, dia jadikan adek sapi perahannya. Nanti setelah dari sini Insya Allah adek akan semangat lagi dalam bekerja, karena kiriman orang itu sudah saya hilangkan dan adek sudah saya beri perlindungan.&#8221;</p>
<p>What? Dari mana dia dapet ide seperti itu? Dan belum berhenti sampai di situ.</p>
<p>Kembali memutar mangkuk berisi air itu dia bilang ke ibu &#8220;Adek ini bu, dia tiga sinar.&#8221; Dengan rasa ingin tahu ibuku bertanya &#8220;Tiga sinar itu apa?&#8221; &#8220;Artinya bu, adek ini kalo dapat suami yang benar wah bisa sukses segalanya, tapi kalo jatuh ke tangan yang salah, bisa hancur segalanya.&#8221; Ibuku sepertinya mempercayainya, tapi entahlah. Dia berikan nasihat-nasihat kepada ibu dan kami dengan sesekali mengutip ayat ini itu dan hadist ini itu.</p>
<p><!--more-->Sambil melakukan apa yang disebutnya &#8220;ritual&#8221; terhadapku, dia bercerita tentang dirinya. Masku dengan bangganya mengatakan padaku bahwa dukun itu dulu sepondok sama Aa Gym. So What??? Lagipula emang Aa Gym pernah mondok? hueheh. Lalu dukun itu bilang pernah pernah di Gontor dua tahun. &#8220;Saya dari ponorogo ke banten jalan kaki bu!&#8221; (Kurasa tanda seru pas untuk kalimat ini) Sudah mau keluar dari mulutku pertanyaan angkatan berapa? kenal dengan si ini atau si itu ga? Tapi kuurungkan niatku, aku yakin itu hanya akan memperparah situasi saja. Dia juga bercerita siapa saja &#8220;tamunya&#8221; ada dari Aceh, Palembang (kenapa sih kota ini disebut?), Semarang dan sebagainya dan sebagainya. Artis juga banyak yang datang, untuk ini untuk itu. Tak kuperhatikan lagi.</p>
<p>Aku memilih memperhatikan ikan-ikan dalam akuarium yang sedang bertelur. Tanpa peduli dengan topik percakapan saat itu aku bilang &#8220;Ikannya lagi bertelur.&#8221; Dan mereka pun mengubah topik pembicaraan. Entah berapa lama kemudian, masku berpamitan sambil menyerahkan uang 250 ribu rupiah. &#8220;Ini 150 untuk yang kemaren dan yang ini untuk hari ini.&#8221; Wajah dukun itu tentu saja sangat sumringah.  Dan aku merasa teramat lega karena semua ini sudah berakhir. Sebelum kami pulang dia berkata besok jamunya bisa diambil.</p>
<p><!--more-->Pulang ke rumah masku, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya marah dan takut. Aku yakin, mereka berdua saat itu sedang mencari kira-kira siapa yang bisa menjadi tertuduh, siapa yagn telah mencuri cd-ku lalu mengguna-guaninya. Dan aku tahu siapa yang mereka jadikan sebagai tertuduh.</p>
<p>Setelah shalat isya, kurebahkan diriku di kasur dan kuberbisik <font color="#ff00ff"><b>&#8220;Oh Tuhan malam ini aku baru saja membunuhMu.&#8221;</b></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumputliar.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumputliar.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=37&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2008/01/05/pembunuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ya Basta!!! (Cukup!!)</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/26/ya-basta-cukup/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/26/ya-basta-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just Write]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/26/ya-basta-cukup/</guid>
		<description><![CDATA[Setahun sudah usia pemberontakan ini. Setahun sudah sejak kukatakan &#8220;Cukup!&#8221; (Meniru Subcomandante Marcos mengucapkan &#8220;Ya Basta!&#8221;). Cukup untuk penindasan ini, cukup untuk keterkungkungan ini. Terlalu ekstrim mungkin untuk mengidentifikasikan diriku dengan Marcos dan keluargaku dengan pemerintah Mexico. Tapi somehow itulah yang kurasakan. Di luar dari semua yang telah mereka lakukan untukku, ternyata di dalamnya ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=35&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setahun sudah usia pemberontakan ini. Setahun sudah sejak kukatakan &#8220;Cukup!&#8221; (Meniru Subcomandante Marcos mengucapkan &#8220;Ya Basta!&#8221;). Cukup untuk penindasan ini, cukup untuk keterkungkungan ini.</p>
<p>Terlalu ekstrim mungkin untuk mengidentifikasikan diriku dengan Marcos dan keluargaku dengan pemerintah Mexico. Tapi somehow itulah yang kurasakan. Di luar dari semua yang telah mereka lakukan untukku, ternyata di dalamnya ada sebentuk penindasan. Jiwa pemberontakku sebenarnya sudah ada entah sejak kapan, tapi baru setahun belakangan ini terlihat jelas.</p>
<p>Sejak bapak meninggal, aku dibesarkan oleh ibu dan saudaraku. Kepadaku selalu ditekankan bahwa mereka telah mengorbankan banyak hal untukku karena aku tak punya bapak lagi. Merekalah yang membiayai sekolah dan hidupku. Somehow menegaskan bahwa aku berhutang budi bahkan hidup pada mereka. Aku tidak boleh berbuat apapun yang tidak dibenarkan oleh mereka, yang tidak sesuai dengan mereka.</p>
<p>Aku harus selalu berbuat benar. Setiap kesalahan sekecil apapun yang akan membuat mereka tidak suka, selalu menjadi siksaan berat bagiku. Perbedaan pendapat dengan mereka harus dihindari, aku harus selalu bersifat kompromistis dan afirmatif terhadap apapun yang mereka katakan.</p>
<p>Tidak boleh ada kesalahan. Sejak SD-SMP hanya rangking satu yang diterima di keluargaku. Suatu saat ketika di SMA ada nilai merah di raporku, dan itu bagaikan bencana besar bagi mereka. Aku harus mencontoh si ini dan si itu karena dia begini dan begitu. Itulah pertama kali aku memperlihatkan jiwa pemberontakku, dengan takut kukatakan &#8220;aku adalah aku, aku bukan dia. kalo dia begini begitu ya dia. aku begini.&#8221; Sejak saat  itu aku diberi cap kekanak-kanakan dan egois.</p>
<p>Banyak sekali hal yang tidak bisa kuingat ketika aku masih di SMA. Saat itulah aku mulai mendapatkan kuliah-kuliah panjang dari kakakku. Aku baru ingat setelah aku kembali tinggal serumah dengannya, yang artinya kuliah-kuliah itupun kembali kudapat. Sebelumnya aku tidak mau ingat. Kusimpan dalam sebuah lemari yang kuncinya kubuang. Dia menyebutnya nasihat. Tapi aku menyebutnya penindasan. (Menulis ini membuatku tidak bisa bernafas, seolah aku masih mengalaminya.) Tidak satupun dari kuliahnya yang kusimpan dalam ingatanku. Kubiarkan mereka lewat begitu saja. Karena memang aku tidak pernah ingin mengingat kembali.</p>
<p>Biasanya malam hari. Ketika semua orang tidur, aku akan dipanggilnya menghadap, kadang di ruang tamu, kadang dia ke kamarku, kadang di mana saja semau dia. Setiap namaku dipanggil, ketakutan datang menyergap. Disuruhnya aku duduk di kursi, biasanya berhadapan dengannya. Dan dimulailah siksaan itu. Tubuhku seperti diikat ke kursi, mulutku dibungkam dan kepalaku tertunduk menatap bumi. Kadang-kadang air mata menetes, tapi lama-lama aku belajar untuk tidak menyianyiakan air mataku. Diikuti gerakan tangan bak seorang orator, dengan gaya seorang polisi yang menginterogasi tersangka, selama berjam-jam dia akan terus berbicara tentang banyak hal. &#8220;Kamu seharusnya begini, begitu, kamu tidak seharusnya begini begitu. Kamu salah, kamu tidak pernah dewasa, kamu, kamu dan kamu&#8230;.&#8221; Selama kuliah berlangsung tidak boleh ada interupsi, sanggahan atau pertanyaan. Aku harus diam seribu bahasa, menundukkan kepala dan (berpura-pura) mendengarkan. Jika mulutku sampai mengelurakan satu katapun dia cepat-cepat memotong &#8220;Tunggu, sekarang aku yang bicara, kamu yang mendengar. Kalau mau ngomong nanti saja.&#8221; Setelah merasa puas (mungkin) dia akan berkata &#8220;ok, sekarang giliranmu bicara.&#8221;</p>
<p>Aku lebih memilih untuk menutup mulutku rapat-rapat. Sekali pernah kucoba berbicara, mengatakan apa yang ingin kukatakan. Yang terjadi justru siksaan yang lebih berat bagiku. Lebih banyak label akan keluar dan lebih banyak kesalahan akan ditunjukkan olehnya. Tak ada seorangpun yang pernah membelaku. Ketika dia bilang salah, maka semua orang akan bilang salah. Di matanya semua perbuatanku salah. Apapun yang kulakukan tidak akan pernah benar di matanya apalagi membuatnya bangga.</p>
<p>Mungkin tidak adil kalau aku menyalahkan semua orang dalam keluargaku, tapi mereka tidak berbuat apa-apa melihat semua ini. Mereka semua diam saja bahkan cenderung membenarkan dan mendukung. Tidak ada yang berani menghadapinya. Ke-jawa-anku selama ini membuatku diam saja dan menurut. Tidak pantas bagiku untuk melawan orang yang lebih tua, terlebih lagi orang yang sudah sangat berjasa bagi hidupku.</p>
<p>Tiga tahun yang lalu aku &#8220;dipaksa&#8221; untuk tinggal serumah dengannya. Dan seperti kukatakan di atas, semua itu datang menerpaku lagi. Kuliah adalah masa yang paling menyenangkan bagiku. Aku bisa jadi apapun yang kuinginkan, dan yang pasti jauh dari &#8220;kuliah-kuliah&#8221; masku. Setahun tinggal di sana kuputuskan untuk pergi. Aku depresi&#8230;</p>
<p>Kukumpulkan semangat yang tersisa, dan kusembuhkan diri dari depresi pelan-pelan. Satu setengah tahun yang lalu aku kenal Marcos, dan beberapa orang lain yang  sangat membantu dalam kesembuhanku. Sejak setahun yang lalu, kuputuskan untuk benar-benar memberontak. Dan kukatakan cukup terhadap penindasan ini.</p>
<p>Yang kualami adalah kekerasan simbolik. Bagaimana masku yang lebih tua, merasa lebih tahu dan lebih berpengalaman, dalam bahasa Bourdieu memiliki <i>cultural capital</i> melakukan kekerasan terhadapku. Selain <i>cultural capital, </i>dia juga memiliki <i>economic capital.</i> Kepemilikan kedua kapital itulah yang memungkinkannya melakukan hal itu. (Di ruang kuliah, ketika Romo Moko memberikan penjelasan tentang Bourdieu, yang terbayang adalah saat-saat masku memberikan &#8220;kuliahnya.&#8221;)</p>
<p>Kata Bourdieu, <i>habitus + capital = practice. </i>Dalam kasusku, <i>capital</i>-nya jelas, <i>cultural dan economic capital</i>. Masku lebih tua, secara kultural dan mungkin religius dia mendapatkan banyak hak dari kelahirannya yang lebih dulu dariku, inilah <i>cultural capitalnya. </i>Secara ekonomi dia lebih mapan, dia memberiku tempat tinggal, membiayai sekolahku dan dia memiliki lebih banyak uang dariku, ini <i>economic capitalnya</i>.</p>
<p>Habitus muncul salah satunya dari kebiasaan yang turun-temurun dalam sebuah kultur atau bisa jadi keluarga. Masku yang hobi memberiku &#8220;kuliah&#8221; adalah sebuah habitus. Kalau dilihat hal itu sudah terjadi sejak belasan tahun yang lalu dan masih berlangsung. Sumbernya dari mana, aku sendiri tidak tahu. Perpaduan habitus dan capital itulah yang membuat satu praktik sosial terjadi. Dalam kasusku sebuah kekerasan (simbolik).</p>
<p>Aku bisa dibilang bersyukur bisa pergi. Jangan sampai perkataan Bourdieu terbukti bahwa kekerasan simbolik adalah pintu gerbang bagi kekerasan fisik, naudzubillah&#8230;..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumputliar.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumputliar.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=35&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/26/ya-basta-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Tuhan</title>
		<link>http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/19/mencari-tuhan/</link>
		<comments>http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/19/mencari-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 03:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumputliar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Cultural and Media Studies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/19/mencari-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[  Sebelumnya aku tidak pernah mencoba bertanya pada diriku sendiri apalagi kepada orang lain, &#8220;Seperti apakah Tuhan itu?&#8221; &#8220;Lalu bagiamana kita bisa &#8220;berhubungan&#8221; denganNya? Entah sejak kapan sebagian besar dari kita hanya dikenalkan lalu didoktrin dengan ajaran agama tertentu. Tuhan tidak lebih hanya menjadi tempat kita mengadu ketika ada kesusahan dan kesedihan, tempat menimpakan kesalahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=33&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Verdana;">Sebelumnya aku tidak pernah mencoba bertanya pada diriku sendiri apalagi kepada orang lain, &#8220;Seperti apakah Tuhan itu?&#8221; &#8220;Lalu bagiamana kita bisa &#8220;berhubungan&#8221; denganNya? Entah sejak kapan sebagian besar dari kita hanya dikenalkan lalu didoktrin dengan ajaran agama tertentu. Tuhan tidak lebih hanya menjadi tempat kita mengadu ketika ada kesusahan dan kesedihan, tempat menimpakan kesalahan ketika terjadi musibah, tempat meminta sesuatu (untuk diri kita sendiri) dan lain-lain dan lain-lain. Kita dibuat dengan sedemikian rupa mereduksi Tuhan menjadi hal-hal itu. Padahal Tuhan sangat lebih dari semua itu. Itulah mengapa dalam bahasa Indonesia digunakan kata Maha untuk &#8220;melukiskan&#8221; Tuhan, karena besarnya Tuhan tidak seperti besarnya gunung, tidak seperti besarnya langit, tapi besar yang tidak dapat kita tangkap dengan indra dan logika kita, manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Karena Tuhan tidak dapat ditangkap oleh indra dan logika manusia maka, manusia seringkali membuat dan menciptakan Tuhan sendiri atau setidaknya sesuatu yang lebih bisa tertangkap oleh indra dan logika manusia yang dapat mereka jadikan pegangan dalam menghadapi kehidupan mereka. Manusia ingin sesuatu yang &#8220;pasti,&#8221; karena manusia cenderung malas untuk susah-susah berfikir dan mencari. Kepastian buatan manusia (indra dan logika manusia) itu yang digunakan oleh manusia sebagai pegangan dalam hidup mereka, yang disebut Nietzsche &#8220;membunuh Tuhan.&#8221; Tuhan dibunuh oleh manusia dengan cara menciptakan &#8220;hal-hal&#8221; lain yang difungsikan sebagai Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-66" title="the_alchemist2" src="http://rumputliar.files.wordpress.com/2007/12/the_alchemist2.jpg?w=198&#038;h=300" alt="the_alchemist2" width="198" height="300" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ternyata Tuhan (yang mungkin bisa disamakan dengan Yang Imaginer dalam psikologi Lacanian) memang tidak akan pernah dapat kita tangkap dengan baik, terutama ketika manusia masih berada di alam simbolik yang hampir bisa dipastikan menggunakan simbol-simbol untuk mereduksi dan menggambarkan Tuhan. Tapi bukan berarti manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap orang bisa mencari, mencari dan mencari. Karena dalam pencarian itu sesekali makna Tuhan akan tertangkap. Karena sesekali seseorang yang melakukan pencarian akan memercik keluar dari rantai penandaan simbolik dan tidak tersubjekkan olehnya. Di bahwa ini adalah cerita tentang seseorang bernama Santiago yang mengikuti &#8216;takdirnya&#8221; untuk mencari harta karun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Santiago adalah tokoh dalam novel karya Paulo Coelho yang berjudul <em>The Alchemist</em>. Setelah kucoba menganalisis (secara strukutural) ternayata kutemukan bahwa yang dicari Santiago sebenarnya bukanlah harta karun berupa harta benda, tapi adalah Tuhan yang tidak dia temukan di seminari. Sayang analisis ini masih terlalu kasar untuk bisa dijadikan sebuah tulisan yang utuh, karena (apologi) ini adalah tugas akhir untuk mata kuliah epistemologi ilmu sosial. Mungkin nanti bisa kuperbaiki dan bisa kujadikan satu tulisan utuh tanpa bagan tanpa tabel agar lebih enak dibaca. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">ANALISIS SEMANTIK</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">OPOSISI BINER </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mimpi<span> </span>&gt;&lt; <span> </span>kenyataan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Keyakinan <span> </span>&gt;&lt; <span> </span>keraguan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kegigihan/persistence <span> </span>&gt;&lt; <span> </span>menyerah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Keberanian<span> </span>&gt;&lt; <span> </span>ketakutan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pengembara<span> </span>&gt;&lt;<span> </span>penetap</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penyihir<span> </span>&gt;&lt; <span> </span>orang biasa</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Manusia <span> </span>&gt;&lt; <span> </span>binatang</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Laki-laki <span> </span>&gt;&lt; <span> </span>perempuan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">pencipta<span> </span>&gt;&lt; <span> </span>makhluk</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mencari<span> </span>&gt;&lt; <span> </span>menemukan</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Oposisi yang muncul dalam novel ini berupa kategori sifat dan bukan kategori umur atau profesi. Tidak ada kategori baik-buruk yang muncul dalam novel ini. Sepanjang cerita diwarnai oleh mimpi, keyakinan, kegigihan dan tekad dari Santiago untuk mewujudkan mimpinya dan mengikuti legenda pribadinya atau dengan kata lain takdirnya. Berikut analisisnya satu persatu :</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong></strong></p>
<p><span id="more-33"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>a.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mimpi &gt;&lt; kenyataan</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mimpi dalam novel ini adalah mimpi yang dialami oleh orang yang sedang tidur, walaupun menurut saya yang dimaksud tidak sekedar mimpi itu. Setiap orang memiliki mimpi yang suatu ingin diwujudkannya. Hanya orang itu memiliki kemauan atau tidak. Mimpi seringkali tingal mimpi layaknya mimpi sekedar menjadi bunga tidur. Tapi bagi sebagian orang, mimpi harus diwujudkan. Kenyataan sering menyita seluruh perhatian dan tenaga yang membuat seseorang melepaskan mimpinya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Freud bilang mimpi adalah <em>via reggia</em> atau jalan pintas menuju <em>unconscious</em> seseorang. Di mana tersimpan hal-hal yang terepresi sekian lama dan hanya bisa muncul lewat mimpi. Santiago memutuskan keluar dari seminari karena dia merasa tidak dapat menemukan Tuhan di sana. Harta Karun dalam mimpinya adalah ”Tuhan” yang dia cari dan akan dia temukan nantinya. Tuhan yang ia temukan kemudian tidak pula semata-mata Tuhan seperti apa yang pernah bisa dibayangkan dengan bentuk ini atau itu, tapi dalam setiap pencarian itulah ada perjumpaan dengan Tuhan. Seandainya Santiago tidak menuruti mimpinya atau dengan kata lain puas dengan kenyataan saat itu saja, maka dia tidak akan mengalami ”perjumpaan dengan Tuhan.” <span> </span>Harta karun dalam mimpi Santiago tidak sekedar harta benda yang di kemudian hari ia temukan. Lebih dari itu, Santiago menemukan banyak harta yang lain, Fatima salah satunya, pelajaran-pelajaran berharga yang ia pelajari selama perjalanan mencari harta karun dan yang ia pelajari dari sang Alkemis. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Anak kecil dalam mimpi Santiago yang bermain dengan domba-dombanya lalu memberitahunya tentang harta karun dan membawanya ke Piramida-piramida bisa jadi mewakili takdir yang membuatnya mencari harta karun dan yang ia ikuti. </span></p>
<p><!--more--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>b.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">keyakinan &gt;&lt; keraguan</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Keyakinan pada diri sendiri dan terutama Tuhan menjadi ”satu-satu”-nya jalan untuk mewujudkan segala yang diinginkan manusia termasuk mewujudkan mimpi. Yakin tidak sekedar keyakinan buta tanpa landasan pengetahuan yang mencukupi. Keyakinan terhadap sesuatu tidak jarang membuat seseorang jatuh ke dalam masalah. Keyakinan Santiago akan mimpinya membuatnya harus menyeberangi Gurun Sahara, bersusah payah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, ditawan, dan dirampok sampai 3 kali. Padahal harta karun itu sendiri berada di depan matanya sendiri. Keraguan ternyata memiliki peran yang sangat besar dalam keyakinan seseorang. Setiap keraguan yang muncul hanya akan membuat keyakinan itu semakin besar dan semakin kuat. Seseorang yang tidak pernah meragukan apapun tidak akan pernah meyakini apapun. Dengan merasa ragu maka seseorang akan mencari ”jawaban” dari keraguan itu, dengan demikian pencarian akan terus berlanjut. Di sinilah terlihat bahwa tanpa keraguan, keyakinan tidak akan berarti apa-apa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong></strong></p>
<p><!--more--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>c.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kegigihan &gt;&lt; menyerah</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ibarat pepatah ”Tak ada hasil tanpa usaha,”<span> </span>atau kata Kahlil Gibran ”Hidup adalah perjuangan,” maka kegigihan adalah usaha yang terus menerus tak kenal lelah dalam menghadapi hidup. Menyerah berarti ditundukkan. Ditundukkan berarti tanpa kebebasan. Menyerah berarti ”mati.” Kegigihan diwakili oleh usaha Santiago yang tak ada hentinya, sementara menyerah diperlihatkan oleh para <em>Settler</em> yang menyerah pada keadaan dan kemudain melepaskan impian mereka.<span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong></strong></p>
<p><!--more--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>d.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Keberanian &gt;&lt; ketakutan</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berani bukan berarti tidak takut pada apapun, tetapi berani melakukan sesuatu walupun merasa takut. Kutipan itu sering terdengar tapi lupa siapa yang mengatakannya. ketakutan bukan berarti sah tidak melakukan apa-apa. Tidak ada keberanian tanpa rasa takut. Seperti kata Saussure, ada pintu karena ada yang bukan pintu, misal kursi, jendela, tembok dll. Maka ada berani karena ada ketakutan. Inilah yang dilakukan Santiago. Pengalamannya yang sedikit (disebut pemula oleh Melkisedek) dan bekal yang sedikit (uang, pengetahuan tentang Mesir dan Afrika) tidak membuatnya takut untuk melangkah. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong></strong></p>
<p><!--more--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>e.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pengembara &gt;&lt; penetap/settler</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Seorang penetap/<em>settler</em> adalah orang yang tunduk pada struktur dan tidak berani keluar. Struktur itu menjajah dan membelenggu. Contoh dalam novel itu adalah ayah Santiago, Tukang Roti dan Pemilik Toko Kristal. Mereka adalah para <em>settler</em>. Seperti kata Melkisedek ”Pada akhirnya, pendapat orang tentang penggembala dan tukang roti jadi lebih penting bagi mereka daripada takdir mereka sendiri.”<span> </span>Para <em>settler</em> ini disubjekkan oleh pendapat orang, oleh wacana yang mengatakan bahwa pengembara adalah orang yang begini begitu, contohnya tidur di alam terbuka artinya tidak memiliki rumah, tiiak memiliki penghasilan yang tetap, dengan bahasa sekarang ”tidak memiliki masa depan.”<span> </span><em>Settler</em> pasti mengikuti gaya hidup tertentu, seorang yang menetap di Andalusia akan bergaya hidup seperti kebanyakan orang Andalusia. Setiap <em>settler</em> sesungguhnya pernah memiliki keinginan untuk menjadi pengembara tetapi mereka memilih untuk tidak melakukannya karena ketiadaan keberanian untuk memercik dan meloncat keluar dari rantai penandaan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pengembara adalah subjek yang tidak mau ditundukkan oleh struktur. Dia tidak mengikuti satu ”budaya” tertentu. Di halamn 23 : </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Itulah daya tarik berkelana baginya—dia selalu mendaptkan teman-teman baru, dan dia tidak perlu bersama-sama mereka sepanjang waktu. Kalau kita bergaul dengan orang-orang yagn sama setiap hari, seperti yang dialaminya di seminari, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yagn dikehendaki orang-orang lain, maka orang-orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagiamana seharusnya menjadlai hidup sendiri. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dengan kata lain, pengembara cukup bebas untuk menentukan banyak hal bagi dirinya sendiri tanpa terbebani oleh identitas tertentu. Pengembara memilih sesuatu yang tidak pasti, sedangkan <em>settler</em> lebih memilih jalan aman karena takut akan ketidakpastian. Para <em>settler</em> ”membunuh Tuhan” dengan hanya memegang hal-hal yang pasti saja, sedangkan pengembara adalah mereka yang membiarkan Tuhan hidup tanpa ’mereduksinya” menjadi sesuatu yang pasti yang bisa mereka gantungi setiap saat. <span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Settler</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> artinya tidak mampu memilih takdirnya sendiri sedangkan pengembara adalah kebalikannya. <em>Settler</em> mempercayai sebuah dusta besar : bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yagn terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Menyalahkan nasib atas apa yang terjadi padanya, menyalahkan Tuhan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><!--more--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>f.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penyihir &gt;&lt; Ilmuwan</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penyihir mewakili kekuatan di luar kekuasaan manusia tapi di bawah kekuasaan Tuhan yang seringkali atau bahkan selalu tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Sementara ilmuwan adalah orang yang melakukan segala sesuatu berdasarkan rasionya berdasarkan ilmu pengetahuan. Dalam novel ini adalah sang Alkemis sendiri. Dia bisa melakukan banyak hal dan mengetahui lebih banyak dari siapapun. Salah satunya merubah apapun menjadi emas. Berlawanan dengan alkemis yang hanya tinggal di dalam laboratorium dan melakukan banyak percobaan (yang disebut ilmuwan). Sang Alkemis mempelajarinya dari tindakan, dari pengalamannya selama bertahun-tahun. Ilmuwan tidak selalu menjanjikan kebenaran. Faktor-faktor tak terduga bisa saja terjadi sepanjang perjalanan hidup yang tidak dapat diramalkan oleh ilmu pengetahuan (tapi bisa diramalkan oleh penyihir).<span> </span>Sesekali kita juga bisa mempercayai perkataan penyihir walau kebenarannya tidak dapat dibuktikan dengan akal sehat dan tidak berdasarkan logika, serta tidak didapatkan dari langkah-langkah ilmiah. Bisa jadi itu ”suara Tuhan” yang disampaikan lewat mulut penyihir, siapa tahu?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Baik penyihir maupun Ilmuwan memiliki dua hal yang sama, yang disebut <em>cultural capital</em> oleh Bourdieu. Penyihir dengan kekuatannya sementara Ilmuwan dengan ilmunya. Penyihir dalam hal ini Sang Alkemis ”menguasai” Santiago dan membuatnya percaya kepadanya dengan cara menunjukkan kemampuannya melihat masa depan, menyihir dan pengetahuannya tentang banyak hal. Begitu pula si pemuda Inggris yagn telah menghabiskan waktu sepuluh tahun di universitas<span> </span>dengan buku yang selalu dibawa kemanapun dia pergi. Penyihir dan Ilmuwan bertarung memperebutkan Santiago.</span><strong></strong></p>
<p><!--more--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>g.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Manusia &gt;&lt; binatang</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Orang tua berkata bahwa manusia berbeda dengan binatang karena manusia dilengkapi dengan akal-fikiran pada waktu penciptaannya sedangkan binatang tidak. Dalam novel ini diwakili oleh Santiago dan domba-dombanya. Santiago (manusia) adalah gembala bagi domba-dombanya. Dialah yang mengambil keputusan kapan akan kemana, sedangkan domba-dombanya hanya mengikuti saja. ”Domba-domba itu tidak menyadari bahwa setiap hari mereka menempuh jalan baru. Mereka tidak melihat bahwa padang-padangnya barud an musim datang silih bergandi. Mereka hanya peduli tentang makanan dan air.” (hal 17) </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jika manusia hanya mempedulikan makanan dan air, artinya hanya mencari makan saja yang mereka kerjakan, lalu apa bedanya manusia dengan binatang? Tidak ada hal lain yang mereka kerjakan kecuali ”mencari makan”<span> </span>yang di jaman ini dikatakan bekerja, yang (lagi) ternyata tidak lagi sekedar mencari makan tetapi menumpuk kekayaan. Entah berapa banyak manusia yang tidak melakukan sesuatupun bahkan sekedar untuk dirinya sendiri, seperti mewujudkan mimpi masa kecilnya, apalagi untuk orang lain, apalagi untuk kemanusiaan. ”Mereka hanya peduli tentang makana dan air (dan sesekali bercinta_pen).” </span></p>
<p><!--more--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>h.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Laki-laki &gt;&lt; perempuan</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Laki-laki sangat dominan dalam cerita ini. Santiago si pengembara, Melkisedek si Raja Salem, Sang Alkemis, si Tukang Roti, Pemuda Penipu, Pemilik Toko Kristal, pemuda Inggris yang ingin menjadi Alkemis, Kepala suku, pengungsi, semuanya laki-laki. Hanya ada 3 perempuan di sana, Perempuan tua peramal, putri saudagar dan Fatima. Latar tempat yang berada di Mesir yang berjiwa islam mungkin bisa menjadi alasan karena konon katanya islam identik dengan budaya patriarkal, walau saya sendiri tidak sepakat. Tapi novel ini memang menonjolkan maskulinitas. Pengembara adalah seorang lelaki, karena dibutuhkan ketegaran, kegigihan, keyakinan (yang tak goyah), rasionalitas, yang entah oleh siapa hampir tidak pernah dilekatkan pada perempuan. Selain itu ”keterbatasan” perempuan membuatnya menjadi penetap bukan pengembara. Datang bulan pasti menjadi masalah dalam sebuah perjalanan panjang. Fisik yang konon tidak sekuat laki-laki akan menjadi penghalang baginya untuk mencapai tujuan. Perempuan adalah settler, dengan sabar menunggu kedatangan lelaki pengembara untuk datang padanya dengan membawa segala sesuatu yang mereka butuhkan nantinya. Perempuan adalah pasif, tidak kreatif dan aktif melakukan banyak hal. Sementara yang memiliki dan mengejar mimpi adalah laki-laki. Mungkin kebetulan saja Santiago berjenis kelamin laki-laki, tapi ayahnya, si tukang roti dan pemilik toko kristal yang pernah memiliki mimpi tapi tak diwujudkan juga seorang laki-laki. Tak seorang perempuanpun digambarkan memiliki mimpi. Kecuali Fatima yang memimpikan Santiago yang kan datang padanya suatu hari. Pekerjaan yang cocok bagi perempuan salah satunya menjadi peramal, yang tinggal di rumah menunggu pelanggan datang menghampiri dan memberinya uang. Setelah tua perempuan hanya mengandalkan pemberian dari anak-anaknya. Seperti yang terjadi pada perempuan tua peramal. Perempuan hanya menunggu&#8230;</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong></strong></p>
<p><!--more--><!--more--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>i.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pencipta &gt;&lt; Makhluk</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pencipta memiliki kekuasaan yang tak terbatas terhadap makhluknya. Dalam hal ini adalah Tuhan. Tuhan ibarat sutradara sebuah sandirwara, sedangkan makhluknya, dalam hal ini adalah manusia, adalah pemain sandiwara itu. Dengan atau tanpa keikutsertaan seorang manusia di dalamnya, sandiwara akan tetap terus berlangsung karena sang sutradara belum menghentikannya. Tapi sutradara memberikan kesempatan kepada seorang manusia untuk menyumbangkan sebaris dialog, atau sebait puisi yang akan mewarnai sandiwara itu. Mungkin itu analogi yang cukup dekat untuk menggambarkan pencipta (Tuhan) dengan makhluk-Nya (manusia). Itu pula yang dilakukan oleh Santiago, menyumbangkan sebaris dialog di panggung sandiwara dengan mengembara dan mencari harta karunnya sendiri. Sang Pencipta bukan berarti tidak ternjangkau oleh makhluk-Nya. Dengan pencarian tiada henti, usaha-usaha mengenali pertanda-pertanda-Nya akan membuat seseorang mampu menjangkaunya. </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><strong></strong></p>
<p><!--more--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>j.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mencari &gt;&lt; menemukan</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pepatah (lagi) bilang yang mencari, yang menemukan. Walau setiap pencarian belum tentu menghasilkan penemuan tetapi setiap pencarian akan memberikan satu kesempatan untuk menemukan sesuatu atau bahkan lebih dari yang kita harapkan sebelumnya. Tetapi orang yang berhenti mencari tidak akan pernah menemukan apa-apa. Mencari adalah hal yang terpenting dalam hidup. Mengutip Subcomandante Marcos, ”Orang yang tidak punya gairah untuk mencari, bercinta, berjuang,..tidak beda dengan mayat hidup.” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kalau Katolik dapat dioposisikan dengan Islam (sebagaimana banyak dilakukan orang) maka oposisi Katolik &gt;&lt; Islam ”seharusnya” muncul dalam novel ini. Karena Santiago adalah seorang Katolik kemudian pergi ke Mesir yang merupakan sebuah negara Islam, dan kemungkinan besar penduduknya beragama Islam. Tapi oposisi itu ternyata tidak muncul. Ternyata Katolik atau Islam tidak penting ketika berhubungan dengan pencarian Tuhan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Novel ini menunjukkan bahwa Tuhan ada di mana-mana, artinya Tuhan tidak hanya di gereja, masjid, seminari, pesantren atau biarawan. Bahkan tidak jarang Tuha tidak ditemukan di tempat-tempat itu, tapi justru di tempat-tempat yang sering kita anggap sederhana, kandang berbahaya atau ganas seperti gurun pasir, lautan luas. Dalam kehidupan sehari-hari yang sering dianggap tak berarti apa-apa dan tidak berpengaruh, tidak jarang di situlah kita bisa ”menemukan” Tuhan, dan berjumpa dengan-Nya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Catatan : aku belum belajar Nietzsche, tapi gara-gara kakak sering cerita tentang Nietzsche lama-lama aku sedikit paham. Selain itu membaca tulisan-tulisan Gunawan Mohammad (terutama Caping) yang sangat Nietzsche-an itu dengan sendirinya memperkaya perbendaharaan, setidaknya kata kalau belum pengetahuan.  </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumputliar.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumputliar.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumputliar.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumputliar.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumputliar.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumputliar.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumputliar.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumputliar.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumputliar.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumputliar.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumputliar.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumputliar.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumputliar.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumputliar.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumputliar.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumputliar.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumputliar.wordpress.com&amp;blog=709697&amp;post=33&amp;subd=rumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumputliar.wordpress.com/2007/12/19/mencari-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fcdc97e8d7fdc8c34bfea406cd786d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rumputliar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumputliar.files.wordpress.com/2007/12/the_alchemist2.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">the_alchemist2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
