Setadewa, Indonesia dalam Burung-Burung Manyar

 

Ayah menamaiku.  Ibu memimpikanku. Dan aku memimpikan sebuah nama yang bukan namaku

(Nukila Amal, Cala Ibi)

Pendahuluan

            Membaca Burung-Burung Manyar (selanjutnya BBM) karya Romo Mangun tidak bisa dilepaskan dengan sejarah revolusi Indonesia. Tiga bagian roman ini dibuat berdasarkan tahun, padahal roman ini bukanlah sebuah kronik. Tahun-tahun untuk masing-masing bagian baru akan bermakna bila dihubungkan dengan revolusi Indonesia.  Bagian I, antara tahun 1934-1944 berhubungan dengan akhir kekuasaan Belanda di Nusantara yang ditandai oleh pendudukan Jepang pada tahun 1942. Bagian II, antara tahun 1945-1950 adalah masa kemerdekaan. Kelahiran negara bangsa yang diberi nama Indonesia. Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Bagian III antara tahun 1968-1978 sudah masuk Orde Baru. Ada loncatan antara Bagian II dengan Bagian III, yaitu hilangnya periode antara tahun 1951-1967, yang merupakan akhir Orde Lama, dan munculnya Orde Baru. Periode ini nampaknya sengaja dihilangkan untuk menghindar dari pembicaraan tentang kejatuhan Orde Lama yang ditandai dengan peristwa berdarah Oktober 1965. Entah mengapa Romo Mangun menghindar dari membicarakan hal tersebut. Romo Mangun ”mengungsikan’ tokoh utamanya ke luar negeri selama periode itu, dan kembali lagi setelah Orde Baru. Strategi literer yang menarik.

            BBM juga merupakan cara pandang yang berbeda terhadap hal-hal yang berhubungan dengan revolusi; Belanda, Jepang, Indonesia dan bahkan Nasionalisme. BBM menempatkan tokoh utamanya pada posisi yang pro-Belanda, hal yang ”tidak wajar” di tengah masa revolusi. Ketidakwajaran inilah yang akan dikaji oleh tulisan ini dengan cara melihat kondisi-kondisi apa yang memunculkannya. Kalaulah Seto adalah representasi dari Indonesia, maka dengan cara menelusuri psychonalitic situation  Seto kita akan mendapatkan possibility of subject position Indonesia sejak kelahirannya sampai masa jaya Orde Baru.

            Berikut penelusuran kondisi-kondisi yang signifikan yang terdapat dalam roman Burung-Burung Manyar. Disajikan bagian per bagian.

 Bagian I (1934-1944)  

Adalah Setadewa, hasil perkawinan campur antara seorang Jawa dan Belanda, atau disebut totok. Anak kolong Magelang yang hobi berenang telanjang di selokan tangsi kebak tai. Sangat tidak sesuai dengan darah ningrat dari Papinya dan darah Indo dari Maminya.

 

Papiku loitenant keluaran Akademi Breda Holland. Jawa! DAN Keraton! … Soalnya, Papi suka hidup bebas model Eropa dan barangkali itulah sebabnya juga, ibu kandungku seorang nyonya yang, menurut babu-babu pengasuhku, totok Belanda Vaderland sana. …yang blak-blakan sering mengindoktrinasi, bahwa aku ini anak Jawa Inlander belaka. Sama seperti mereka.

 Teto menggambarkan Papinya sebagai pribadi yang ambivalen: ingin berada di dua tempat pada satu waktu yang bersamaan. Satu kakinya berada di Jawa dan Keraton, kaki yang lain berpijak pada ’hidup bebas model Eropa;’ menyangkal identitasnya sebagai orang Jawa dan bahkan Keraton dengan memilih belajar di Akademi Breda Holland. Mengidentifikasi diri dengan seorang Eropa, artinya menemukan tempat bagi hasratnya untuk menjadi berbeda dan sekaligus mengkonstruksi dan memberikan pembenaran bagi fanstasinya akan satu identitas. Ia menghasrati tempat Liyan, sang penjajah. Dengan menikahi seorang perempuan Belanda, Papi merasa setara dengan orang Belanda. Hubungan laki-laki berwarna (coloured men) dengan perempuan kulit putih (white women) biasanya melibatkan fantasi akan kesetaraan. Seperti Soekarno yang memacari seorang kulit putih dan Pram yang menyetubuhi gadis Belanda.

… Dan tegak dia di samping para perwira Belanda yang menjulang tinggi, menajwab salut dari pasukan-pasukan berkuda yang berparade membawa mirtrayir di bawah iringan lagu-lagu Mars fanfare peleton musik tentara. Sempurna dah! Asal anda jangan melihat wajah beliau. Benar-benar Jowu deh. … Jangan main-main. KNIL lagi!

 

White but not quite. KNIL dalam Bahasa Indonesia artinya Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Papinya adalah seorang letnan KNIL, tentu saja berpakaian layaknya seorang tentara Belanda. ”Berpakaian gala, jas tutup putih dengan kancing-kancing perak berukiran huruf W dan dua bintang perak di kerah. Bertopi model panci doyong beledu hitam berpelisir kencana serta berjambul bulu-bulu kasuari.” lengkap dengan pedangnya yang terbuat dari perak bertali kuning. Tidak lagi dapat dibedakan. Namun wajahnya tetap wajah seorang jawa. Di satu pihak membangun persamaan di pihak lain mempertahankan perbedaan.

Sedangkan Maminya yang konon Belanda, ia gambarkan justru menyukai hal-hal yang berbau klenik, kehidupan ningrat di keraton, dan berlaku bak putri keraton. Maminya menyukai saat ia disembah-sembah layaknya ratu. Maminya sangat paham tentang primbon-primbon Jawa. Hal ini membuatnya dianggap tidak sombong sebagai seorang nyonya Belanda, dan dianggap menghargai warisan nenek moyang. Teto justru mengambil sikap yang sangat berbeda. Ia tidak menjadi seperti Papinya yang ’sangat Eropa’ namun ia juga tidak menyukai hal-hal yang berbau Jawa, apalagi ningrat.

             Adalah Atik, Den Rara Puri Mangkunegaran, putri Bapak dan Ibu Antana. Anak emas dari Bogor ini hobinya membaca dan mengamati burung. Hobi ini menurun dari Ayahnya yang seorang ilmuwan. Ibunya seorang ningrat yang moderat, tidak menikahi pangeran atau kaum istana. Sehingga Atik tidak dididik dengan cara ningrat.

             Jepang datang. Belanda mengalami banyak kekalahan di negaranya sendiri. Di tahun 1940 Belanda sudah menyerah kepada Jerman. Kekalahan demi kekalahan membuat posisi Belanda di Hindia semakin lemah, dan memberi kesempatan bagi Jepang untuk semakin mengokohkan pengaruhnya di Hindia. Jepang datang pada mulanya sebagai pembeli (atau berpura-pura) yang bertransaksi dengan pemerintah Hindia Belanda. Di kemudian hari Jepang menuntut diberikan agar Belanda memberi ruang untuk pengaruh dan kehadirannya di wilayah Hindia Belanda. Namun Belanda menolaknya dan membekukan aset-aset Jepang di Hindia. Jepang mulai menyerang Malaya dan Thailand. Maka Belanda kemudian menyatakan perang dengan Jepang pada 8 Desember 1941.

            Kedatangan Jepang di Hindia sungguh mengacaukan kehidupan banyak orang. Terutama kehidupan Teto. Papinya ditahan selama beberapa bulan sebagai tawanan perang Jepang. Setelah dibebaskan mereka harus pindah rumah, keluar dari kompleks militer. Waktu itu Teto sudah bersekolah di SMT (Sekolah Menengah Tinggi) atau setingkat SMA sekarang di Semarang. Papinya tiba-tiba menghilang. Maminya mengungsi ke Solo. Beberapa bulan kemudian, Teto menemukan Maminya ada di Jakarta di rumah keluarga Antana, orang tua Atik. Teto dan Maminya kemudian memilih tinggal di Jakarta. Atas desakan Maminya, Teto masuk ke Sekolah Tinggi Kedokteran Daigakku sambil bekerja untuk menghidupi mereka berdua.

            Kepala Kenpetai yang bertanggung jawab atas nasib Papinya memberi ultimatum. Harus memilih satu di antara 2, Papinya dibunuh atau Maminya bersedia menjadi gundik Jepang. Maminya memilih yang kedua. Teto tidak mampu memahami tetapi ia menerimanya. Membuatnya semakin membenci Jepang. Mami adalah ibu yang melahirkan, membesarkan dan mendidiknya. Jepang telah memisahkannya dari Mami. Jepang telah membuat Belanda memutuskan pergi dari Hindia, mengaku kalah oleh Jepang.

Moment perpisahan dengan Maminya adalah moment yang sangat traumatis bagi Teto. Seketika itu menimbulkan lack dalam dirinya. Lack  atau ketidakpenuhan inilah yang kemudian menimbulkan desire atau hasrat untuk terus mencari, mencari dan mencari. Namun lack tidak akan pernah terpenuhi, sehingga pencarian akan terus dilakukan. Berpisah dengan Mami berarti Teto siap untuk masuk ke dalam wilayah simbolik artinya siap dibahasakan, menjadi subjek bahasa. Mau tidak mau Teto harus berpisah dengan Mami agar bisa bersosialisasi, agar mampu berbahasa, mampu berkomunikasi dengan orang lain.

O, Mamiku yang kasihan. Sungguh aku tidak pernah tahu, apakah aku harus merangkul menciummu dengan bangga, ataukah harus membunuhmu dengan benci.

Melemahnya kekuatan Belanda di Hindia akibat kedatangan Jepang dimanfaatkan oleh para pejuang anti-Belanda. Pejuang Aceh justru melakukan kontak dengan militer Jepang, yang dianggapnya sama musuh Belanda. Jepang datang sebagai ’saudara tua’ yang akan membebaskan Hindia dari penjajahan Belanda disambut gembira oleh banyak pihak. Namun dikemudian hari baru terbukti tidak demikian adanya.  

”Sejak itu aku bersumpah untuk mengikuti jejak Papi; menjadi KNIL, membebaskan negeri yang indah ini dengan rakyatnya yang bodoh, pengecut tetapi baik hati itu, segala orang di kolong jembatan dan mental-mental serba kampungan dari hasutan dan pengaruh jahat yang menyebut diri nasionalis, tetapi mendukung bandit-bandit yang membuat Mamiku menjadi gundik.”

Bagi Teto kaum nasionalis sama bersalahnya dengan Jepang dalam perpisahannya dengan Maminya. Ia membalikkan keadaan. Bahwa negeri ini dijajah memang iya, tetapi bukan oleh Belanda namun oleh Jepang. Maka Belanda dengan KNIL-nya lah yang akan membebaskan rakyat dari Jepang, dan hasutan kaum nasionalis yang mendukung Jepang. Teto kemudian memilih menjadi KNIL, mengambil posisi yang sebisa mungkin bertentangan dengan Jepang dan kaum nasionalis namun lebih ”dekat’ dengan Maminya.  

Pada saat yang hampir bersamaan dengan perginya Mami dari kehidupan Teto, Atik lulus ujian masuk SMT. Atik sedang mempersiapkan masa depannya. Pendidikan adalah modal utama untuk memperbaiki nasib. Kelulusan Atik dalam ujian masuk SMT menandai kemunculan bibit-bibit nasionalisme dan kaum nasionalis. Atik adalah nasionalis Jawa ningrat berpendidikan tinggi yang pada awal abad 20 menjadi peletak dasar nasionalisme yang di kemudian hari bernama Indonesia.

Bagian II (1945-1950)

Lima belas Agustus 1945 Jepang menyerah kalah kepada sekutu setelah dijatuhi 2 bom atom. Kesempatan ini digunakan oleh kaum nasionalis untuk menyatakan kemerdekaan satu negeri yang diberi nama Indonesia. Sebagai ”pemenang” Perang Dunia Kedua, Sekutu merasa ”berhak’ atas apa yang ditinggalkan oleh musuhnya, Jepang. NICA (Netherland Indies Civil Administration) atau Pemerintah Penguasa Hindia Belanda adalah bentukan Sekutu yang menerima penyerahan diri Jepang dan melucuti militer Jepang. Belanda dan sekutu masih menyebut wilayah ini dengan Hindia atau Indie atau East Indies. Namun Soekarno dan kaum nasionalis berani menyatakan diri bahwa negara yang kemerdekaannya mereka proklamasikan bukan benama Hindia atau Indies tetapi Indonesia.

Demikian halnya dengan Teto, kepergian Maminya membuat Teto berani membuat nama sendiri untuknya. Ia tidak lagi menggunakan nama pemberian kedua orang tuanya; Setodewo tetapi dipanggil Teto, yang menurutnya merupakan logika orang Jawa yang aneh. Nama itu ia tinggalkan karena menurutnya seperti nama anak kecil. Ia tidak lagi bersama Maminya, ia sudah dewasa sehingga tidak lagi nyaman menyandang nama Teto. Seta berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya putih, sedangkan dewa ya dewa. Nama itu tentunya lekat dengan identitas jawa, yang kini menjadi salah satu wilayah Republik.  Karena darah Belanda juga mengalir dalam tubuhnya, maka Teto mengganti namanya dengan nama yang lebih berkesan Eropa, nama yang lebih dekat dengan Maminya.

 

”Zo, zo….jadi kau anak dari Marice,” ia (Verbruggen) berkata agak bengong.

“Mari duduk….siapa? Yan, Piet, Karel? Atau Willem?”

”Leo” (Saya tidak mau menyebut nama Teto. Kok seperti anak kecil).

 Teto bergabung dengan NICA. Dengan Tegas Teto mengatakan bahwa ia bukan budak Belanda. NICA hanyalah alat baginya, sebagaimana Republik bagi kaum nasionalis. Teto menjadi KNIL, tentara bayaran Belanda yang membonceng NICA menyusul kekalahannya atas Jepang. NICA adalah bentukan sekutu pemerintahan bentukan sekutu. Teto bertemu dengan Mayoor Verbruggen, teman lama sekaligus rival Papinya dalam mendapatkan Marice, Mami Seto. Verbruggen kemudian menjadi teman baik Teto. Teto atau Leo memohon diperbolehkan masuk Tentara Kerajaan. Namun oleh Mayoor Verbruggen Leo ditawari untuk masuk KNIL saja, tentara sewaan Hindia Belanda, yang disebutnya sebagai gerombolan bandit VOC.

Walaupun sudah menjadi tetara KNIL, Leo atau Teto tidak berarti melupakan Atik. Ia masih selalu merindukannya. Beberapa kali ia kunjungi rumah di Kramat, namun sudah kosong. Leo tidak tahu di mana Atik dan keluarga Antana sekarang. Dalam surat yang ditinggalkannya di lubang kunci, Atik menulis bahwa ia sekarang bersama ayahnya bekerja di kantor perdana menteri RI. Ini semakin mempertegas posisi keduanya yang saling berseberangan. Atik berada di pihak musuh Leo. Namun Leo atau Teto tetap merindukannya.

… Sebab aku benar-benar bayi pada saat itu. Menangis memohon hidup. Memohon perempuan. Perempuan bukan dalam arti yang dinikmati, tetapi perempuan merupakan syarat mutlak agar aku hidup. … Aku butuh Atikku agar aku hidup terus. Tetapi gadis itu ada di pihak musuhku.

 Sejak Maminya ’hilang’ Teto kehilangan arah. Ketidakpenuhan yang diakibatkan oleh keterpisahannya dengan Mami masih tetap saja ada, walaupun Teto sudah berusaha memenuhinya. Teto terus saja mengunjungi rumah di Kramat itu. Di sana ia menemukan biara tempatnya mengasingkan diri, menemukan ”dunia yang baru untuk bertahan diri.” Dalam kunjungannya yang ke sekian kali, Teto akhirnya bertemu Atik di rumah itu.

 Atik jelas bukan adik. Ia praktis pengganti Mamiku. Di dalam pangkuan pengganti Mamiku itu aku menangis, tolol dan menjijikkan…. Kepada siapapun aku akan malu. Tetapi kepada Atik aku sanggup telanjang dan ditelanjangi.

 Atik adalah Ibu Pertiwi. Ibu pertiwi yang diperebutkan Belanda, Jepang dan kaum nasionalis. Ibu yang akan memberikan kehidupan baru bagi Teto. Atik adalah perempuan sumber kehidupan Teto. Teto tidak lagi bisa mendapatkan tetes kehidupan dari Maminya yang sudah dianggap meninggal baik oleh Verbruggen maupun Teto sendiri. Namun, kini Atik berada dalam cengkraman tangan kaum nasionalis, yang ia anggap sebagai musuh. Maka semakin menjadi saja kebencian Teto terhadap kaum nasionalis, ”yang merenggut satu-satunya harapan dan tumuan jiwaku ayng merana ini.”

Teto berada di antara Mami dan Atik. Tarik menarik gambar Mami dan Atik membuat Teto terombang-ambing. Lack akibat ditinggalkan Mami coba ia penuhi dengan Atik, namun tidak juga mampu mengisi ketidakpenuhan itu. Gambar tentang Mami dalam diri Teto tidak akan dapat diubah, menetap dan kuat. Teto tidak akan penah bisa lari dari Mami dan imaji tentangnya. Di lain pihak Atik menariknya dengan sangat kuat. Atik menawarkan kehidupan baru, dengan identitas baru yang tidak dibayang-bayangi Mami. Teto tidak mampu menjatuhkan pilihan satu di antara dua. Kepada Mami ia sudah tidak bisa, namun pergi ke Atik pun tidak memungkinkan.

Sembilan Belas Desember 1948, Belanda melancarkan serangan yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda. Serangan itu ditujukan ke Yogyakarta. Atik kebetulan sedang berkendaraan dengan Ayahnya. Di jalan, mobil yang mereka tumpangi diberondong peluru oleh sebuah pesawat terbang bermoncong merah. Ayahnya tidak terselamatnya. Atik kehilangan ayahnya.

Teto memimpin pasukan untuk menguasai Yogyakarta. Hanya dalam beberapa jam pasukannya mampu mengusai Istana dan ”Soekarno, Hatta Syahrir danorang tua Haji Salim dan siapa lagi ditawan.” Baginya ini adalah perang suci, namun kemenangan yang diraihnya tidak memberikan kepuasan namun justru kekecewaan. Bagaimanapun ini bukan kemenangan siapa-siapa, ini adalah kemenangan Kapitain Setadewa, dengan bayaran harus kehilangan Larasati. Belanda kembali menguasai tanah ini.

Maminya ternyata masih hidup, belum meninggal seperti yang ia percayai selama ini. Maminya berada di Rumah Sakit Jiwa di Magelang. Teto mengetahuinya dari Mayoor Verbruggen yang ia buntuti ketika mengunjungi maminya. Mayoor itu mengajak Teto menemuinya. Namun, jangankan memberikan pelukan pelepas rindu, Maminya tidak mengenali Teto lagi, Mayoor Verbruggen juga tidak. Mami tidak lagi bisa menghubungkan siapa dan apa. Yang keluar dari mulutnya hanyalah ”Ya, segala telah kuberikan. Segala telah kuberikan. Tetapi mereka mengingkari janji.” Ternyata Jepang telah membunuh Papinya setelah Mami memilih menjadi gundiknya.

 Bagian III (1968-1978)

Teto kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan doktornya di Harvard University. Teto kini bekerja di perusahaan bernama Pacific Oil Wells Company. Teto kembali ke Indonesia, kembali ke Yogyakarta. ”Untuk menyusuri kembali sejarah hidupku yang lampau penuh kepahitan, kekalahan, dan kesialan itu?” Teto mengunjungi makam Papi dan Maminya.  Teto tidak hanya mengunjungi Yogyakarta yang dulu pernah ditaklukkannya bersama pasukannya, namun Teto juga mengunjungi Magelang. Menyusuri jalan sepanjang kali manggis, selokan tempatnya berenang telanjang, sampai di Juranggede, di mana Atik dan Ibunya pernah mengungsi semasa revolusi dulu. Perjalanan kembali ke ’masa lalu’, mengunjungi situs-situs traumatis adalah upaya Teto untuk menegosiasikan ingatan-ingatan pahitnya agar menjadi lebih familiar dan mudah dipahami.

 

Kepustakaan

Amal, Nukila, Cala Ibi, Cetakan Pertama, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004

Childs, Peter, & Williams, R.J. Patrick, An Introduction to Post-Colonial Theory, Prentice Hall, London 1997

Fink, Bruce, The Lacanian Subject, Between Language and Jouissance, Princeton University Press, New Jersey, 1997

Gandhi, Leela, Postcolonial Theory, A Critical Introduction, Allen & Unwin, New South Wales, 1998

Jurnal Kebudayaan Kalam no 11, Sastra dan Representasi

Jurnal Kebudayaan Kalam no 14, Pascakolonialisme dan Sastra

 Mangunwijaya, Y.B., Burung-Burung Manyar, Cetakan kelima belas, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2007

 www.gimonca.com  diakses 27 November 2008

 

 

 

 

 


About this entry