Review Kuliah Hari ini : Status Ontologis Etnografi Media (judul dariku :D)

Hari pertama kuliah Etnografi Media membahas tentang status ontologis etnografi media di hadapan media studies khususnya dan ilmu komunikasi pada umumnya. Poin pentingnya adalah bahwa media studies dan ilmu komunikasi memandang relasi antara audiens dengan media bisa dibilang bersifat linier kata Nico Warrauw. Pemaknaan audiens terhadap media ya berdasarkan pada satu relasi itu saja, tanpa melihat faktor lain di luar itu. Etnografi Media melihat relasi itu tidak terjadi dalam ruang kosong, tetapi dalam ruang social-budaya tertentu. Mengutip Raymond Williams (bukunya apa ya?) bahwa sebenarnya relasi audiens dengan media adalah hanya salah satu dari sekian banyak “cultural practice” individu dan bukan satu-satunya. Artinya bahwa pemaknaan audiens terhadap media (content dan program dan bentuk fisiknya) tidak hanya berdasarkan pada satu relasi saja namun ditentukan dan dipengaruhi juga oleh relasi individu dengan faktor lain, dengan kata lain oleh “cultural practice” yang lain.

Yang menarik dari kuliah hari ini adalah bahwa pendekatan ini bisa menunjukkan kritik utama terhadap studi efek dalam tradisi ilmu komunikasi. Selama ini ilmu komunikasi, khususnya media studies dan khususnya studi efek selalu saja memusatkan perhatian kepada media (terutama content). Dah percaya bahwa content dan program media memiliki efek yang sangat besar terhadap audiensnya. Terlepas dari konteks sosial dan kultural audiens. Maka pertanyaanya tidak lagi ‘efek apa yang ditimbulkan oleh program X terhadap anak-anak, atau pelajar atau siapa?’, namun menjadi ‘Under What Condition efek ini bisa muncul?” (istilah Under What Condition kupinjam dari bang Oji (Noer Fauzi tanpa ijin :D)

Kemudian poin penting lainnya adalah bahwa etnografi media tidak hanya memusatkan perhtian pada content, program dan institusi media namun melihat media tidak lebih sebagai barang, komoditas, alat, dan instrument. Artinya tidak menempatkan media sebagai fokus utamanya namun menempatkan media pada posisi sekunder. So, etnografi media lebih berpusat pada konteks sosial-budaya relasi antara audiens dengan media.

Ternyata buku Mrazek The Engineer of Happy Land adalah salah satu contoh etnografi media (menyesal aku belum menyelesaikan buku ini). Mrazek menulis tentang fungsi radio dalam masyarakat kolonial (Indonesia). Ternyata cara masayarakat kolonial mengkonsumsi dan menggunakan media (radio) seperti halnya mereka berhubungan dengan (master) pemerintah kolonial. Mereka tidak akan mendengarkan radio dengan baju seadanya, mereka mendengarkan radio seperti layaknya akan bertemu dengan pemerintah (ini cerita Nico Warrouw). Menurutku kata kuncinya ada beberapa, pertama kompleksitas relasi audiens dengan media, konteks social dan budaya audiens dalam menggunakan media (media use) dan mengonsumsi media (media consumption). Kupikir aku harus menyelesaikan Mrazek, dan terutama membaca buku The Handbook of Ethnography yang sangat tebal itu.

Selain Mrazek, Nico juga memberikan beberapa contoh penelitian Etnografi Media oleh beberapa orang yang lain. Subjek kajiannya tetap media (modern), ada yang bioskop ada pula televisi. Contoh-contoh ini melihat bagaimana kelompok masyarakat menggunakan dan menkonsumsi media. Kelompok masyarakat yang menjadi subjek dalam contoh itu adalah orang Tonga, Papua New Guinea dan Nigeria (Other dalam antropologi????). Melihat artikel yang dijadikannya contoh, menurutku sangat antropologis dan bukan cultural studies (sic). Namun karena kuliah ini baru berjalan satu kali, maka aku tidak perlu terlalu mencurigai (semangat cultural studies :D).

Hal yang tidak kusetujui (walau tidak kuungkapkan) adalah sayangnya etnografi media (dalam Prodi ini) hanya mengaji media modern (kecuali surat kabar) dan tidak memasukkan media (yang dianggap) tradisional, seperti sabung ayam, gandrung banyumasan, ketoprak dll. Mungkin Kajian Budaya dan Media inisebenarnya adalah cultural studies tentang media, ada semangat cultural studies dalam mengaji media (modern) tapi bukan cultural studies (dan) media studies. Porsi media studies-nya lebih besar daripada porsi cultural studies. Entah benar entah tidak tapi kalau begini Kajian Budaya dan Media ini tidak jauh berbeda atau bahkan mungkin sama dengan antropologi media. Agak sinis mungkin, tapi melihat dosen yang mengajar di prodi ini didominasi oleh dosen antro dan media studies dan bukannya dosen cultural studies. Antropologi dan cultural studies sama-sama mengaji kebudayaan, tapi antropologi adalah study about culture bukan cultural studies.


About this entry